Share This

Alasan Mobil Kodok VW Tak Lagi Diproduksi Tahun Depan

Perusahaan otomotif asal Jerman ini beralasan ingin fokus mengembangkan mobil listrik dan kendaraan keluarga yang lebih besar.

BERITA , INTERNASIONAL

Jumat, 14 Sep 2018 15:31 WIB

Ilustrasi. Mobil Volkswagen. (Foto: Manjunath Kiran/AFP)

KBR - Volkswagen (VW) mengumumkan pada Kamis (13/9/2018) waktu setempat, bahwa perusahaan itu bakal berhenti memproduksi mobil 'kodok' ikonik VW Beetle pada 2019 mendatang. Perusahaan otomotif asal Jerman ini beralasan ingin fokus mengembangkan mobil listrik dan kendaraan keluarga yang lebih besar.

Namun, VW mengungkapkan masih akan menghadirkan dua model edisi final Beetle, dengan harga mulai Rp340 juta. Kepala Volkswagen Amerika Hinrich Woebcken dalam sebuah pernyataan mengungkapkan, tidak ada rencana untuk menggantikan Beetle.

"Ketika kami bergerak menjadi pembuat mobil yang berfokus pada keluarga di AS dan meningkatkan strategi elektrifikasi kami, tidak ada rencana segera untuk menggantikannya," kata Woebcken, seperti diberitakan AFP Jumat (14/9/2018).

Namun, Woebcken menambahkan, keputusan ini tidak menutup kemungkinan diluncurkannya kembali mobil-mobil berdesain unik seperti Beetle pada masa depan.

Mobil 'kodok' VW Beetle awalnya dikembangkan pada 1938, dan mulai dijual di AS pada 1950-an. Namun, mobil ini sempat berhenti diproduksi di AS pada 1979, tetapi masih terus diproduksi di Meksiko dan Brasil. Pada 1997 VW kembali memperkenalkan "New Beetle" di AS.

Namun penjualan Beetle turun pada 2017. Sahamnya juga mulai menurun sejak terjadi skandal emisinya pada 2015 lalu. Volkswagen dituduh memasang perangkat lunak untuk mengurangi uji emisi di sekitar 11 juta kendaraan yang tersebar di seluruh dunia. Akibat itu, perusahaan tersebut harus mengeluarkan dana hingga triliunan Rupiah.



Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.