JJ Rizal: Terjadi Pembunuhan Karakter Terhadap Identitas Depok

Depok itu sebenarnya kota yang secara histori itu memperlihatkan sifat bukan hanya pluralisme tapi di atas itu yang namanya multikulturalisme.

BERITA

Selasa, 02 Sep 2014 10:28 WIB

Author

Irvan Imamsyah

JJ Rizal: Terjadi Pembunuhan Karakter Terhadap Identitas Depok

Depok, JJ Rizal, walikota, savedepok, PKS

KBR, Jakarta - Sebagai Kota multikultural, Depok kini tengah mengalami proses pembunuhan terhadap karakternya. Kultur Tionghoa dan Depok Belanda yang telah menjadi warisan tak ternilai kota penyangga Jakarta ini, semakin lama semakin dipinggirkan. Pelakunya, kelompok penyokong Walikota saat ini, begitu tuding sejarawan JJ Rizal. Keinginan memperbaiki Depok tak semudah membalik telapak tangan. Belum-belum, Rizal yang digadang untuk maju dalam pilkada Februari mendatang, sudah dihadang kelompok penyokong walikota saat ini. Reporter Irvan Imamsyah berbincang bersamanya dalam Sarapan Bersama.

Menarik membicarakan Anda, di Twitter tiba-tiba ada Save Depok, bersihkan Depok dari PKS, dan sebagainya. Apa kabar Depok saat ini?

“Depok ini korban dari suatu politik yang jahat. Karena harusnya dia diurus tapi ini tidak diurus bahkan salah urus, ini problem besar. Ironinya, kader dari partai yang sekarang menjadi pemimpin di Depok dua periode dan sekarang akan berakhir tiba-tiba ingin mengajukan lagi kader dari partai yang sama.”

Soal salah urus dan tidak diurus, konkretnya seperti apa?


“Salah urus misalnya Depok itu sebenarnya kota yang secara histori itu memperlihatkan sifat bukan hanya pluralisme tapi di atas itu yang namanya multikulturalisme. Kita tahu ini dijelaskan dari satu nama tempat misalnya Pondok Cina tapi ada juga tempat yang disebut Belanda Depok. Ini dua kultur tapi di dalamnya ada kultur Melayu Betawi. Jadi ada tiga kultur antara kultur Tionghoa, Melayu Betawi, dan Belanda Depok. Tapi tiba-tiba saat ini baliho-baliho, model tata ruang kota dengan perumahan yang memperlihatkan pembunuhan karakter dari multikulturalisme ini malah disudutkan kepada satu segi kepercayaan tertentu.”

“Ini menurut saya pembunuhan karakter terhadap identitas Depok. Ini menurut saya contoh salah urus dan dikampanyekan kembali pada jati diri, bukan jati diri Depok tapi jati diri pemikiran menurut saya yang konyol. Pada jati diri bangsa direduksi dikerdilkan menjadi kembali makan pakai tangan kanan. Kan Depok itu kota pelajar, banyak universitas, banyak intelektual tapi itu contoh dari kampanye yang sangat tidak terpelajar dan sangat tidak intelek.”

“Depok itu secara historis adalah kota yang diorientasikan harusnya menjadi zona hijau dan zona biru. Sekarang kita bicara tentang zona biru, kota air, Depok punya 24 situ dan situ-situ itu sekarang tidak terawat malah ada yang diuruk. Kalau pun dirawat oleh pemerintah pusat, Situ Cilodong oleh Kementerian Pekerjaan Umum, Situ Pengasinan dikelola oleh komunitas Green Depok. Ini buat saya contoh bagaimana keangkuhan dari satu kelompok yang sebenarnya tidak kenal apa itu Depok tapi coba memimpin Depok yang terjadi adalah kematian bukan hanya raganya tapi juga jiwanya Depok.”

Itu yang membuat Anda maju tiba-tiba melontarkan twit di Twitter siap jadi walikota?

“Sebenarnya menurut saya merespon itu bukan dalam kerangka ingin maju menjadi Walikota Depok. Tapi saya memiliki keresahan dan keresahan itu bukan hanya milik saya tapi ternyata milik banyak orang. Nama saya muncul bukan karena saya mau jadi walikota tapi tiba-tiba muncul dan orang kemudian bicara dengan konteks ya Depok harus diselamatkan, saya cuma menyimpulkan.”

Tapi ketika Anda bicara begitu pihak yang Anda sasar misalnya Tifatul Sembiring yang juga dicalonkan oleh PKS menganggap Anda sejarawan yang salah kaprah. Komentar Anda?

“Menurut saya ini bagian dari sikap atau mentalitas kelompok yang mengidap penyakit otoritarianisme. Jadi seolah-olah seorang intelektual tidak boleh menjadi bagian dari suara publik untuk menyuarakan keresahan-keresahan. Saya bilang sejarawan tidak boleh bicara politik karena akan menjadi propagandis, sejarawan itu tidak ada yang objektif, sejarawan harus memihak pada kebenaran, kebenaran faktualnya seperti apa, dan itu ada metodologinya.”

