Kulonprogo Bebas Iklan Rokok

Kulonprogo menjadi satu satunya kabupaten yang telah mempunyai Perda kawasan tanpa rokok di Yogyakarta. Itu sebab, Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo diganjar penghargaan

BERITA

Selasa, 30 Sep 2014 13:17 WIB

Author

Antonius Eko

Kulonprogo Bebas Iklan Rokok

rokok, kulonprogo

Kulonprogo menjadi satu satunya kabupaten yang telah mempunyai Perda kawasan tanpa rokok di Yogyakarta. Itu sebab, Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo diganjar penghargaan “Pengendalian Tembakau” atas  upayanya  dalam  pengendalian  tembakau  di  Indonesia untuk melindungi dan menyelamatkan masyarakat dari bahaya rokok.


Di Perda itu kita mengatur tentang larangan untuk memasang iklan-iklan atau baliho di jalan-jalan arteri, protokol, kabupaten, negara, provinsi. Hasto Wardoyo mengakui larangan ini mengurangi pendapatan daerah, namun di Yogyakarta ada anggaran dana istimewa. Berikut penjelasan Hasto Wardoyo dalam program Sarapan Pagi KBR 


Betul saat ini tidak ada lagi iklan rokok atau acara yang disponsori rokok di Kulonprogo?


Iya jadi kami menetapkan perda ini baru bulan April 2014 ini. Sehingga di dalam perda itu disamping kita menetapkan kawasan tanpa rokok juga kita mengatur tentang larangan untuk memasang iklan-iklan atau baliho di jalan-jalan arteri, protokol, kabupaten, negara, provinsi. 


Sehingga mulai sekarang ini izin yang ingin memasang iklan-iklan di jalan besar sudah kita tutup, kita tinggal habiskan iklan yang ada yang memang masa berlakunya masih ada yang paling lama sampai Maret 2015. Sehingga kami  tidak izinkan pasang iklan baru dan kami tinggal membersihkan secara bertahap sampai Maret 2015. 


Kemudian di dalam perda juga kita atur tentang larangan sponsor yang melibatkan anak usia 18 tahun ke bawah sehingga semua kegiatan hampir praktis tidak ada yang bisa dengan sponsor rokok. Karena semua kegiatan saya kira tidak yang tidak melibatkan anak usia 18 tahun, contohnya olahraga juga yang nonton banyak anak-anak usia 18 tahun ke bawah. Begitu juga keramaian-keramaian kesenian Kulonprogo yang sebentar lagi digelar juga kita mengencangkan ikat pinggang untuk tidak terima sponsor yang biasa besar itu. 


Sudah ada kasus mengenai produsen rokok nakal yang masih nekad untuk memasang iklan dan mensponsori acara?


Kalau untuk sponsor beberapa kali sejak kita canangkan untuk tidak menerima sponsor ini ada beberapa yang merayu. Karena saya dokter kemudian ada yang merayu ingin mensponsori seperti operasi katarak atau operasi apa begitu. Tetapi sementara ini kami konsisten tidak menerima semua sponsor itu. Untuk di jalan-jalan kecil di desa-desa mereka memasang iklannya jadi saya merasa diserang. 


Akibat kebijakan ini berapa kerugian pendapatan daerah dari sektor rokok ini? 


Sebetulnya cukup besar ya. Saya kira kalau kita lihat iklan-iklan itu tidak kurang satu tahun bisa lebih Rp 10 miliar. Apalagi kalau kita perhitungkan dengan yang lainnya yang tidak terekam itu besar sekali. Sering sekali acara-acara yang menghabiskan ratusan juga yang digelar di daerah itu belum kami rekam semua, saya kira puluhan miliar. 


Apakah ini cukup menggonjang-ganjingkan program daerah?


Jadi kami kebetulan mensubstitusi kegiatan kesenian itu dari dana istimewa. Di Yogyakarta ada anggaran dana istimewa, kemudian dari kegiatan-kegiatan kesenian dan budaya kita cukupi dari dana istimewa. Sedangkan iklan-iklan yang besar itu sementara pasti akan turun tapi kami berharap pada kalau kita orang yang punya keyakinan pada Tuhan ya kita mengharap berkah dari Tuhan kemudian iklan-iklan yang lain juga bisa berdatangan. Kemudian kita membuat sistem promosi daerah dan juga iklan-iklan produk yang lainnya yang juga lebih bermanfaat.


Sejauh ini seberapa besar dampak perda ini di sana? apakah jumlah perokok pemula bisa ditekan dengan perda ini?


Semua sekolah kita larang. Kemudian semua tempat ibadah, kegiatan-kegiatan anak muda. Saya berharap bisa menekan perokok pemula dalam arti memang memerangi yang sudah kecanduan rokok tidak mudah tetapi kami menegah sebanyak-banyaknya generasi mudah untuk tidak merokok. 


Karena kalau kita sounding dari fokus grup diskusi yang kita adakan dengan para perokok yang sudah kecanduan ini kalau kita tanya apakah menginginkan anaknya merokok, mereka semua tidak ingin anaknya merokok. 


Jadi sebetulnya tidak ada orang tua yang bercita-cita kalau toh dia kecanduan rokok inginnya anaknya merokok itu tidak ada, dia senang kalau anaknya tidak merokok. Waktu saya diskusi dengan anggota DPRD, saya tanya apakah senang kalau generasi muda juga ikut merokok ternyata juga tidak senang beliau.          


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme