Share This

Soal Tewasnya Pendukung Persija, Begini Respons Presiden Jokowi

"Jangan sampai fanatisme yang berlebihan jadi kebablasan, sehingga terjadi kriminalitas. Harus segera disetop, karena olahraga itu menjunjung sportivitas," kata Jokowi.

NASIONAL , BERITA

Selasa, 25 Sep 2018 17:13 WIB

Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato saat membuka Pekan Purnabakti Indonesia (PPI) Tahun 2018 di Jakarta, Selasa (25/9). (Foto: ANTARA/ Puspa P)

KBR, Jakarta - Presiden Joko Widodo menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya 16 pendukung sepakbola sepanjang delapan bulan terakhir. Dengan korban terakhir, Haringga Sirila usia 23 tahun. Warga Cengkareng itu tewas dikeroyok massa di luar Stadio Gelora Bandung Lautan Api, Minggu (23/9/2018).

Jokowi memerintahkan agar Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bersama Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dan seluruh kelompok suporter serentak membuat komitmen. Ini dilakukan untuk memastikan tak berulangnya kekerasan ataupun tewasnya suporter dalam pertandingan sepakbola.

Menurut Jokowi, fanatisme terhadap klub sepakbola tak boleh kebablasan, bahkan sampai harus menghilangkan nyawa.

"16 itu jumlah yang sangat banyak. Jangan sampai fanatisme yang berlebihan jadi kebablasan, sehingga terjadi kriminalitas. Harus segera disetop, karena olahraga itu menjunjung sportivitas. Dan saya sudah minta juga kepada kemenpora, PSSI, dan kelompok-kelompok suporter untuk duduk bersama, mengatasi agar kejadian ini tidak terulang lagi," tegas Jokowi di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (25/9/2018).

"Ini sudah bolak-balik ada lagi. Harus ada sebuah komitmen bersama-sama agar kejadian itu tidak terulang," kata Jokowi lagi.

Ia mengatakan, Kemenpora dan PSSI bertanggung jawab mendorong sportivitas di antara para suporter. Bukan malah membiarkan celah tindak kekerasan hingga berujung ke korban jiwa. Presiden Jokowi pun berharap tak ada lagi perkelahian antarsuporter dalam pertandingan sepakbola.

Jokowi berujar, pemberian sanksi untuk klub dengan suporter yang melakukan kekerasan bisa saja dilakukan. Namun hukuman menurutnya tak cukup memunculkan efek jera. Sehingga, ia menyarankan lebih penting untuk mencari solusi agar kekerasan antarsuporter tak berulang.

Baca juga:


Pemberian Sanksi

Sehari setelah kejadian naas di Bandung tersebut, Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) mendesak induk sepakbola nasional PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) untuk segera menuntaskan kasus kematian suporter Persija, Haringga Sirila. Ketua BOPI Richard Sambera mengancam bakal menghentikan kompetisi untuk sementara waktu jika dalam sepekan tak jua ada solusi. 

"Jika PSSI dan PT LIB gagal mengatasi masalah dalam waktu satu minggu, kata Richard, BOPI meminta agar PSSI dan PT LIB tidak melakukan kegiatan kompetisinya," ujar Richard di Gedung Kemenpora, Jakarta, Senin (24/9/2018).

Ia juga mendesak Komisi Disiplin PSSI segera menjatuhkan sanksi tegas kepada klub. "Tidak hanya normatif tapi dapat memberikan efek jera," imbuhnya.

Sementara Komisi Disiplin (Komdis) PSSI bakal memberikan sanksi ke klub yang bertanggung jawab atas tewasnya Haringga Sirla. Ketua Komdis, Asep Edwin memastikan, sanksi yang diberikan bakal diperberat mengingat bentrokan suporter Persib dan Persija telah berulang kali terjadi.

Di kasus sebelumnya, Persib pernah dihukum bertanding tanpa penonton dan denda ratusan juta Rupiah. Menurutnya, sanksi paling berat bagi klub adalah dikeluarkan dari kompetisi. 

"Kami sendiri masih mempelajari kasusnya seperti apa. Saya nggak bisa mengatasnamakan anggota lain. Nanti kami bermusyawarah. Sanksi yang tersedia, kemarin kan sudah jelas larangan penonton. Cuma mungkin jumlahnya (beda)," kata Asep kepada KBR, Senin (24/9/2018).

Ia bilang, kini PSSI tengah mengumpulkan bukti-bukti dugaan pelanggaran sebagai dasar pemberian sanksi. Asep menjelaskan, dalam memberikan sanksi tim bakal mempertimbangkan sejumlah aspek. Salah satunya, berulangnya pelanggaran. Tetapi kata dia, Komdis hanya bisa memberikan sanksi administratif berupa denda hingga pelbagai larangan bertanding atau ditonton pendukung. Yang paling tegas, klub dikeluarkan dari kompetisi.

Baca juga: [TAJUK] Moratorium Sepak Bola 



Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.