covid-19

Ilham Habibie: Saya Tidak Mau Dapat Banyak Uang dengan Kerja di Luar Negeri

KBR68H, Jakarta - Ilham Habibie melanjutkan mimpinya yang terpenggal untuk membangun industri pesawat. Ia membangun PT Ragio Aviasi Industri yang akan memproduksi peswaat R80.

BERITA

Senin, 28 Okt 2013 08:48 WIB

Author

Doddy Rosadi

Ilham Habibie: Saya Tidak Mau Dapat Banyak Uang dengan Kerja di Luar Negeri

ilham habibie, pesawat R80, industri dirgantara, bisnis

KBR68H, Jakarta - Ilham Habibie melanjutkan mimpinya yang terpenggal untuk membangun industri pesawat. Ia  membangun PT Ragio Aviasi Industri yang akan memproduksi peswaat R80. Pesawat ini lahir dari perpaduan bisnis dan idealisme.  Kita simak Sarapan Pagi bersamaIlham Habibie dipandu Doddy Rosadi persembahan  KBR68H, Portal KBR dan TempoTV.

Apa yang membuat anda memutuskan untuk kembali masuk ke dalam industri dirgantara setelah anda meninggalkan PT Dirgantara Indonesia pada tahun 2002? anda sepertinya sempat kecewa sekali ketika meninggalkan PT Dirgantara Indonesia ya?

Iya saya meninggalkan PT DI itu bukan karena kemauan saya sendiri saja. Maksudnya kalau saya ada pilihan saya pasti akan terus di PT DI namun tahun 2001 ada semacam perselisihan antara beberapa kubu atau kelompok dalam perusahaan dan saya lihat bahwa perusahaan waktu itu akan sangat stagnan untuk beberapa tahun ke depan. Saya waktu itu masih muda dan saya pikir kalau saya di sini  tidak maju-maju sayang juga dengan waktunya, sehingga saya memutuskan dengan berat hati bahwa saya harus meninggalkan perusahaan. Jadi kenapa saya kembali ya mungkin menyambung dengan apa yang sudah saya katakan memang itu bidang saya dan saya sangat percaya bahwa itu sangat krusial buat masa depan Indonesia, khususnya dari segi infrastruktur tapi juga dari segi teknologi, industri, pendidikan, dan sebagainya. Kalau misalnya hanya menekankan kereta api saja atau mobil itu parsial, tidak bisa seluruh negara.

Perusahaan PT Regio Aviasi Industri ini apakah merupakan upaya anda melanjutkan mimpi mewujudkan N-250?


Kita sebetulnya tidak melanjutkan langsung. Banyak sekali hal yang berubah, teknologinya berubah, bisnisnya juga berubah. Jadi pesawat yang kita buat untuk pasar di masa mendatang, itu adalah pesawat terbang yang lebih besar dari N-250. Kita mulai dengan penumpangnya 80, kemudian kemungkinan besar kita buat lebih panjang minimal 100 penumpang. Jadi itu dibandingkan dengan N-250 yang memang dulu kemudian dibuat lebih panjang menjadi 68 itu beda, banyak konsekuensi misalnya mesin berbeda, alat untuk mendarat kakinya berbeda karena lebih berat. Itulah yang menyebabkan semangatnya, keperluannya, visi ke depan untuk negara kita itu yang kita teruskan tapi bukan N-250 itu masa lampau, tapi kita meneruskan dalam bentuk proyek baru yang namanya R-80, R itu sesuai dengan nama perusahaan yaitu PT Regio Aviasi Industri, 80 itu jumlah penumpangnya.

Ketika anda mendirikan PT Regio Aviasi Industri ini sempat konsultasi dengan ayah anda?

