Demo Rusuh, Tito: Ada yang Memanfaatkan untuk Rebut Kekuasaan

"Dengan tujuan politis power strugle yaitu untuk menjatuhkan pemerintah yang sah secara konstitusional.”

BERITA | NASIONAL

Kamis, 26 Sep 2019 15:56 WIB

Author

Dwi Reinjani

Demo Rusuh, Tito: Ada yang Memanfaatkan untuk Rebut Kekuasaan

Polisi menembakkan gas air mata saat bentrokan terjadi di kawasan Palmerah, Jakarta, Rabu (25/9/2019). (Foto: Antara)

KBR,Jakarta-  Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Tito Karnavian menegaskan ada massa asing yang menyusup dalam aksi mahasiswa untuk menyerang  pemerintah. Menurutnya aksi yang dilakukan mahasiswa pada 23-24 September lalu berlandasakan permasalahan undang-undang yang dianggap keliru. Sedangkan beberapa massa yang menyerang petugas dan membuat kaos dengan membawa agenda politik lain.

“Kita melihat bahwa ada indikasi kelompok yang melakukan aksi-aksi ini, yang semula murni dari adik-adik mahasiswa ada pihak-pihak yang memanfaatkan, mengambil momentum ini untuk agenda tersendiri yang lain. Bukan agenda undang-undang itu sendiri tapi sudah menggunakannya untuk agenda-agenda politis yang tadi disebutkan Bapak Menkopolhukam. Dengan tujuan politis power strugle yaitu untuk menjatuhkan pemerintah yang sah secara konstitusional.” Ujar Tito, di kantor Menkopolhukam, Kamis (26/09/2019).

Agenda terselubung itu di antaranya terkait pelantikan anggota dewan yang baru dan pelantikan presiden Oktober mendatang. Menurut pengamatan Tito, ada beberapa pergeseran cara-cara unjuk rasa setelah tanggal 23 kemarin, dari aksi-aksi damai menjadi aksi yang anarkis. 

“Ini berubah menjadi aksi anarkis dengan adanya pengrusakan, pembakaran, penutupan jalan, penganiayaan petugas, pelemparan batu, melempar flare juga bom molotov, kita sudah tangkap juga di Polda Metro Jaya. Kita melihat dua hari ini ada perubahan dari damai ke anarkis.” Ujar Tito.

Tito juga menambahkan rusuh yang terjadi kemarin memiliki pola yang sama dengan rusuh pada 21-23 Mei lalu. Rusuh   dimulai pada sore menjelang malam dan tersistematis. Ia juga mengatakan kepolisian hingga hari ini telah menangkap 200 orang yang diduga pembuat rusuh pada unjuk rasa lalu.

Dari ratusan orang yang tertangkap sebagian besar bukan berasal dari mahasiswa. Menurut Tito bahkan mereka hanya masyarakat biasa yang mendapat bayaran.

Sebelumnya Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto mengatakan, ke depan akan ada pengerahan gelombang massa yang lebih besar dari unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa kemarin. Menurutnya massa yang akan dikerahkan merupakan masyarakat yang dihasut bukan lagi terkait revisi ataupun penundaan undang-undang, namun lebih pada pelantikan DPR dan Presiden.

“Dari informasi yang kita terima memang nantinya akan ada satu gerakan. Gelombang baru melibatkan beberapa kelompok masyarakat, kelompok pelajar ya sudah kemarin, dengan harapan muncul korban dan korban dan korban itu mempersalahkan kepada aparat keamanan. Gerakan yang lebih besar menciptakan chaos dan chaos akan membangun ketidak percayaan kepada pemerintah yang sah. Gerakan gelombang baru ini nanti akan mengerahkan kelompok islam radikal.” Ujar Wiranto, di kantornya, Kamis (26/09/2019).

Menurut Wiranto selain kelompok islam garis keras, hasutan akan merajalela kepada buruh, suporter bola, pengemudi ojek hingga paramedis. Sehingga pemerintah meminta agar para kelompok tersebut bisa lebih cerdas menyikapi banyaknya hoaks ataupun provokasi dari orang-orang yang ingin membuat kerusuhan.


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Tim Teknis Pengungkapan Kasus Novel Dinilai Belum Ungkap Apapun