Share This

Desakan Pembebasan Wa Lone-Kyaw Soe Oo Mengalir dari Pemuda dan Jurnalis Myanmar

Wartawan Wa Lone, 32 tahun, dan Kyaw Soe Oo, 28 tahun, divonis pada 3 September .

BERITA , INTERNASIONAL

Senin, 17 Sep 2018 15:02 WIB

Ilustrasi. Warga berdemonstrasi solidaritas untuk wartawan Reuters yang dipenjara Wa Lone dan Kyaw Soe Oo di Yangon, Myanmar, Sabtu (1/9). (Foto: ANTARA/ Reuters/ Ann W)

KBR – Sekitar 100an orang terdiri atas aktivis muda dan jurnalis Myanmar menyerukan pembebasan dua jurnalis Reuters, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo yang ditahan, Minggu (16/9/2018). Para peserta aksi menganggap hukuman tujuh tahun penjara yang dijatuhkan ke kedua jurnalis itu mengancam hak publik atas informasi.

Para demonstran termasuk siswa sekolah menengah berkumpul di Yangon, Myanmar untuk aksi damai tersebut. 100an orang itu memegang atribut aksi sembari meneriakkan slogan-slogan yang mengecam vonis terhadai kedua jurnalis.

Polisi tampak menjaga ketertiban aksi ketika para pengunjuk rasa mengeluarkan balon hitam yang dicetak dengan kata-kata "Bebaskan Wa Lone dan Kyaw Soe Oo".

Pada 3 September 2018, jurnalis Wa Lone (32 th) dan Kyaw Soe Oo (28 th) divonis di bawah Undang-Undang Rahasia Resmi era kolonial. Kasus yang menimpa keduanya ini juga menguji kebebasan demokratis di Myanmar.

Thar Lun Zaung Htet, seorang jurnalis yang terlibat dalam aksi mengungkapkan, hukuman bagi rekannya yang sedang melaksanakan tugas peliputan itu dinilai melumpuhkan demokrasi di Myanmar.

"Kehilangan kebebasan pers berarti transisi demokrasi kita akan mundur," kata Thar Lun Zaung Htet dikutip dari laman Reuters.

Salah satu atribut yang dipegang para pengunjuk rasa itu bertuliskan "pembunuhan bukan rahasia negara". Selain itu juga ada kalimat, "mengungkapkan kebenaran bukanlah kejahatan".

Salah satu penyelenggara aksi, Maung Saung Kha juga menggelar aksi teatrikal. Ia mengenakan jaket militer di atas jaket tradisional Burma warna oranye yang dipakai anggota parlemen Liga Nasional untuk Demokrasi Suu Kyi. Maung Saung Kha lantas menggulung salinan dari harian The Mirror yang dikelola negara dan mulai memukul anggota pers dengan itu.

Aktivis Htet Khine Soe mengatakan "ketidakadilan" dalam kasus ini telah mengundang reaksi pembuatan desain kaos dengan ilustrasi wajah Wa Lone dan Kyaw Soe Oo. Desain ini dipakai beberapa demonstran juga digunakan pada stiker yang ditempatkan di sekitar Yangon.

"Kita perlu tahu apa yang terjadi di dunia. Kami membutuhkan wartawan untuk itu," tegasnya.

"Tanpa itu, kita akan menjadi orang bodoh tanpa telinga dan mata," tambah Htet Khine Soe.

Putusan terhadap dua jurnalis itu juga membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tokoh-tokoh politik termasuk Wakil Presiden AS Mike Pence dan para pembela hak asasi manusia di seluruh dunia mendesak pembebasan keduanya.

Juru bicara pemerintah Zaw Htay tidak dapat dihubungi untuk memberikan komentar pada Minggu (16/9/2018).

Pemimpin negara Aung San Suu Kyi mengatakan pada sebuah forum di Hanoi pekan lalu, kasus itu tidak ada hubungannya dengan kebebasan berekspresi. Para wartawan telah dijatuhi hukuman karena menangani rahasia. "Dan tidak dipenjara karena mereka wartawan," lanjut peraih Nobel perdamaian tersebut.

Pada Jumat (14/9/2018), enam organisasi jurnalis Myanmar menerbitkan pernyataan langka dari kelompok-kelompok di negara itu berisi kritik terhadap pimpinan negara tersebut. Selain itu, mereka juga mengungkapkan rasa kecewa atas komentar yang dilontarkan Aung San Suu Kyi.

Kedua jurnalis itu meyakinkan diri mereka tak bersalah. Sesaat sebelum ditahan Desember lalu, polisi disebut memberikan gulungan kertas kepada Wa Lone dan Kyaw Soe Oo. Seorang saksi di pengadilan mengatakan hal tersebut sebagai jebakan.

Dua jurnalis Reuters itu diketahui tengah menginvestigasi pembunuhan warga Muslim Rohingya saat ditangkap. Pengadilan di Myanmar lantas memutus keduanya bersalah atas tuduhan melanggar undang-undang tentang rahasia negara.



Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.