“Ini yang menurut saya tidak mengerti metodologi sejarah tapi coba ceramah seolah-olah mengerti dan paham metodologi sejarah yang terjadi penampakan seorang dungu. Itu yang membuat saya jengkel, makanya saya potret foto dari seorang begawan sejarah Indonesia Sartono Kartodirdjo yang dibuat buku penghormatan dengan judul Sejarah Yang Memihak.” 

Tifatul harus belajar banyak ya?

“Iya saya bilang harus baca supaya jangan asbun.”

Terlihat Anda saling dorong dengan Andrinof Chaniago. Sebetulnya siapa yang mau maju kalau ada peluang untuk itu?

“Kita sebenarnya sudah berkumpul tapi tidak pernah membicarakan bahwa di antara kita ini siapa yang mau maju. Cuma kita bicara di lingkungan tempat kita tinggal kita merasakan langsung masalah-masalah Depok misalnya Pak Andrinof cerita, Pak Suhaidi cerita. Ini aktivis, pengamat kumpul akhirnya membuat peta masalah dan kemudian kita ketemu digabungkan dengan potensinya kemudian dicari solusi, kemudian kita berpikir figur yang cocok siapa. Kita berpikir bagaimana menggulirkan ini sebagai upaya membangkitkan kesadaran. Depok itu punya problem, kita harus turun tangan tersentak kaget dan harus siap melakukan sesuatu.”

Termasuk Anda siap?

“Iya karena itu ketika ditanya apakah saya siap saya bilang siap. Tapi saya tidak punya duit, rumah pun masih ngontrak, saya tidak punya kendaraan politik tapi saya punya niat baik.”

Secara pribadi ada ambisi kesitu?

“Saya punya ambisi karena saya punya keresahan dan banyak orang punya keresahan. Kalau saya dapat rejeki mewakili keresahan itu saya pikir anugerah yang lebih banyak daripada musibahnya, karena saya menjadi bagian dari arus sejarah. Selama ini saya hanya di pinggiran mengamati arus besar sejarah.”

Ada juga Save Depok, ini bagaimana? apa sebetulnya yang menjadi target dan tujuannya?


“Save Depok itu tujuannya membangun, melembagakan keresahan. Ini semua punya keresahan tapi tidak punya wadah, medium, arah, sinergi dimana mesti memperlihatkan diri, membicarakan dan akhirnya memiliki posisi tawar walaupun bukan menjadi bagian partai politik. Kita bicara ke depan, tujuan kita adalah menciptakan sebuah lembaga yang bisa menjadi sparing partner bagi Pemerintah Kota Depok siapapun itu.”

Anda bertarung untuk maju di Pilkada Depok nanti, lalu ada wadah yang mungkin akan mengerucut. Apakah itu juga akan dimanfaatkan untuk forum yang mengarah pada pencalonan Anda sebagai walikota?


“Di forum itu justru kita membicarakan siapa sebenarnya yang pas. Karena saya punya reputasi, dedikasi tapi apakah saya memiliki kekuatan elektabilitas. Selain elektabilitas apakah saya punya kapasitas untuk persoalan masalah yang nanti kita lihat jauh lebih kompleks dari yang kami bayangkan. Dengan itu kita tidak bisa memaksa bahwa saya harus maju, kita akan berembug untuk mencari figur yang cocok seperti apa. Saya merasa seperti medium yang dipakai untuk memberi warning, harus tersentak waktunya sudah dekat jangan lagi terperosok pada lubang yang sama. Tapi saya pikir ada baiknya juga dan itu saya lakukan karena memang sangat penting dan waktunya sudah sangat dekat.”

Anda maju independen atau akan berangkulan dengan partai politik?

“Itu yang saya katakan bahwa semua berpulang pada Undang-undang Pilkada yang lagi digodok di DPR hasilnya seperti apa.  Kedua juga rasanya hal yang rumit untuk maju tanpa punya kendaraan politik, tapi juga sesuatu yang rumit maju dengan kendaraan politik. Karena kita tahu parpol ini banyak sekali penyamun, jahat. Karena itu yang harus kita bangun adalah kita belajar dari pilpres kemarin justru kita harus punya basis, massa, relawan, jaringan publik yang sangat besar sebagai kekuatan negosiasi atas ide-ide, pikiran, cita-cita sehingga partai memperhitungkan sekali.”

Dari sederet partai yang pas dengan platform Anda apa?

“Kita belum tahu. Partai ini jenis kelaminnya kita tidak pernah tahu, kita pikir partai ini A tapi perilakunya tidak seperti yang kita bayangkan. Ini hal yang rumit, itulah yang kita ngomong namanya kepentingan bukan perjuangan. Kita sekarang digerakkan oleh kepentingan.”

