Undang Pemred ke Istana, Ini yang Dibocorkan Jokowi soal Kabinet

“Yang ngeyel kadang kita perlukan, untuk mendobrak sesuatu. Tapi juga harus bisa benahi dan bangun sistem.”

BERITA | NASIONAL

Rabu, 14 Agus 2019 17:06 WIB

Author

Citra Dyah Prastuti

Presiden Joko Widodo (Foto: Antara)

Presiden Joko Widodo (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Presiden Joko Widodo memastikan susunan kabinet di periode kedua kepemimpinannya sudah final dan akan segera diumumkan. 

“Kabinet bisa diumumkan sebelum pelantikan, bisa juga setelahnya. Masa nunggu dua bulan nggak kuat?” kata Jokowi, meski tak merinci lebih lanjut, saat bertemu dengan sejumlah pemimpin redaksi media di Istana Negara, Jakarta, Rabu (14/8/2019). 

“Ada yang di bawah 35 tahun, ada yang di bawah 30 tahun,” kata Jokowi memberi sedikit bocoran. 

Ia menekankan, para menteri harus memiliki kemampuan manajerial. “Menteri harus mengerti soal manajemen. Ini kan soal manajemen, soal tata kelola.” 

Ia juga menggarisbawahi pentingnya para menteri menguasai permasalahan di lapangan, serta menjadi eksekutor yang kuat dalam menyelesaikan masalah. 

Selain itu, Presiden Jokowi juga menjabarkan kalau mayoritas menteri di kabinet berikutnya berasal dari kalangan profesional. 

“55 persen dari profesional, 45 persen dari partai.”

Presiden Jokowi menyadari publik banyak berkomentar soal kegaduhan antarmenteri yang terjadi di kabinetnya dan ia tak mempersoalkan itu.

“Yang ngeyel kadang kita perlukan, untuk mendobrak sesuatu. Tapi juga harus bisa benahi dan bangun sistem.”

Presiden Joko Widodo menjelaskan, penyusunan kabinet dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai macam aspek.

“Meramu kabinet itu sulit,” kata Jokowi. 

Aspek yang dipertimbangkan di antaranya keberimbangan asal daerah, gender, agama, ormas serta usulan nama dari partai politik. 

“Kecepatan,” kata Presiden Jokowi setelah berpikir beberapa saat ketika ditanya soal apa yang diharapkan dari kabinet yang akan datang. “Kecepatan dalam penggunaan sistem IT, digitalisasi serta kecepatan respons.”

Jokowi memastikan akan memberi target yang jelas dan fokus kepada setiap menteri. 

“Setiap menteri dapat KPI (Key Performance Indicator) tidak banyak, supaya fokus. Maksimal tiga.”

Ia memberi contoh, target untuk Kementerian Pendidikan berupa nilai PISA (Programme for International Student Assessment) yang mengukur pencapaian pendidikan di tanah air. PISA adalah sistem ujian yang mengevaluasi sistem pendidikan di 72 negara. Setiap tiga tahun, siswa berusia 15 tahun dipilih secara acak untuk mengikuti tiga tes yaitu membaca, matematika dan sains.

Editor: Rony Sitanggang

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Tim Teknis Pengungkapan Kasus Novel Dinilai Belum Ungkap Apapun