Share This

Pengendalian Tembakau, Ini Rencana Pemerintah dalam RPJM 2020

"Jika harga rokok mahal, ini adalah cara terbaik untuk mengurangi konsumsi rokok di kalangan anak muda. Kita harus buat supaya harganya tidak terjangkau.”

BERITA , NASIONAL

Kamis, 13 Sep 2018 16:03 WIB

Ilustrasi: Aksi pelajar tolak jadi target iklan rokok. (Foto: Antara)

KBR, Denpasar- Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)  tengah menyiapkan rancangan pengendalian tembakau. Rencana itu masuk dalam  Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024.

“Kami akan mengarusutamakan pengendalian tembakau dalam rencana pembangunan lima tahunan itu,” tambah Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro ketika membuka Konferensi ke-12 Asia Pasifik tentang Tembakau dan Kesehatan (APACT) di Denpasar, Kamis (13/9/2018).

Di aspek produksi, jumlah produksi tembakau akan dipertahankan. Sementara dari aspek manufaktur, menurut Bambang, pemerintah tidak berambisi untuk menambah produksi tembakau.

“Namun di pemerintah, semua ingin menambah produksi. Misalnya di Kementerian Perindustrian, yang juga pasang target untuk meningkatkan produksi tembakau,” jelas Bambang.

“Tapi untuk tembakau, yang penting dilihat adalah nilai, bukan jumlah produksi. Nilai adalah perkalian harga dan kuantitas. Jadi kuantitas bisa dikurangi dan harga bisa dinaikkan,” tambah Bambang.

Dia melanjutkan, “Kami ingin menyelesaikan masalah ini. Jika harga rokok mahal, ini adalah cara terbaik untuk mengurangi konsumsi rokok di kalangan anak muda. Kita harus buat supaya harganya tidak terjangkau.”

Meski begitu, Bambang mengakui belum ada strategi yang komprehensif untuk menuntaskan hal-hal yang terkait dengan pengendalian tembakau. Salah satu hal penting yang terkait adalah keberadaan petani tembakau. “Kita perlu mendorong para petani tembakau untuk diversifikasi produk, menanam tanaman lain dan mengurangi jumlah produksi tembakau.”

Selain itu, yang terpenting adalah soal industri rokok yang menyerap banyak tenaga kerja.

“Kita perlu memikirkan bagaimana menyediakan peluang kerja bagi mereka yang sekarang bekerja sebagai buruh di pabrik rokok. Keterampilan mereka harus ditingkatkan, tapi juga ada peluang kerja yang ditawarkan,” kata Bambang. “Tanpa itu, maka kebijakan ini tidak akan diterima masyarakat.”

Bambang mengingatkan, industri rokok adalah sunset industry.

“Karena itu industri rokok juga harus melakukan diversifikasi bisnis supaya tak terjebak pada industri yang trennya terus turun. Kita tidak bicara soal menutup pabrik rokok atau melarang produk rokok, tapi perlu adanya diversifikasi bisnis.”

Editor: Rony Sitanggang

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.