Share This

Diancam Demo, Pemkot Jambi Segel Tiga Gereja

Penyegelan tiga gereja di Kota Jambi tanpa disertai pemberitahuan terlebih dulu ke jemaat.

NASIONAL , BERITA

Jumat, 28 Sep 2018 09:41 WIB

Author

May Rahmadi

Diancam Demo, Pemkot Jambi Segel Tiga Gereja

Penyegelan salah satu gereja di Jambi. (Foto: pengurus gereja)

KBR, Jakarta - Pemerintah Kota Jambi menyegel tiga gereja di Kelurahan Kenali Besar, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi, Kamis (27/9/2018) pagi. Tiga gereja itu antara lain Gereja Sidang Jemaat Allah, Gereja Huria Kristen Indonesia Simpang Rimbo, dan Gereja Methodist Indonesia Kanaan Jambi.

Sebuah kertas purtih bertulis "Bangunan/Kegiatan Ini Disegel" ditempel oleh Satuan Polisi Pamong Praja Pemerintah Kota Jambi di pintu. Pada kertas itu ditulis, tiga poin yang dilanggar antara lain Peraturan Daerah Nomor 47 tahun 2002 tentang Ketertiban Umum, Perda Nomor 11 tahun 2014 tentang Izin Gangguan dan Perda Nomor 03 tahun 2015 tentang IMB. Surat itu ditandatangani penyidik Satpol PP Kota Jambi, Said Faizal.

Menurut pengurus Gereja Methodist Indonesia Oberlin Tampubolon, penyegelan terjadi tiba-tiba. Ia menduga, langkah itu ditempuh setelah adanya desakan dari sekelompok orang dan ancaman demonstrasi melibatkan 1000 orang.

Berdasarkan kronologi yang diterima KBR, penutupan oleh Satpol PP dibantu TNI dan polisi itu tanpa didahului informasi ataupun surat pemberitahuan Pemkot Jambi. Saat penyegelan pun, petugas tak memberikan juga menunjukkan surat keputusan dari pemda setempat. Ini pula yang memicu kebingungan dan penolakan pengurus gereja.


Kertas segel dari Satpol PP Pemkot Jambi ditempel di salah satu gereja yang ditutup. (Foto: Pengurus Gereja)


Kendati begitu, Oberlin bercerita, tak ada perlawanan saat pasukan dari Satpol PP Pemkot Jambi menyegel bangunan yang menjadi tempat ibadah jemaat sejak 1998. Para jemaat hanya bisa menangis tatkala menyaksikan petugas menyegel gereja.

"Perlawanan tidak ada, tetapi para ibu-ibu jemaat saya itu, mengucurkan air mata. Mereka berkata begini: ini bukan tempat maksiat, ini tempat kami beribadah," kata Oberlin kepada KBR, Kamis (27/9/2018) malam.

"Ini bukan tempat bermain-main. Kami hanya beribadah di sini, berdoa kepada tuhan. Kenapa pemerintah sampai hati menutup tempat ibadah? Begitu," tambahnya.

Oberlin menceritakan, sebelum gereja berdiri sekitar 20 tahun silam, para jemaat beribadah di jalanan. Tetapi kata dia, masyarakat lantas meminta mereka beribadah ke tempat yang saat ini menjadi gereja.

Gereja Methodist Indonesia pun dibangun. Sejak itu hingga kemarin sebelum disegel, menurutnya seluruh kegiatan berlangsung aman. "Tidak ada masalah apa-apa," kata Oberlin.

Baca juga:


Awal Mula Penyegelan

Pangkal penyegelan tiga gereja di Kota Jambi diduga bermula dari surat kepada Pemerintah Kota pada 12 Juli 2018. Surat keberatan atas adanya gereja itu mengatasnamakan warga dan tokoh masyarakat di beberapa RT di Kelurahan Kenali Besar. Isinya, mendesak Pemkot segera menghentikan kegiatan di gereja-gereja itu dengan alasan mengganggu, tidak mengantongi Izin Mendirikan Bangunan (IMB), juga munculnya kekhawatiran kawasan itu bakal dijadikan lokasi khusus peribadatan--mengingat lokasi tiga gereja berdekatan.

