Share This

Peace Train: Sebuah Lokomotif Pembawa Pesan Perdamaian & Toleransi

Ela Persi, salah satu peserta yang pernah mengikuti kegiatan Peace Train menjelaskan dirinya menjadi lebih terbuka dan menghargai agama-agama yang berbeda dengan dirinya setelah mengikuti kegiatan ini

NUSANTARA

Senin, 24 Sep 2018 15:27 WIB

Yogi Ernes
Author

Yogi Ernes

(Foto: Facebook Peace Train Indonesia)

KBR, Jakarta - Ujaran kebencian dan intoleransi masih menjadi masalah di masyarakat Indonesia. Perselisihan yang terjadi akibat perbedaan suku, agama, ras atau pilihan politik kerap kita temui, baik secara langsung atau dari pemberitaan media.

Berbagai macam upaya dilakukan untuk mengatasi hal ini. Salah satunya adalah lewat kegiatan Peace Train. Dalam program Ruang Publik KBR, Senin (24/9/2018), Ustadz Ahmad Nurcholis sebagai salah penggagas kegiatan ini bercerita, misi Peace Train atau Kereta Perdamaian adalah untuk menyuarakan pesan-pesan toleransi bagi generasi muda Indonesia.

Caranya dengan melakukan perjalanan ke suatu daerah menggunakan kereta api, seraya belajar tentang keberagaman dan menyebarluaskan pesan-pesan toleransi di tengah masyarakat. Di daerah tujuan, rombongan akan mengunjungi berbagai rumah ibadah dan juga tempat yang erat kaitannya dengan kebhinekaan. Target program yang September ini berusia tepat satu tahun, adalah anak muda. 

“Misi kita, pertama, menciptakan jembatan penghubung para anak-anak muda yang berlatar belakang suku dan agama berbeda. Kedua, menciptakan ruang perjumpaan. Jadi, kita pertemukan mereka untuk saling berinteraksi, sehingga bisa mengurangi, bahkan menghilangkan prejudice yang selama ini tertanam akibat tidak ada ruang-ruang dialog di antara mereka," ungkap Nurcholis kepada KBR.

Nurcholis menjelaskan ketika mengunjungi tempat-tempat ibadah lintas agama, para peserta akan disambut oleh pengurus rumah ibadah setempat. Mereka akan menjelaskan sejarah rumah ibadah dan juga tentang ajaran agama tersebut.

“Di dalam rumah ibadah kita akan berinteraksi dengan pengurus rumah ibadah. Mereka akan menjelaskan bangunan rumah ibadah serta ajaran-ajaran agama mereka. Peserta juga bisa bertanya hal-hal dari yang remeh-temeh sampai yang serius”, ungkapnya.

Ela Persi, salah satu peserta yang pernah mengikuti kegiatan Peace Train menjelaskan dirinya menjadi lebih terbuka dan menghargai agama-agama yang berbeda dengan dirinya setelah mengikuti kegiatan ini. Ela yang berasal dari Bangkalan, Madura berharap lebih banyak masyarakat di daerahnya yang mengikuti kegiatan Peace Train agar bisa merasakan indahnya ketika bisa saling menghargai dan hidup rukun meskipun berbeda suku dan agama.

Bagi Ela, pengalaman yang paling membekas saat mengikuti Peace Train, adalah saat mengunjungi kawan-kawan Ahmadiyah.

“Jadi waktu kita ke Wonosobo itu, kita berkunjung ke komunitas Ahmadiyah yang berada di daerah pegunungan. Saya bingung kok mereka ngapain ya tinggal di tempat seperti itu. Ketika kita interaksi, mereka bilang karena selama ini tidak diterima masyarakat makanya mereka memutuskan tinggal di daerah pegunungan,”kenangnya.

Pengalaman tersebut, mendorong Ela untuk menyuarakan toleransi dan pesan perdamaian lebih giat lagi, setelah kembali ke Bangkalan. Meski awalnya ia sempat dituduh liberal oleh beberapa teman, lambat laun usaha Ela membuahkan hasil. Banyak para mahasiswa dan anak-anak muda yang tergerak dengan pesan toleransi yang didengungkan Ela, bahkan tertarik untuk mengikuti kegiatan Peace Train.

Dukungan dan kesan positif juga datang dari Bhante Jayamedo dari Vihara Batu, Malang yang pernah dikunjungi oleh peserta Peace Train. Ia mengatakan kegiatan seperti ini harus diperbanyak untuk memutus rantai kebencian yang masih ada di hati kita yang berbeda suku dan agama ini.

“Saya percaya bahwa nilai-nilai kehidupan kita tergantung dari apa yang bisa kita sumbangkan pada kemanusiaan yang adil dan beradab. Jadi jangan lagi kita menghakimi agama satu sama lainnya," ujar Bhante Jayamedo lewat sambungan telepon kepada KBR.

Akhir pekan ini, Peace Train kembali akan melakukan perjalanan ke daerah Banten. Untuk masyarakat yang berminat mengikuti kegiatan tersebut, bisa segera mendaftar melalui media sosial Facebook atau Instagram "Peace Train Indonesia"


Editor: Vitri Angreni
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.