Mama Aleta: Bumi adalah Ibu yang Memberikan Kehidupan kepada Makhluk Hidup

KBR68H, Jakarta - Perempuan sekaligus Pahlawan Suku Molo di Nusa Tenggara Timur Aleta Baun terus berjuang bersama masyarakat adat menyelamatkan air hutan dan gunung.

BERITA

Senin, 21 Okt 2013 08:29 WIB

Author

Irvan Imamsyah

Mama Aleta: Bumi adalah Ibu yang Memberikan Kehidupan kepada Makhluk Hidup

mama aleta, bumi, kehidupan

KBR68H, Jakarta - Perempuan sekaligus Pahlawan Suku Molo di Nusa Tenggara Timur Aleta Baun terus berjuang bersama masyarakat adat menyelamatkan air hutan dan gunung. Beberapa waktu lalu Aleta menerima  Goldman Environmental Prize 2013 di California, Amerika Serikat, sebuah penghargaan tahunan paling bergengsi untuk  aktivis lingkungan di tingkat akar rumput.

Aleta bercerita tentang perjuangan dan rencananya kepada  Reporter Imamsyah dalam program Sarapan Bersama KBR68H, Tempo TV dan PortalKBR.

Anda akhirnya mendapat penghargaan Goldman di Amerika Serikat. Bagaimana memaknai apa yang sudah anda lakukan selama ini?

Saya sendiri yang pergi terima di Amerika. Tetapi itu penghargaan bukan untuk saya sendiri tapi untuk seluruh masyarakat yang ada di Indonesia. Bahwa masyarakat adat yang ada di seluruh Indonesia menjaga sumber daya alam, kekayaan alam dengan baik maka Indonesia sebenarnya tidak mengalami banyak bencana dan banyak tantangan. Karena itu penghargaan yang saya terima adalah sebenarnya itu Amerika mengingatkan kepada Indonesia, bahwa Indonesia dalam kekhawatiran yang besar bahwa akan ada banyak bencana kalau kita campur tangan dengan Tuhan untuk mengurus ciptaan-ciptaan Tuhan.
 
Terkait dengan apa yang sudah diupayakan sebetulnya kondisi di Molo seberapa memprihatinkan waktu itu?

Jadi waktu itu kita tahu bersama bahwa kalau tambang masuk ke suatu daerah berarti yang pertama dia harus tebas dulu, penebasan hutan atau pembersihan hutan. Kedua adalah dia mulai eksploitasi, dia potong batu kalau tidak dapat batu yang baik maka dia menggali tanah lagi untuk bisa mendapat sampai ke bawah. Ini sebenarnya ada banyak kehilangan, misalnya ketika dia potong batu ada banyak sumber kekayaan alam yang hilang seperti air. Karena batu itu tidak batu kosong tapi berupa gunung batu yang punya pori-pori, di atas gunung batu itu tumbuh pohon. Jadi ketika air hujan datang maka dia menetes di daun kayu, maka daun kayu akan bawa ke batang, batang bawa ke akar dan akar akan memasukan lewat pori-pori batu, di bawah batu keluarlah sumber mata air yang bisa mensuplai orang-orang yang tinggal di sepanjang sungai. Kita tahu bersama bahwa ketika orang melakukan kegiatan pertambangan dia punya uang banyak dan pasti dia ingin untuk menang. Sedangkan kami sebagai masyarakat adat kami tidak memiliki uang, kami tidak memiliki apa-apa, dan yang kami miliki adalah bahwa kami sangat akrab dengan alam, kami punya ritual, kami punya kedekatan dengan alam. Yang kami miliki adalah keberanian kami untuk mengatakan bahwa ini hak kami, bahwa ini milik kami. Jadi kami tidak mau merusak karena tidak ada manusia tanpa air, semua tumbuhan, semua margasatwa yang ada di atas permukaan bumi itu membutuhkan air. Ketika kalau misalnya tambang masuk dan menghilangkan air sama dengan membunuh kami sebagai manusia.

Lalu respon para pengusaha tambang itu bagaimana terhadap penentangan anda?

Sebagai perusahaan merasa rugi karena mereka sudah banyak keluarkan uang untuk menambang. Sebagai perusahaan juga mengatakan bahwa mereka mendapat izin dari negara. Tetapi sebagai masyarakat kami merasa bahwa tidak ada izin yang kami menyerahkan murni kepada siapapun untuk melakukan sesuatu di atas tanah dimana kami tinggal. Ini sebenarnya mulai muncul ada pertikaian antara masyarakat dengan masyarakat, ada yang pro tambang karena dia ingin uang. Sedangkan yang  tidak pro tambang itu karena dia tidak suka uang tapi dia suka kekayaan alam sehingga dia bisa bertani.
 
Masyarakat diadu domba?

