Bagikan:

BP Batam Terima Investasi Pertama Senilai Rp 1,3 Triliun

"Sudah terlalu lama Batam tidak begitu menarik untuk investor. Dengan upaya-upaya yang dilakukan selama tujuh bulan terakhir ini, kami percaya telah sampai jalur yang benar,"

BERITA | NASIONAL

Senin, 19 Sep 2016 19:23 WIB

Author

Dian Kurniati

BP Batam Terima Investasi Pertama Senilai Rp 1,3 Triliun

ilustrasi



KBR, Jakarta- Badan Pengusahaan Batam (BP Batam)  mendapat  investasi pertama sejak pelantikan pengurus baru, lima bulan lalu. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, investasi pertama itu datang dari PT. Enerco RPO dan PT. Kabil Citanusa, senilai USD 98 juta atau setara Rp 1,3 triliun.

Darmin menyatakan optimistis, investasi pertama ini akan diikuti oleh investasi lainnya.

"Kita sudah lama, sejak dibentuk, menunggu munculnya investor. Kami bersyukur, bahwa pada hari ini, meski baru tanda tangan MoU, tetapi investor sudah mulai datang. Sudah terlalu lama Batam tidak begitu menarik untuk investor. Dengan upaya-upaya yang dilakukan selama tujuh bulan terakhir ini, kami percaya telah sampai jalur yang benar," kata Darmin di kantornya, Senin (19/09/16).

Darmin mengatakan, BP Batam menandatangani nota kerja sama atau memorandum of understanding (MoU) pertamanya dengan PT. Enerco RPO sebagai investor dan PT. Kabil Citranusa sebagai pemilik kawasan industri terpadu Kabil. Darmin berkata, melalui program kemudahan investasi langsung kontruksi (KILK), BP Batam akan memfasilitasi semua proses perizinan yang dibutuhkan Enerco agar dapat segera memulai kontruksi pembangunan kilang treated distillate aromatic extract (TDAE) bahan baku utama bagi industri ban dan karet sintetis   di Batam. Saat masa konstruksi itu, proses pengurusan dokumen Enerco juga akan tetap berjalan.

Darmin berujar, kilang TDAE akan dibangun di kawasan industri terpadu Kabil di atas lahan seluas 2,3 hektare. Dalam pembangunannya, Enerco bekerja sama dengan beberapa perusahaan dari Singapura, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan pasokan bahan baku akan diperoleh dari ExxonMobil.

Saat proses konstruksi berlangsung, kata Darmin, pemerintah akan mempersiapkan sistem logistik untuk mendukung kelancaran distribusi produk TDAE untuk memenuhi kebutuhan industri karet dan ban. Kilang itu dirancang dengan kapasitas produksi lebih dari 100 ribu ton TDAE per tahun. 

Editor: Rony Sitanggang
 

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Mengkritik Klaim Pemberantasan Korupsi di Era Jokowi

Most Popular / Trending