Oberlin mengakui, pihaknya belum memiliki surat izin. Tapi ketiadaan legalitas itu menurutnya tak lepas dari berbelitnya proses pengurusan.

"Surat izin memang belum ada, kita sedang mengurus. Berkali-kali ganti pendeta di sini, kemauan sebenarnya mengurus surat izin. Tetapi surat izin untuk gereja sangat sulit ditemukan di negara ini," jelas Oberlin.

Sehingga ia pun menyebut alasan itu mengada-ngada. Lagipula selama ini menurutnya warga sekitar sudah tahu bahwa gereja itu tak ber-IMB. Karena itu Oberlin dan jemaat lain masih bertanya-tanya alasan sesungguhnya di balik desakan sebagian warga ke pemkot untuk menyegel tiga gereja di sana.

Sementara Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Pemkot Jambi, Liphan Pasaribu juga mengatakan tak tahu-menahu latar permintaan masyarakat. Hanya saja ia mengakui, Pemkot menerima surat desakan. Ia mengklaim, pertemuan beberapa kali telah dilakukan guna mengurai soal. Tapi desakan masih mengalir maka akhirnya, pemerintah setempat memutuskan untuk sementara menyegel ketiga gereja.

Baca juga:

Liphan mengungkapkan, sempat memanggil pihak gereja sebelum Satpol PP menyegel. Oberlin salah satunya. Menurutnya, pihak gereja terkejut mengetahui ada surat desakan dari masyarakat. Sebab, selama ini tidak ada masalah berkaitan dengan kegiatan gereja.

"Jadi ada faktor-faktor tertentu. Kami belum bisa mengetahui apakah ada unsur-unsur lain," tutur Liphan kepada KBR.

Dia melanjutkan, setelah itu Pemkot Jambi memanggil perwakilan warga yang mengirim surat desakan. Dalam pertemuan dengan salah satu Ketua RT, kata Liphan, mencuat ancaman demo besar-besaran pada Jumat (28/9/2018) jika Pemkot tidak menutup tiga gereja di Kota Jambi.

Pada Rabu (26/9/2018), Liphan pun mengundang perwakilan dari beberapa pihak di antaranya Polisi, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Hasil pertemuan, Pemkot Jambi memutuskan untuk menyegel tiga gereja pada Kamis (27/9/2018) atau sehari sebelum ancaman demo bakal digelar.

"Diputuskan, untuk menghindari keributan yang tidak diinginkan, sementara kami tutup dulu."

Selama status gereja disegel, Pemkot menjanjikan bakal mencari solusi atas pelarangan kegiatan peribadatan di tiga gereja di Kota Jambi tersebut. Menurut Liphan, Pemkot tengah memikirkan cara untuk menjamin agar jemaat tiga gereja tetap bisa beribadah.

Pengurus FKUB Kota Jambi menganggap, langkah menutup tiga gereja sudah tepat. Ketua FKUB Husin Abdul Wahab beralasan, jika desakan sekelompok orang itu tak dipenuhi, ia khawatir bakal memantik keributan.

"Nanti akibatnya, sesuatu yang tidak kita harapkan. Kalay tidak ditutup secepatnya, masyarakat bakal menutup sendiri. Kalau masyarakat menutup sendiri, kan heboh. Beritanya bisa sampai luar negeri," ungkap Husin saat dihubungi KBR.

Baca juga:

Catatan Redaksi: Berita ini telah diralat pada Minggu (30/9/2018) pukul 20.30 WIB, karena kesalahan nama narasumber pengurus Gereja Methodist Indonesia Kanaan Jambi. Kami mohon maaf, berikut berita yang sudah kami perbaiki.


Editor: Nurika Manan
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.