Jelas saya itu banyak sekali hal saya konsultasi dengan bapak saya bukan saja mengenai pesawat tapi mengenai hidup, banyak sekali. Tapi khusus mengenai pesawat saya tentunya melakukan itu dengan sepenuhnya koordinasi dengan bapak, bahkan bapak menjadi komisaris utama dari perusahaan ini. Saat ini yang kita sedang lakukan kita membentuk yang namanya Airlines Working Group, kita kerjasama dengan 6-7 airlines terpilih di Indonesia yang kemungkinan besar semuanya insyaAllah akan terbang R-80. Satu dari tujuh itu sudah pesan, yaitu anak perusahaan Sriwijaya, mereka sudah pesan 50 unit R-80 dengan opsi tambah 30 lagi jadi sudah ada 80. Tentunya pada fase ini belum merupakan satu kontrak penjualan dengan semua hal disepakati, karena definisinya belum baku jadi bagaimana kita bisa sudah menandatangani kontrak yang benar-benar rinci tidak mungkin karena memang belum waktunya. Tapi yang saya lihat animo dari airlines Indonesia mengenai suatu produk yang berasal dari Indonesia itu sangat besar. Pertama membuat mereka bangga, kedua dari konsiderasi pragmatis mereka beroperasi di Indonesia. Tentu suara mereka jauh terdengar kalau produsennya juga dari Indonesia daripada dia harus beli dari luar negeri, apalagi dari jauh-jauh. Saat ini pilihannya untuk pesawat serupa hanya dua, dari Kanada dan dari Perancis-Italia yaitu ATR-72 berpenumpang 70. Jadi beda posisi mereka, mereka jauh lebih terdengar bahkan mereka dilibatkan dari awal. Jadi keluhan mereka mengenai produk-produk lainnya, bagaimana mereka lihat bisnis mereka ke depan semuanya bisa kita perhatikan dari awal sehingga mudah-mudahan produk kita cocok buat mereka. Tapi kita membuat produk ini bukan saja untuk pasar dalam negeri melainkan juga akan kita pasarkan produk R-80 ini kemana saja yang punya spesifikasi serupa seperti Indonesia. Saya kira itu terjadi otomatis karena Indonesia adalah negara berkembang dimana situasinya berbeda dengan misalnya kalau kita menjual di Amerika atau Eropa.

Lalu bagaimana menghadapi persaingan dengan perusahaan-perusahaan yang terlebih dahulu membuat pesawat berpenumpang 80?

Kita hadapi dengan membuat produk yang lebih kompetitif. Seperti kita hadapi persaingan di bidang apapun di level yang sama ya atau lebih bahkan. Saya kira kita lebih karena kita memakai teknologi lebih baru, mereka buat pesawat katakanlah 20-30 tahun yang lampau. Jadi masih banyak teknologi yang mereka pakai tidak semua mereka upgrade karena tidak bisa, produknya sudah terbentuk dan kadang-kadang dia pikir buat apa di-upgrade toh masih bisa dijual, kalau dia invest lagi dia mungkin belum tentu bisa. Kedua kita juga membuat produk lebih kompetitif, bisa bersaing untuk pelanggan-pelanggan di negara-negara seperti Indonesia itu mereka tidak.  Mereka karena asalnya dari Amerika Utara dan Eropa mereka fokus pada customer di wilayah mereka dan keperluan mengenai customer itu sangat berbeda.

Dengan kata lain R-80 ini punya kualitas yang hampir sama dengan buatan negara lain tapi harganya bersaing?

Soal harga ternyata setelah kita pelajari harga itu sama sekali tidak segalanya. Harga pesawat itu financial cost kebanyakan pesawat airlines dia tidak beli cash, dia beli dengan leasing company. Jadi dia punya overhead terhadap menerbangkan pesawat tersebut disebut sebagai financial cost, dia punya bulanan cicilan terhadap leasing company itu. Itu kurang lebih hanya 10-15 persen jadi tidak dominan, mereka katakan tidak peduli pesawat itu mau mahal sedikit tidak apa-apa yang penting efisien dalam segi pengoperasian.  Karena bayangkan 50 persen harga minyak naik itu pasti akan naik, efisien pesawat terbang jauh lebih penting daripada harga.

Efisien dalam hal ini apa?

Bahan bakar.

Perbandingan R-80 dengan pesawat buatan ATR ini bagaimana untuk bahan bakar?

Kita belum selesai desain tapi targetnya 20 persen lebih irit.

Pengerjaan R-80 ini apakah di luar untuk desain lalu rancangan di Indonesia atau bagaimana?   
 
Di Indonesia jelas tapi dalam hal ini kita sudah mulai kerjasama dengan PT DI. Banyak orang salah mengerti mengenai pesawat ini, dipikir mau buat pabrik baru di Batam itu salah. Kita kalau selesai akan subkontrak kepada PT DI, karena PT DI punya kapasitas yang sebagian tidak dipakai dengan optimal. Jadi dengan kata lain fasilitas yang sudah ada kita gunakan sehingga PT DI punya produk yang mereka bisa kerjakan, mereka bisa buat sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki dan sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki. Saat ini belum terjadi karena memang dia buat pesawat, banyak orang bilang PT DI sudah mati, mereka masih produksi tapi tidak cukup sesuai dengan kemampuan dan keadaan fasilitasnya.

