Pasca-Bentrok di Depan Gedung DPR, RSPP Tangani 90 Korban

"Dari 90 ini 74 kondisi kategori dalam triage itu hijau, cukup stabil, kesadaran penuh, sehingga pasien kita observasi beberapa saat dan bisa dipulangkan."

BERITA | NASIONAL

Rabu, 25 Sep 2019 11:57 WIB

Author

Kevin Candra

Pasca-Bentrok di Depan Gedung DPR, RSPP Tangani 90 Korban

Sejumlah mahasiswa korban bentrokan saat aksi unjuk rasa berada di aula kampus Universitas Islam Bandung (Unisba), Jawa Barat, Selasa (24/9/2019). (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) menerima 90 korban akibat aksi di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Direktur RSPP Kurniawan Iskandarsyah mengatakan, korban yang datang   akibat gas air mata serta mengalami trauma benda tumpul.

"Dari 90 ini 74 kondisi kategori dalam triage itu hijau, cukup stabil, kesadaran penuh, sehingga pasien kita observasi beberapa saat dan bisa dipulangkan. Kategori kuning sebanyak 14 orang membutuhkan observasi, kebanyakan dari mereka ini datang dengan akibat gas air mata," ujar Direktur RSPP Kurniawan Iskandarsyah di RSPP, Rabu (25/09/2019)

Kurniawan menyebut 90 korban yang dilarikan ke RSPP ada 3 yang masih dirawat  karena mengalami luka parah pada bagian kepala dengan pendarahan.

"Dari 90 pasien itu 3 kami rawat, 1 karena trauma tumpul, karena kompresi tulang kepala di daerah parietal kanan yang sebabkan pendaraahan intracranial. Saat ini pasien dirawat di ICU, kondisi stabil, penanganan saat ini masih kita lakukan dengan konservatif therapy," ujar dia.

Kurniawan menambahkan untuk korban kedua yang dirawat dengan kompresi trauma tumpul tulang belakang lumbal, kondisi baik, tidak perlu tindakan operasi, hanya tindakan konservatif. 

Sedangkan korban ketiga mengalami trauma tumpul di kepala mendapat jahitan, kondisi cukup baik, tapi karena gas air mata dia mengalami muntah dan dehidrasi. Kondisi 3 korban yang dirawat kondisi cukup baik, tidak memerlukan tindakan operasi namun hanya memerlukan observasi.

Tindakan represif aparat tak hanya terjadi di depan gedung DPR, Jakarta. Di Bandung Jawa barat, Kepolisian membubarkan aksi menentang berbagai revisi  oleh berbagai kelompok di depan kantor Gubernur Jawa Barat. Awalnya, aksi penentangan dilakukan di depan Gedung DPRD namun massa dihalau oleh polisi karena merusak pagar dan pintu masuk, termasuk melempari dengan berbagai benda.

Menurut Kepala Polisi Jawa Barat Rudy Sufahriadi, otoritasnya telah memberikan kebijakan kepada massa penentang revisi RUU untuk menyampaikan aspirasinya. Tetapi yang terjadi di lapangan sudah dianggap melampaui batas normal.

"Itu kan dari pagi kita sudah imbau, bakar-bakar sudah kita padamkan. Ternyata tidak bisa juga. Setelah merusak kita bubarkan, masih baris lagi. Kembali lagi, melakukan di tempat-tempat lain. Akhirnya kita bubarkan paksa atas nama undang- undang. Ada beberapa yang kita amankan, juga nanti akan penyidikan terhadap yang kita amankan," kata Rudy, Selasa (25/09).

Rudy mengatakan  belasan orang yang ditangkap itu, diduga bukan dari kelompok mahasiswa. Belum diketahui identitas orang yang ditangkap oleh polisi karena sedang melakukan pendataan.

Tindakan itu dilakukan oleh polisi kata Rudy, sesuai dengan peraturan untuk tenggat waktu unjuk rasa yaitu sampai pukul 18.00 WIB. Namun sebut Rudy, pada waktu unjuk rasa penentangan revisi RUU kedua kalinya diberikan kelonggaran sampai pukul 21.00 WIB.

"Dari negosiasi pengen ketemu dengan anggota dewan, kita temukan, kita janjikan memberikan surat dan bubar. Ternyata terakhir ini sedikit sekali jumlah mahasiswanya. Tidak ada lagi mahasiswa, kelompok itu ada yang gondrong-gondrong ," ujar Rudy.

Berdasarkan pantuan KBR, tidak seluruhnya massa penentang revisi RUU dibubarkan oleh kepolisian. Karena memasuki pukul 18.00 WIB, jumlah massa penentang berangsur menurun. Terlebih saat memasuki pukul 19.00 - 20.00 WIB. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Tim Teknis Pengungkapan Kasus Novel Dinilai Belum Ungkap Apapun