Dengan latar belakang Anda sebagai sejarawan kira-kira kalau disandingkan dengan kemampuan untuk bisa memimpin Depok ini apakah modal yang cukup?

“Kalau saya boleh ge’er saya pikir hidup memang dijalani ke depan tapi dipahami ke belakang. Kota Depok itu menurut saya kota yang punya jejak khas dan ketidakmengertian tentang apa itu Depok yang menurut saya membuat Depok hari ini menjadi keblangsak istilahnya Betawi. Depok itu kota yang multikultural tapi kok sekarang menjadi kota yang mono-culture ya ini konyol menurut saya. Kota yang identik dengan ruang hijau tapi sekarang menjadi ruang beton, ruang abu-abu karena aspal dan gedong melulu. Proyeksi ketidakmengenalan apa itu Depok menurut saya membuat sesat, istilahnya Marco ahli tata ruang membuat sebuah kota menjadi tunggang langgang tidak jelas kemana larinya.”

Anda boleh mengerti soal Depok karena Anda tinggal di Depok, sejarawan pula. Jadi soal Depok sudah mirip Jakarta pinggiran, ada orang Jakarta saja bergeser ke Depok, begitu juga orang Depok mungkin akan geser ke luar Depok. Platform pemilih ini bagaimana karena banyak rupa di kota Depok?           

“Repotnya adalah dalam pemilu di Depok itu banyak sekali orang yang kuliah misalnya tinggal di Depok tapi tidak ber-KTP Depok. Orangnya sangat plural dan yang menarik adalah kota yang tidak mampu menyediakan lapangan kerja untuk penduduknya. Jadi dia menjadi kota singgahan, kota tempat orang hanya tidur, beranak dan tidak punya kepedulian. Dalam konteks sejarah namanya kota yang menjadi hunian para trackers, dia tidak peduli mau rusak atau apa karena dia tidak menjadi believers. Ketika jadi believers dia punya cinta karena kota ini tempat kita hidup, tempat kita beranak cucu bahkan tempat kita mati karena itu harus kita rawat kita jaga.”

Musuh-musuh Anda kalau jadi walikota terbayang ya mesin politiknya kuat, bagaimana?

“Seseorang itu tidak hanya dikenang ketika dia menang tapi ketika dia kalah. Tujuan utama kita adalah membangun kesadaran bahwa kita harus mendirikan institusi publik yang bisa menjadi medium untuk menyuarakan keresahan-keresahan ini. Sehingga yang selama ini terjadi bahwa walikota itu berjalan sendiri tanpa ada yang peduli bahwa dia tidak bekerja, tidak mengurus bahkan salah urus itu tidak terjadi lagi.”

Targetnya bukan menang ya?

“Target kita bukan menang tapi menang itu lebih istimewa, bonus buat kita. Yang kita inginkan adalah kebangkitan partisipasi publik yang sadar bahwa mereka punya kota yang sangat baik yang harusnya menjadi kota yang layak huni berkembang menjadi metropolis tapi hari ini terancam menjadi miseropolis, kota yang sangat tidak layak huni karena banyak kerusakan yang terjadi.”

Anda punya catatan serius soal Nur Mahmudi Ismail memimpin Depok tidak ada perubahan. Kalau Anda jadi walikota apa yang akan Anda mulai lakukan untuk mengubah Depok menjadi lebih baik?

“Pertama yang harus kita lakukan reformasi birokrasi. Kita merasakan sekali bahkan pada tingkat yang paling bawah birokrasi seperti mati, banyak orang mengeluh di tingkat kelurahan melayani sambil main HP atau saya mengurus sesuatu tidak ada mesin antri di kantor walikota, setelah kita protes baru muncul. Itu hal-hal yang menurut saya sangat penting, kemudian Depok dapat anugerah yang menyesakkan kita yang tinggal di Depok sebagai kota yang paling korup dari KPK. Kita harus mereformasi itu karena bagaimanapun ide yang baik, niat yang baik, cita-cita yang baik yang menjalankan itu kan birokrasi.”

Tidak takut didongkel sama orang yang sudah keenakan tinggal di Depok?

“Menurut saya itu peperangan nanti tapi kita harus pancang niat itu untuk memperbaiki. Karena niat baik, harapan-harapan yang baik itu semuan yang akan menjalankan kan birokrasi.”

Satu clue buat warga Depok apa yang ingin Anda sampaikan?

“Bangkit kesadarannya. Tahu bahwa Depok sudah dibunuh bukan hanya raganya tapi juga jiwanya, apa itu tidak menyakitkan, apa itu tidak membuat mereka lalu berontak dan bilang stop kita ingin sesuatu yang baru yang membuat Depok punya jiwa raga yang sehat dan baik.”    

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Vaksinasi Covid-19 dan Ancaman Hoaks

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Bencana Kala Pandemi dan Kesiapan Fasilitas Kesehatan

Kabar Baru Jam 10