Pulang Kampung, Mahasiswa Papua Takut Lihat Konvoi Militer

"Konvoi-konvoi militer di Papua ini sedang berlangsung terus. Pos-pos militer berdekatan. Hal-hal ini kan membunuh psikologi mahasiswa dan masyarakat Papua ini."

BERITA | NASIONAL

Jumat, 13 Sep 2019 16:15 WIB

Author

Arjuna Pademme, Adi Ahdiat

Pulang Kampung, Mahasiswa Papua Takut Lihat Konvoi Militer

Prajurit Korps Marinir TNI AL patroli di Pelabuhan Jayapura, Papua, Minggu (1/9/2019). (Foto: ANTARA/Zabur Karuru)

KBR, Jayapura - Ribuan mahasiswa Papua dari berbagai daerah pulang kampung massal sejak pekan lalu.

Namun, sesampainya di Papua, para mahasiswa itu mengaku tidak nyaman lantaran ada banyak aparat militer di sana.

"Konvoi-konvoi militer di Papua ini sedang berlangsung terus. Pos-pos militer berdekatan. Hal-hal ini kan membunuh psikologi mahasiswa dan masyarakat Papua ini," kata Sekjen Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua se-Indonesia (AMPTPI) Januarius Lagowan, Jumat (13/9/2019).

Menurut Januarius, sejak penambahan pasukan militer ke Papua, sudah ada sejumlah penangkapan terhadap mahasiswa dari beberapa universitas di Kota Jayapura. Ia menilai ruang gerak mahasiswa di sana dibatasi, baik di dalam maupun di luar kampus.


Tidak Ada Provokator

Menurut Sekjen AMPTPI Januarius Lagowan, kepulangan massal mahasiswa Papua ini tak ada kaitannya dengan agenda Papua Merdeka.

"Mahasiswa Papua mengambil sikap tersebut karena selama ini selalu mendapat perlakuan rasisme di berbagai daerah. Insiden ujaran rasis di Surabaya menjadi puncak dari semua akumulasi kemarahan mahasiswa Papua," kata Januarius, Jumat (13/9/2019).

Ia juga membantah isu yang disebar pemerintah, bahwa kepulangan massal mahasiswa Papua digerakkan oleh "provokator" seperti Komite Nasional Papua Barat (KNPB) atau United Liberation Movement for West Papua (ULMWP).

"Ini Orang Papua merasa mereka dinomorduakan, kemudian mereka dianggap sebagai orang terbelakang. Hari ini kesadaran itu muncul, sehingga mereka menyatakan untuk pulang, dan mereka rasa tidak nyaman sekali untuk bersama-sama dengan Indonesia. Tidak ada ULMWP, tidak ada Benny Wenda segala macam di belakang," tegas Januarius.

Menurut dia, sebagai organisasi mahasiswa, mereka hanya menyuarakan apa yang selama ini menjadi isi hati orang Papua dan tak pernah didengar pemerintah pusat.

"Di antaranya pelanggaran Hak Asasi Manusia dan berbagai kesalahan negara di Papua yang selama ini ditutupi," ujarnya.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 12

Ponpes Kebon Jambu Cirebon, Pencetak ‘Ulama Perempuan’

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Cina Berencana Melarang Teknologi Asing di Seluruh Kantor Pemerintahan dan Institusi Publik