Iya masyarakat diadu domba sehingga ada mereka masuk dan mendekatkan diri dengan masyarakat yang lain, contohnya mereka kasih uang Rp 50 ribu sebagai langkah awal. Sebenarnya masyarakat adat yang ada di Timor mereka kasih simbol bahwa bumi dilambangkan sebagai tubuh manusia seperti rambut dilambangkan sebagai hutan, tanah dilambangkan sebagai daging daripada manusia, air dilambangkan sebagai darah, sedangkan batu dilambangkan sebagai tulang. Jadi ketika salah satu hilang maka lumpuh bumi ini sehingga dia tidak bisa tegak sebagai manusia yang utuh.
 
Bagaimana anda meyakinkan kepada warga yang berharap uang dari tambang untuk bisa ikut masuk barisan anda? 
       
Jadi selama ini dengan sudah mulai ada perubahan iklim dan masyarakat tidak bisa membaca musim dengan baik saya menyampaikan, bahwa ketika manusia mencampur urusan ciptaan Tuhan dengan manusia maka alam tidak bersahabat dengan manusia. Penyampaian ini disampaikan bahwa ada batu nama, kayu nama, air nama. Kedua saya sampaikan kepada masyarakat bahwa bumi ini dilambangkan sebagai tubuh manusia dan bumi adalah ibu yang sebenarnya memberi kehidupan kepada makhluk yang hidup.

Akhirnya mereka menerima atau tetap menentang?

Pada akhirnya ada yang menerima tetapi ada yang belum menerima. Karena ada yang suka terhadap uang sehingga kadang-kadang ada yang urusan izin kita boleh jual mangan, jual kekayaan alam. Tetapi satu statement yang diambil masyarakat yang tidak setuju dengan pertambangan adalah bahwa kami jual apa yang kami bisa buat dan kami tidak bisa jual apa yang kami tidak bisa buat. Itu statement yang sebenarnya diambil sebagai perlawanan bahwa kita manusia boleh jual kain tenun, kita boleh jual jeruk karena itu bisa kita produksi. Tetapi kita tidak bisa jual tanah, air, hutan, batu karena kita tidak bisa menciptakan itu.

Akhirnya mereka bisa menerima?

Iya akhirnya masyarakat sekarang menerima dan mereka selalu menjaga lingkungan dengan baik untuk kehidupan mereka ke depan dan untuk kami.

Tetapi mungkin ada yang khawatir kalau ikut dengan cara anda penghasilannya sedikit, bagaimana meyakinkan mereka bahwa kita tetap bisa hidup hanya dengan memanfaatkan apa yang bisa dimanfaatkan lewat kreativitas?


Saya selalu bilang pada masyarakat bahwa siapa yang tidak butuh uang di dunia ini, semua orang butuh uang. Tetapi uang bukan satu-satunya yang harus kita taruh ke depan sebagai kebutuhan utama. Tetapi yang kita butuh utama adalah tanah, air, batu, hutan itu sebagai kebutuhan utama. Maka keempat faktor ini dijaga dengan baik maka uang akan datang, siapapun juga yang mencari uang ada di empat faktor itu bagaimana cara kita mengelola, melakukan kegiatan sehingga kita mendapat hasil pertanian yang cukup untuk bisa kita jual dan temukan uang. Uang adalah pelengkap, uang bukan satu-satunya kebutuhan kita, kita semua butuh uang tapi bukan satu-satunya.

Lalu agenda ke depan apa?

Jadi agenda yang kami lakukan adalah lokasi-lokasi pertambangan itu kita lakukan konservasi dengan tanaman produksi misalnya jeruk, kemiri, pisang, dan juga tanaman-tanaman yang cukup melindungi sumber air. Kedua kita lakukan lumbung pangan, kita buat di tiap-tiap kelompok yang kita organisir. Maksudnya untuk mempersiapkan masyarakat kembali menghadapi perubahan iklim itu ada pangan tersedia di tiap wilayah. Ketiga kita kembali melestarikan margasatwa, karena penanam utama di dunia sebenarnya margasatwa. Jadi ketika banyak burung di bawah dan dijual ke kota, dikurung di dalam keranjang ini sebenarnya ada pemusnahan yang paling terbesar.

Keluarga bagaimana dengan berbagai upaya ini anda sering keluar?

Jadi sebagai seorang ibu sebenarnya ini banyak tantangan. Tantangan ini adalah bagaimana selalu kalau ada liburan atau waktu luang saya mengajak suami dan anak-anak ke tempat saya berjuang, menunjukkan kepada mereka dan anak-anak sudah sedikit paham tentang apa yang saya lakukan. Mereka selalu bilang kalau kita tinggal dekat hutan lebih enak, kita bisa belajar tentang tumbuh-tumbuhan. Jadi anak-anak itu dibawa dan diperkenalkan pekerjaan yang saya lakukan dan saya juga bawa kepada masyarakat dimana saya mengorganisir. Sedangkan kalau saya misalnya keluar-keluar yang terima masyarakat datang ke rumah adalah suami, suami yang menjelaskan kepada mereka. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pilkada Serentak Diwarnai Calon Tunggal