Daripada Tawuran, Mending Bertinju

Selasa, 17 Sep 2013 16:26 WIB

Author

Guruh Dwi Riyanto

Daripada Tawuran, Mending Bertinju

Tinju, Tawuran

Sobat teen, saat remaja emosi kita masih labil. Jadi gampang deh tersulut. Nah, kesulitan mengatasi emosi ini kerap jadi pendorong tawuran remaja. Salah satu latihan mengontrol emosi itu bisa dilakukan lewat olahraga tinju. Mungkin sobat teen bingung bagaimana olahraga keras ini bisa membantu mengontrol emosi? Padahal anggapan umum, ini justru bisa memicu orang berkelahi?  Ikuti cerita Kita tentang ekstrakurikuler tinju di SMA 70 dan 82 Jakarta. Cerita Kita yang disusun Kak Guruh Riyanto dari KBR68H.


Sobat teen, sekolah di ibukota memang belum banyak mengadakan ekstrakulikuler tinju.  Tapi, bukan berarti enggak ada lho! Sebut saja SMA 70 Bulungan, Jakarta Selatan yang kini mengadakan latihan tinju bagi para pelajarnya. Kata, Pelatih Tinju SMA 70, Pak Indra Besanto, latihan tinju dapat membentuk kepribadian pelajar. 


“Jadi produk yang kuat. Jadi semuanya bisa, tidak ada istilah. Di tinju, semangat itu diambil. Kita membuat tinju bukan cuman untuk prestasi, tapi juga filosofinya. Komit, nggak mungkin kan, mau naik ring, eh, sorry ya aku ada acara keluarga. Begitu sampai ke atas, kamu mesti menyiapkan diri, begitu sampai di atas, kamu harus berjuang dulu. Begitu di atas ring dia konsekuen dan komitmen dengan apa yang dia omongin. Jadi sudah ada alasan, bertanding mesti berani dan dalam keadaan susah dan tertekan dia bisa mikir, jadi di bawah tekanan juga tidak bakal down. Ini berguna buat kehidupan, itu yang diambil. Masalah itu dia mau nerusin bertinju, ya terserah dia,” kata Pak Indra Besanto. 


Hmmm sayangnya, ekstrakulikuler tinju di kalangan pelajar masih sering  dituding sebagai biang kekerasan di sekolah. Disini, Pak Indra mencoba membangun citra positif olah raga keras ini. Tinju justru meredam tawuran.


“Jatuhnya meredam. Kalau ngilangin tawuran susah, sampai kiamat nyuruh orang tidak berkelahi susah. Diredam, kita bikin kegiatan untuk meredam dan orang ke sana males. Banyak orang berpikir tinju mengajari orang jahat. Tapi tinju justru mengajari orang mengatur emosinya, di atas ring ada aturannya. Ekskul ini sudah masuk TV, disebut sebagai sumber kekerasan di SMA 70. Itu salah. Saya buat aturan anak boxing tidak boleh berantem. Dia mesti jaga nama baiknya boxing,” jelas Pak Indra.   


Selain SMA 70, ada juga lho SMA 82 Jakarta yang membuat ekstrakulikuler ini. Menurut salah satu pelajarnya, Desman Limote, tinju justru membantu pengaturan emosi.


”Kalau latihan tinju seperti hiburan, jenuh, olahraga main tinju. Ini juga mengatur emosi. Kalau kita latihan tinju, kita belajar mengontrol diri, tidak semena-mena di luar. Ngapain kita tunjukan kelebihan kita di luar, mending di ring,” ujar Desman.

   
Desman juga juara pertandingan tinju Bulungan Cup lho. Bagi pelajar kelas 2 SMA itu, bertinju menjadi kegemarannya ketimbang tawuran. “Habis main, kepala dipukul mulu, habis main, pulang gue masukin ke kulkas kepalanya. Panas otak gue biar ngadem. Kalau ketahuan pasti dimarahin dan tidak boleh ikut tinju lagi. Hehe, tapi, gue suka tinju daripada gue tawuran mending berantem di ring. (Pingin jadi atlet tinju?) Nanti dilihat saja kelanjutanna. Kalau jadi petinju pro? Lihat nanti, yang penting sekarang mengutamakan sekolah,” kata Desman.


Tinju juga enggak melulu dilakoni laki-laki loh. Bertanding tinju diajang olahraga juga bisa melibatkan petinju perempuan.  Seperti Marcella Stella dan Dita Nur Sadarina.


”Komentarnya, kok cewek mau sih ikut tinju, jawabannya? Pingin aja, belajar mandiri juga, tambah pengalaman. Pengaturan emosi belajar? Iya,” kata Marcella. Sedang Dia bilang tinju buat tambah pengalaman.  ”Banyak teman-teman dan bisa keluar kota. Belajar beladiri dan tambah pengalaman,” tambah Dita.


Wah, hebat ya perempuan bisa tinju! hihihi. Nah, gimana dengan kamu Sobat Teen? Daripada sering tawuran, tinju mungkin bisa jadi pilihan kamu untuk meredam amarah tawuran.

Editor: Vivi Zabkie

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Cerdik Kelola THR

Kabar Baru Jam 8

Soal Kerumunan, Kegiatan Ibadah dan Ancaman Virus Covid-19 Varian Baru

Jihad itu Sebenarnya Apa Sih?