Kapan kira-kira R-80 selesai diproduksi?
 
Kalau targetnya saat ini masih 2018 selesai diserahkan kepada pelanggan. Kalau penerbangan perdana mudah-mudahan terjadi pada tahun 2016.

Proyek PT Regio Aviasi Industri ini sebenarnya proyek pure bisnis atau idealisme?

Dua-duanya. Saya tidak akan buat proyek kalau tidak bisnis, saya businessman buat apa saya buang uang. Karena kebetulan semuanya ada di kita, kita punya pasar, kita punya teknologi, kita punya orang. Jangan lupa kalau kita ngomong sesuatu harus diimplementasi, untuk itu perlu orang. Kalau saya misalnya mulai nol, Indonesia belum investasi orangnya ya susah karena kita harus investasi orang. Mereka semuanya seperti ada yang tidak digunakan sebagaimana mestinya itu yang paling penting. Kemudian fasilitas sudah ada kebetulan, memang belum 100 persen lengkap tapi pada prinsipnya ada cuma tidak digunakan dengan optimal. Maka itu kita ada kolaborasi dengan PT DI juga karena mereka sudah punya fasilitas.

Menurut pandangan anda sendiri apakah Indonesia kedepannya bisa menjadi sebuah negara yang sukses dalam industri dirgantara?


Sangat, saya harapkan Indonesia menjadi salah satu pimpinan dunia di industri dirgantara.

Kapan kira-kira itu terlaksana?

40-50 tahun. Saya lihat perbandingannya, Eropa dia mulai dengan pesawat terbang Airbus 1960-an kapan dia lihat jayanya mungkin tahun 1980-1990 dan itu gabungan dari beberapa negara. Tapi memang jauh lebih kompleks dan itu Eropa yang sudah punya lingkungan dan ekosistem yang berkembang. Jadi dia perlu katakanlah 20  tahun, kita berapa? tapi memang ada juga fakta-fakta yang mempercepat itu ya misalnya teknologi saat ini kita bisa dapat dari internet itu lebih cepat, pokoknya ada faktor percepatan karena memang teknologi saat ini lebih unggul dibanding sebelumnya.

Untuk PT Regio Aviasi Industri ini apakah tetap private atau ada kemungkinan go public?

Saya tidak menutup kemungkinan untuk go public.
 
Kalau tiba-tiba datang tawaran dari Boeing atau Airbus mengajak anda untuk kerja di sana, anda pilih mana?

Jelas saya tolak.

Kenapa?

Buat apa kerja di luar negeri, saya mau kerja di Indonesia. Saya punya kepentingan secara idealis, kalau saya mau cari uang sebanyak mungkin saya tidak kerja di Indonesia, bisa juga saya berkarir dimana saja. Tapi saya tidak mau itu saja, tentu setiap orang ingin sukses dalam bisnis tapi saya punya semangat dan itu yang ditanamkan orang tua saya. Jadi saya mau meneruskan semangat itu dan saya melihat punya masa depan di Indonesia karena saya mau ikut membangun negara dan bangsa.

Dengan kesibukan anda saat ini masih ada waktu untuk ikut ICMI?
 
Iya jelas tapi saya bukan ketua ICMI lagi, karena dalam ICMI kita punya sistem presidium jadi lima orang dipilih untuk 5 tahun.

Untuk menghilangkan stres ketika anda bekerja biasanya apa yang anda lakukan?

Saya punya beberapa hobi, saya orang yang suka olahraga. Saya setiap hari renang, mungkin itu sesuatu yang saya dapat dari bapak. Jadi saya setiap hari sebelum kerja saya renang, dua kali seminggu main tenis, saya suka baca, saya suka masak, main piano tapi kurang sering tapi kalau masak dalam seminggu pasti dua kali. 


Sempat menyaksikan Habibie dan Ainun di bioskop?


Lebih dari sepuluh kali. Karena sering diajak nobar dengan teman-teman, organisasi-organisasi dan tiap kali saya nonton Habibie dan Ainun setiap kali saya menangis. 


Adegan mana yang paling menyentuh?


Menurut saya banyak orang tidak mengerti. Kalau kita nonton filmnya pada terakhir itu ada suatu ketika ada dimana peralihan dari film ke satu dokumentasi, ketika itu ada orang yang bicara saya terharu tidak bisa tahan. Jadi tidak banyak orang tahu yang bicara itu bapak saya, itu suara asli bapak saya. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Ramai Cukai Rokok Mau Naik, Apa Kata Pakar dan DPR?