BEM: Aparat Harusnya Lakukan Pendekatan Humanis

Aparat keamanan harus bertanggung jawab dan kita harus melihatnya secara objektif. Ada oknum mungkin dari massa aksi yang melakukan aksi perusakan dan lain sebagainya.

BERITA | NASIONAL

Rabu, 25 Sep 2019 16:45 WIB

Author

Valda Kustarini, Kevin Chandra

BEM: Aparat Harusnya Lakukan Pendekatan Humanis

Massa mahasiswa bersitegang dengan polisi di Jakarta, Selasa kemarin. Bentrokan terjadi saat polisi berusaha membubarkan aksi mahasiswa yang menolak sejumlah Undang-undang yang diusulkan DPR. (Foto: Antara/M Risyal Hidayat)

KBR, Jakarta - Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) menyatakan, aparat seharusnya melakukan pendekatan yang humanis kepada mahasiswa yang menyampaikan aspirasinya kepada wakil rakyat.

Ketua BEM UGM Atiatul Muqtadir, meminta aparat bertanggung jawab terhadap mahasiswa yang menjadi korban tindakan represif aparat yang menembakkan peluru karet, gas air mata, serta memukul mahasiswa demonstran di depan gedung DPR, Selasa kemarin.

"Aparat keamanan harus bertanggung jawab dan kita harus melihatnya secara objektif. Ada oknum mungkin dari massa aksi yang melakukan aksi perusakan dan lain sebagainya. Dua-duanya berhak mendapatkan keadilan dengan cara dihukum secara tegas. Jadi, oknum yang melakukan perusakan maupun polisi atau aparat yang melakukan kekerasan yang tidak sesuai dengan hak asasi manusia harus ditindak setegas-tegasnya," kata Atiatul Muqtadir pada KBR, Rabu (25/9/2019).

Atiatul Muqtadir khawatir tindakan represif yang dilakukan aparat saat demonstrasi malah akan menimbulkan kekerasan yang lain.

Ia mengatakan, mahasiswa tidak melakukan aksi demonstrasi kembali di depan gedung DPR.

Atiatul Muqtadir juga menegaskan, jika ada massa di depan gedung DPR itu bukan massa dari Aliansi Mahasiswa.

Ada Provokator

Sementara itu, mahasiswa menyebut  pelaku kerusuhan saat aksi menolak RUU bermasalah di depan gedung DPR pada Selasa (24/09) adalah provokator yang tidak mengenakan atribut almamater mahasiswa.

Mahasiswa Universitas Pertamina Naufal Nabil Siregar  menegaskan bahwa mahasiswa yang melakukan aksi sudah berkordinasi dan mengenakan almamater untuk penanda.  

Naufal menjadi salah satu mahasiswa yang menjadi korban saat bentrokan terjadi. Ia mengalami luka di bagian bibir karena tembakan sehingga mendapat  2 jahitan.

Dia tidak mengetahui persis siapa orang yang menembak.

"(Peristiwa terjadi ) sekitar setengah 6, persis depan pagar di DPR kemarin. Kan pager DPR rubuh, polisi langsung menembakkan gas air mata banyak banget. Saya terbawa arus mundur. Begitu mundur, udah perih banget, sesek, kena tembak dari arah pagar," ujar Mahasiswa Universitas Pertamina Naufal Nabil Siregar di RSPP, Rabu (25/09/2019)

Naufal Nabil Siregar menyebut saat terkena  tembakan hanya melihat sekilas ada yang lewat di deketnya dan merasakan benturan.

Dokter juga menduga ia terkena tembakan peluru karet.

Baca juga: Pasca-Bentrok di DPR, Mahasiswa Korban Sebut ada Provokator  

Editor: Kurniati Syahdan 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Geliat Perkembangan Industri Fintech di Indonesia

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11