Pertumbuhan Industri di Sumatera Utara Berbanding Terbalik dengan Pasokan Listrik

KBR68H, Jakarta - Tidak diketahui kapan tepatnya Provinsi Sumatera Utara mulai mengalami krisis listrik. Yang pasti, bulan lalu warga mulai dongkol kepada PLN lantaran listrik di rumah mereka padam.

BERITA

Kamis, 24 Okt 2013 12:00 WIB

Author

Nur Azizah

Pertumbuhan Industri di Sumatera Utara Berbanding Terbalik dengan Pasokan Listrik

pasokan listrik, industri, sumatera utara

KBR68H, Jakarta - Tidak diketahui kapan tepatnya Provinsi Sumatera Utara mulai mengalami krisis listrik. Yang pasti, bulan lalu warga mulai dongkol kepada PLN lantaran listrik di rumah mereka padam. Beragam kalangan pun menggelar aksi, mulai dari masyarakat, buruh, hingga pengusaha. Ada apa dengan pasokan listrik di propinsi Sumatera Utara?

Pengamat kelistrikan dari Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menyatakan hampir seluruh daerah di Indonesia mengalami krisis listrik. Sebut saja Riau, Sebagian Sulawesi, Kalimantan Selatan, Bangka Belitung, Mahakam, Papua, dan Nusa Tenggara.

“Ini bukan muncul sekarang, tapi sudah sejak masa habis krismon -1996- sekira awal tahun 2000 sudah mulai krisis. Sampai sangat parah sehingga diantisipasi pemerintah dengan membuat kebijakan class program. Tapi dampak dari kebijakan itu tidak sepenuhnya menjadi solusi. Ini diduga yang menjadi penyebab krisis listrik sekarang,” ungkap Fabby dalam program perbincangan Daerah Bicara KBR68H, Rabu (23/10).

Pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara memang terus menggeliat. Ini ditunjukkan dengan menjamurnya industri di sejumlah daerah di sana. Kondisi seperti ini tentu membutuhkan ketersediaan pasokan listrik berlimpah. Sayangnya, tingginya pertumbuhan industri di sana justru berbalik dengan jumlah pasokan listrik. Kebutuhan konsumsi listrik kini meningkat hingga 11 persen dengan beban puncaknya 14 persen.

“Apalagi sejak perpindahan bandara di Kuala Namu mengakibatkan banyak industri yang membutuhkan banyak listrik. Ini tidak dibarengi dengan pembangunan pembangkit listrik,” terang Manager bidang Perencanaan PLN Wilayah Sumatera Utara Heri Priambodo.
 
Heri mengaku pembangunan pembangkit di Sumatera Utara terhambat perizinan. Sebut saja  pembangunan PLTU di Pangkalan Susu yang berkapasitas 2 x 240 MW. Padahal sejatinya pembangkit yang sudah direncanakan sejak 10 tahun lalu itu mulai bisa dioperasikan pada tahun 2012 lalu. Termasuk, kata Heri, pembangunan tapak tower yang juga terkendala. “Masyarakat tidak mau menerima ganti rugi yang dilakukan PLN. Padahal PLN menentukan ganti rugi berdasarkan tim 9.”

Pembangkit listrik lain yang juga terhambat adalah PLTP Sarulla di Tapanuli Utara. Pembangkit yang sudah didesain sejak 15 tahun lalu itu berkapasitas 700 Megawatt. Belum lagi Pembangkit Asahan III.

“Semuanya terkendala perizinan dan pembebasan lahan,” ujar Heri.
PLN Wilayah Sumatera Utara terus mengembangkan energi baru terbarukan. Salah satunya adalah PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) berkapasitas 880 Mega. “50 persen sudah proses kontrak jual beli pengembang dengan PLN, tinggal proses di pengembang untuk membangun itu,” terang Heri. Selain itu, imbuhnya, PLN juga sudah membeli biogas kelapa sawit dari sejumlah perusahaan.

“Di sini kebun sawit sekitar 1,3 juta Ha. Total yang dijual ada 40 Mega itu pembangkit dari limbah kelapa sawit dari cangkang. Limbah cairnya juga sudah dikembangkan menjadi biogas. Itu sudah berjalan. Yang mau beroperasi 1,2 mega dari Biogas, dan hampir 2 mega. 3 Mega dari Biogas.”katanya.

Potensi lain yang sangat sederhana adalah mulai mengubah kebiasaan masyarakat untuk menghemat listrik. PLN Sumatera Utara bahkan telah mensosialisasikan perubahan perilaku ini mulai dari sekolah hingga menyasar perusahaan untuk menjual kelebihan listriknya kepada PLN.

“Ada 2,8 juta pelanggan di Sumut kalau ini bisa dilakukan akan menekan banyak kebutuhan listrik di sini,” kata Heri. 
Krisis listrik akibat kekurangan pasokan sudah menjadi fenomena hampir di semua daerah. Termasuk tingginya pertumbuhan ekonomi yang tidak diikuti pembangunan pembangkit listrik.
 
Menurut Fabby ini karena masyarakat Indonesia masih pada tahap pertumbuhan listrik. “Konsumsinya belum stabil. Rata rata konsumsi listrik per kapita 700 kw/hour/ tahun/ per kapita. Kita bandingkan dnegan Thailand sudah hampir 3000 per kapita, Malaysia, Singapur juga,” jelas Fabby.

Menurut Fabby, bertambahnya populasi di Indonesia sejalan dengan bertambahnya e-kelompok menengah baru yang tentunya memiliki daya beli tinggi. Mereka tidak puas dengan listrik 45 Volt atau 900 V.
“Proyeksi tenaga listrik memang harus mengikuti dinamika populasi dan pertumbuhan ekonomi tadi. Harus diantisipasi dengan mulai berkampanye hemat energi. Karena jika bisa mengendalikan listrik, setiap tahun bisa menekan kebutuhan penambahan pembangkit baru,” ungkap Fabby.

Ayo, kita mulai menghemat listrik dengan mematikan lampu dan peralatan listrik yang sudah tidak digunakan. Sentuhan jari Anda, besar manfaatnya bagi keberlanjutan “penerangan” di rumah Anda.
Bagi Masyarakat di Sumatera Utara, PLN berjanji pertengahan Desember pemadaman listrik di sana sudah tidak akan lagi terjadi.
 
Editor: Doddy Rosadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

KPK Serukan Penerapan Sertifikasi Sistem Manajemen Antisuap