Bagikan:

Kemenag Klaim Kepadatan di Pemondokan Haji Sudah Diatasi

Masalah ini sudah diatasi dengan menyewa hotel di sebelah hotel-hotel yang mengalami pemadatan.

BERITA

Jumat, 19 Sep 2014 16:42 WIB

Author

Vitri Angreni

Kemenag Klaim Kepadatan di Pemondokan Haji Sudah Diatasi

haji, Pemondokan, kelayakan, Mekah

KBR, Jakarta - Komisi Pengawas Haji Indonesia menemukan pemondokan bagi jemaah Haji di Mekkah dan Madinah tidak memadai atau di bawah standar. Padatnya pemondokan itu terlihat ketika ruang pondok yang mestinya diisi empat orang tapi ternyata diisi enam orang. Hal itu tidak sesuai dengan aturan yang dibuat Pemerintah Arab Saudi.

Irjen Kementerian Agama, M. Jasin, mengaku masalah ini sudah diatasi dengan menyewa hotel di sebelah hotel-hotel yang mengalami pemadatan. Simak penjelasan selengkapnya dalam Program Sarapan Pagi KBR (17/9).

Ada kritikan pemondokan masih di bawah standar, bagaimana?

“Peraturan yang baru dari Kementerian Pariwisata malah kita yang diuntungkan untuk penyelenggaraan haji tahun ini. Karena di Mekah itu setiap hotel disuruh oleh pemerintah Arab Saudi melakukan adjustment sesuai ketentuan satu kamar besar atau kecil isinya hanya empat orang. Tapi ada yang tidak mampu dengan mengisi sesuai peraturan baru itu masih ada yang lima tapi sejauh ini khusus di Mekah tidak ada pemadatan atau over capacity.”

“Insyaallah tidak ada pemadatan karena sudah seiring dengan usaha kita agar tidak terjadi pemadatan, bahkan pada waktu saat pertama kita identifikasi dari 115 hotel itu ada 12 hotel yang berpotensi terjadi pemadatan yang sangat dan ada yang pemadatan. 12 hotel itu sudah kita lakukan renegosiasi, akhirnya ditempatkan hotel sebelahnya sehingga tidak ada lagi pemadatan.”

“Seperti apa yang saya sampaikan tadi ada peraturan dari Arab Saudi yang menekan pemilik hotel di sana agar setiap kamar berapa pun ukurannya harus menempatkan jamaah hanya empat orang. Jadi ini sangat menguntungkan dan kebetulan seluruh hotel yang ada di Mekah itu setiap kamar ada kamar mandinya, AC, kipas angin, dan level hotelnya selevel dengan hotel bintang tiga bahkan lebih bagus dari itu.”

Ini apakah ada hubungannya dengan majmuah kalau misalnya ada yang melanggar kesepakatan yang dibuat terkait buruknya pemondokan?

“Pemondokan di Mekah tidak ada yang melanggar janji karena kita sewanya satu musim. Yang ramai diberitakan media ini kejadian di Madinah, karena kita masih mengacu sistem penyewaan per 8 hari. Jadi istilahnya sewa akomodasi, bukan hotel. Sesuai dengan kontrak ditempatkan di Markasiah, Markasiah artinya 650 meter dari halaman luar Masjid Nabawi di Madinah, di Madinah ini yang nakal.”

Yang nakal ini kemudian mereka yang keluar Markasiah sudah ditarik lagi?


“Dia memaksa. Bahkan kita kalau ada penempatan harus ada persetujuan dari pihak kita. Dia memaksa walaupun kita menolak kontrak yang baru yang dia memaksa untuk menempatkan di luar wilayah 650 meter atau di luar Markasiah. Itu memaksakan akhirnya tetap saja ditempatkan di situ oleh majmuah, padahal dalam kontraknya ada klausula tidak boleh menempatkan di luar Markasiah. Apabila ada indikasi pidana korupsi yang melibatkan orang Indonesia maka harus kooperatif atau bekerja sama dengan penegak hukum Indonesia antara lain KPK, itu ada kontraknya.”  

Dengan kondisi tetap di luar 650 meter itu ada sanksinya?

“Kontrak yang ada di kita itu dilarang menempatkan di luar Markasiah. Klausulanya ada apabila menempatkan di luar Markasiah maka dikenakan denda 300 Real per orang. Sekarang sudah kita data berapa jumlah yang ditempatkan di luar Markasiah, kurang lebih denda yang harus kita tekankan kepada sembilan majmuah itu kira-kira Rp 16,5 miliar yang harus kita tuntut untuk dipotong sesuai dengan katakanlah pengurangan dari pembayaran yang seharusnya.”

“ Itu walaupun ada uang pengembalian kita usulkan sedapat mungkin harus kembali kepada jamaah yang betul-betul menempati di luar Markasiah. Kalau ada denda yang bisa kita tekankan kita berupaya karena dia yang nakal memang dengan berbagai alasan.”

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

100 Hari Kerja Menteri ATR/BPN, Reforma Agraria Belum Memihak Petani

Most Popular / Trending