Stop Pernikahan Dini

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013 yang dilakukan Kementerian Kesehatan, sekitar 26 persen perempuan di bawah umur di Indonesia telah menikah sebelum fungsi organ reproduksi berkembang optimal.

BERITA

Jumat, 05 Sep 2014 16:01 WIB

Author

Yudi Rachman

Stop Pernikahan Dini

pernikahan dini, pemahaman masyarakat tentang pernikahan dini, pernikahan dini di garut

KBR, Garut - Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013 yang dilakukan Kementerian Kesehatan, sekitar 26 persen perempuan di bawah umur di Indonesia telah menikah sebelum fungsi organ reproduksi berkembang optimal.

Kasus pernikahan anak terbanyak antara lain terjadi di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Jawa Barat. Sedangkan berdasarkan Badan Pusat Statistik BPS 2008, Jawa Barat menempati posisi tertinggi angka pernikahan anak, disusul Lampung dan Banten. Dalam konteks regional ASEAN, angka pernikahan anak di Indonesia adalah tertinggi kedua setelah Kamboja.

Menikahkan anak perempuan pada usia dini masih menjadi tradisi di sejumlah komunitas di Indonesia karena faktor perjodohan, agama, kemiskinan, atau status sosial. Seringkali anak-anak dinikahkan di usia di bawah 16 tahun.

Bagaimana mestinya agama bicara dan berperan dalam menekan tingginya angka pernikahan usia dini? Dalam perbincangan di Program Talkshow Agama dan Masyarakat KBR dan TV Tempo yang disiarkan dari Pondok Pesantren Al Musaaddadiyah, Kabupaten Garut, Jawa Barat terungkap jika Garut termasuk daerah dengan banyak pernikahan dini.

Lembaga Perlindungan Anak Kabupaten Garut sudah menangani sedikitnya 52 kasus pernikahan anak dibawah umur. Ketua lembaga tersebut, Nita K. Wijaya mengatakan, “ Permasalahan pernikahan dibawah umur di Garut tinggi. Untuk itu perlu didorong pola asuh dari orang tua yang sakinah dan nyaman agar kehidupan anak lebih baik," ungkapnya. Dalam perkawinan dini ini, banyak muncul kasus kekerasan seksual.

Nita K. Wijaya mengatakan tingginya angka pernikahan dini di Garut disebabkan oleh beberapa faktor.

"Orang tua harus menjadi pengayom buat anak ketika memberikan pemahaman soal alat reproduksi. Kita harus berikan pemahaman alat reproduksi. Kita berikan pemahaman keluarga," katanya. Pergaulan bebas juga menjadi salah satu faktor besar yang menyebabkan tinggi pernikahan pada usia dini.

Dari sisi agama, masih banyak masyarakat Garut yang meneladani kehidupan keluarga Rasulullah, salah satunya dengan melakukan pernikahan di usia muda seperti yang dialami salah satu istri Rasul. Namun, menurut pengurus pesantren Al-Musaddadiyah Garut, Hj Yeis Sa’diyah Musadad, pemahaman itu ditelan bulat-bulat tanpa mempertimbangkan kekinian.

"Banyak masyarakat mencontoh kehidupan Rasul menikah di usia dini. Kalau ada pernikahan dini, secara psikologis belum matang. Islam mengikuti zaman. Agama mengakomodasi sejauh ilmu berkembang. Gunakan akal," ujarnya.

Yeis Sa’diyah menambahkan tingginya angka pernikahan dini di Garut juga disebabkan faktor ekonomi dan pendidikan yang rendah.

"Di Garut, kalau anak belum nikah, malah dianggap beban orang tua. Ada juga motif menjual anak. Ada juga pengaruh kemiskinan yang menyebabkan banyaknya perkawinan dini. Padahal, Islam memberikan kesempatan jalan terbaik," tambahnya.

Menurutnya, ada beberapa cara memperbaiki keadaan. Misalnya iktikad lembaga penyiaran untuk menyiarkan materi-materi yang baik bagi para pendengarnya.

Editor: Fuad Bakhtiar

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Penyalahgunaan Narkoba di kalangan Pelajar dan Mahasiswa Meningkat, Penerapan Regulasi Tidak Tepat Sasaran

Kabar Baru Jam 7

News Beat

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19