Share This

“Indonesia Mungkin Belum Ratifikasi FCTC, tapi Semangatnya Ada di Hati”

Demokrasi yang bebas dimanfaatkan industri tembakau untuk menyuap partai politik.

BERITA , NASIONAL

Senin, 17 Sep 2018 08:47 WIB

Profesor Emil Salim dalam konferensi pers tentang Asia Pasifik tentang Rokok dan Kesehatan (Foto: An

Profesor Emil Salim dalam konferensi pers tentang Asia Pasifik tentang Rokok dan Kesehatan (Foto: Antara)

KBR, Denpasar - Industri tembakau dianggap telah mencuri kesempatan dalam iklim demokrasi Indonesia saat ini untuk menyuap partai politik.

Ketua Dewan Penasihat Komnas Pengendalian Tembakau Emil Salim mengatakan situasi ini terkait dengan sistem demokrasi di tanah air yang memungkinkan Pemilu secara bebas dan warga bisa memilih Presiden secara langsung.

“Demokrasi menjadi mahal. Ini menciptakan atmosfer korupsi karena partai politik membutuhkan pendanaan. Tentu sulit mendapatkan pendanaan dari masyarakat,” jelas Emil Salim. “Dan industri tembakau melihat peluang ini untuk menyuap partai politik.”

Hal ini disampaikan Emil Salim dalam diskusi panel yang menutup Konferensi ke-12 Asia Pasifik tentang Tembakau dan Kesehatan di Denpasar, Sabtu (15/9/2018).

“Demokrasi menciptakan peluang untuk korupsi, tapi juga menciptakan reaksi dari masyarakat yang mendorong adanya pemerintahan yang bersih.”

Emil lantas mengurai perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia ketika melihat jerat-jerat industri tembakau mulai menggurita.

“Kementerian Perindustrian pernah punya road map untuk meningkatkan produksi tembakau sampai dua kali lipat pada 2020. Bayangkan, di dalam Pemerintahan tapi mendukung industri rokok,” kata Emil Salim geram.

“Tapi masyarakat tidak tinggal diam.”

Pada 2016 lalu Mahkamah Agung mengabulkan permohonan uji materi terhadap Peraturan Menteri Perindustrian tentang Peta Jalan Industri Hasil Tembakau 2015-2020. Menurut MA, peraturan itu bertentangan dengan 5 peraturan perundangan yang lebih tinggi. Kementerian Perindustrian akhirnya mencabut Peta Jalan tersebut.

“Kita mungkin belum meratifikasi FCTC, tapi semangat FCTC ada di dalam hati setiap orang,” seru Emil yang langsung disambut dengan tepuk tangan bergemuruh.

Emil mengingatkan, jumlah penduduk usia produktif akan mendominasi Indonesia pada 2030 mendatang. Karena itu Indonesia harus memfokuskan diri pada pembangunan generasi muda yang bebas rokok.

“Partai politik yang korup akan segera berlalu. Generasi selanjutnya ada di sini, merekalah masa depan kita,” kata Emil.

“Kita mungkin tidak bisa menetapkan tahun berapa akan meratifikasi FCTC. Tapi intinya adalah Indonesia berkomitmen untuk mengembangkan Indonesia yang bebas rokok.”

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.