Pertanian Organik di Sarongge Gerakkan Ekonomi Warga

"Alhamdulillah mereka walaupun tidak menggarap di hutan lindung tapi mereka bisa menghidupi diri dan keluarganya.

BERITA

Rabu, 24 Sep 2014 14:43 WIB

Author

Vitri Angreni

Pertanian Organik di Sarongge Gerakkan Ekonomi Warga

Pertanian, organik, Sarongge, ekonomi

KBR, Jakarta - Ada yang menarik jika anda berkunjung ke Sarongge. Sarongge merupakan destinasi wisata baru yang berada di kawasan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Di sana, ada pertanian organik yang luasan lahannya mencapai 1.600 meter persegi.

Menurut Wakil Bupati Cianjur, Suranto, pertanian ini sudah bisa menggerakan ekonomi warga sekitar. Dalam perbincangan dalam Program Sarapan Pagi KBR (24/9), Suranto juga menjelaskan rencana pemerintah ke depan terhadap pertanian organik ini.  

Hingga saat ini berapa banyak petani yang beralih ke model pertanian organik?

“Kalau untuk keseluruhan Cianjur cukup banyak tapi kita bahas khusus di Sarongge ya. Sarongge memang perlu kita tingkatkan terus untuk petani organik. Dulu sebetulnya mereka ini petani-petani yang di hutan ya, dulu namanya hutan produksi yang dikelola oleh Perhutani. Kemudian karena TNGP (Taman Nasional Gunung Pangrango) ini memperluas yang tadinya hutan produksi jadi hutan lindung.”

“Sehingga kalau jadi hutan lindung tidak boleh dibudidayakan atau ditanami sehingga para petaninya ke bawah lagi, ke lahan-lahan pertanian yang di bawah. Ini beberapa yang kita berikan misalnya dengan membina para petani dengan organiknya, pemeliharaan peternakan, kita kembangkan wisata. Wisata di situ kita bantu adanya homestay masyarakat, kita bantu kelola fisiknya, penduduknya kita beri pemahaman bagaimana untuk wisata tadi.”

Bantuan dari pemerintah ini apa?

“Dari pemerintah khususnya dari Kementerian Kehutanan dan Kementerian Pariwisata.”

Modal juga?


“Ada permodalan juga sama modal peternakan khususnya domba dan kelinci ada di sana. Memang kita organiknya di Sarongge itu sayur mayur, kemudian juga mereka membuat namanya pembibitan pohon-pohon dan ditanam di hutan lindungnya. Alhamdulillah mereka walaupun tidak menggarap di hutan lindung tapi mereka bisa menghidupi diri dan keluarganya.”

Pertanian organik masyarakat Sarongge apakah sudah bisa menggerakkan perekonomian warga sekitar?

“Saya kira itu sangat membantu mereka. Karena mereka kita ajari bagaimana cara membuat pupuk organik, selama ini kalau kita berpacu pada anorganik itu selalu beli dari pabrikan. Kalau sekarang mereka bisa membikin pupuk organik, ini saya kira bisa menghemat pembiayaan dalam pertanian. Memang perlu budaya, perlu kesabaran karena yang biasanya tanah dengan angorganik itu ganti ke organik biasanya awal-awal produksi menurun. Kalau di persawahan itu biasanya minimal empat kali panen baru mulai dia menggeliat hasilnya akan bagus lagi.”

Hasil pertanian dan peternakan ini sudah merambah di luar Sarongge?

“Sudah ada beberapa yang di luar Sarongge tapi kita fokus sekarang itu masih di Sarongge. Hasil pertanian kita pasarkan di Jakarta, ada bantuan dari Green Radio juga untuk membuat stok-stok penyalurnya. Kalau dengan namanya hasil pertanian organik ini harganya lumayan, ini sangat membantu sekali sehingga dari hasilnya menurun tapi dari segi harganya dia akan naik. Kan masyarakat kota sekarang tahu betul dampak dari anorganik sehingga kembali ke alam, organik.”

Selain menyasar ke Jakarta kemana lagi?

“Sekarang baru dikembangkan untuk penyaluran di Jakarta.”

Kalau di pasar-pasar Cianjur sendiri apakah juga sudah masuk hasil pertanian organik ini?

“Sudah ada. Cuma untuk di daerah yang namanya organik ini harganya berbeda, di daerah belum begitu berminat. Kalau di kota-kota kita paham pasti mereka ingin betul-betul keamanan makanan supaya bebas dari organik.”

Untuk ke depan kira-kira mau dibawa kemana pertanian organik dan peternakan ini untuk menumbuhkan perekonomian masyarakat di sana?


“Kita ingin betul-betul membina, kita bentuk kelompok-kelompok taninya. Setelah ada kelompok tani mungkin kita didalam pemasarannya, kita ingin bantu juga bagaimana pemasaran itu bisa langsung ke supermarket atau minimarket sehingga menjaga masalah harganya. Kalau dengan harga yang bagus petani produksinya meningkat kan akan tumbuh kembang, masyarakat akan tertarik dengan organik ini ternyata mereka bisa menikmati hasil dari organik ini lebih bagus daripada anorganik.”

“Mungkin pasarnya kalau dalam negeri masih luas, belum sampai merambah ke ekspor sepertinya ya mungkin ke depan bisa saja berharap begitu. Kalau kelompok tani semakin banyak dengan kekuatan organik tadi ya mungkin produksi meningkat bisa dipasarkan ke ekspor juga, itu jangka panjang ya.”          

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Ramadan Kelabu Korban Gempa Malang

Kabar Baru Jam 7

Maqam Ibrahim: Mengaji Artefak Arkeologi

Kebebasan dalam Berpakaian

Kabar Baru Jam 8