Pengetahuan Dari Lembaran Lontar

Di Bali, ada seorang anak muda yang dengan suka rela mempelajari isi pengetahuan yang ditulis di lembaran-lembaran lontar.

Lembaran naskah sastra lontar (foto: Taufik/KBR)

Senin, 12 Agustus 2019

Sastra lontar. Mungkin banyak di antara kita yang tak tahu apa isi serta bentuk rupanya. Di Bali, ada seorang anak muda yang dengan suka rela mempelajari isi pengetahuan yang ditulis di lembaran-lembaran lontar. Ia lantas mendatangi satu per satu keluarga yang masih menyimpan lembaran lontar tersebut. Jurnalis KBR Dwi Reinjani bertemu Putu Eka Guna Yasa, sang pelestari sastra lontar asal Bali. 

- Pengetahuan Dari Lembaran Lontar
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

Putu Eka Guna Yasa bersiap membersihkan lembaran naskah lontar (foto: Taufik/KBR)

KBR, Bali- Putu Eka Guna Yasa, pemuda asal Pulau Bali ini terlihat cekatan membersihkan lembaran - lembaran lontar di hadapannya. Bentuknya seperti tripleks berukuran tiga sentimeter, dengan panjang 50 cm, berwarna coklat seperti kayu. Di atasnya terukir beberapa baris kalimat dengan huruf Bali kuno. Baunya khas kayu yang sudah lapuk.

Satu naskah terdiri dari beberapa lembar daun lontar kering, yang ditumpuk dan diikat. Sebagian besar ukiran naskah tidak terlihat jelas, adapula beberapa lembar naskah yang koyak termakan usia.

Duduk bersila tanpa alas di sebuah teras dengan ukiran khas bali, pria 29 tahun ini mulai membersihkan sastra lontar menggunakan minyak kemiri dan minyak sereh. Ini dilakukan untuk menjaga keaslian lembaran lontar yang berusia puluhan bahkan ratusan tahun.

Ini adalah kegiatan Putu Eka Guna Yasa selain pekerjaanya sebagai Dosen di Universitas Udayana Bali. Ia kerap berkeliling dari satu rumah ke rumah lain untuk membersihkan lembaran daun lontar.

Kenapa naskah lontar ini penting? Karena naskah lontar itu merupakan wahana literasi bagi masyarakat Bali. Leluhur di masa lampau menuangkan berbagai sari pemikiran untuk dititipkan ke pada generasi yang hidup di masa kini,” kata Putu Eka kepada KBR.  

Leluhur di masa lampau menuangkan berbagai sari pemikiran untuk dititipkan ke pada generasi yang hidup di masa kini

- Putu Eka Guna Yasa - Pelestari Sastra Lontar

Pada abad ke-20, lontar adalah alternatif bagi masyarakat Jawa, Madura, Bugis dan Bali untuk menuliskan ilmu pengetahuan yang mereka temukan.

Tim Penyuluh Bahasa Bali pada 2016 mencatat ada 8 ribuan lembar naskah yang tersebar di seluruh Bali. Sayangnya 2.000 diantaranya rusak.

Inilah yang mendorong Putu Eka berkeliling mengumpulkan sastra lontar hingga bersusah payah menerjemahkan aksara kuno Bali di lembaran-lembaran lapuk itu.

“Kebetulan ada lembaga di Universitas Udayana, melakukan berbagai aktivitas terutama yang berkaitan dengan lontar. Mulai dari pengidentifikasian naskah-naskah lontar yang ada di masyarakat, melakukan usaha untuk konservasi atau perawatan naskah-naskah lontar yang ada di masyarakat, termasuk juga melakukan proses pembacaan terhadap naskah-naskah lontar yang ada di masyarakat,” ujarnya. 


Menurut Putu Eka, tak banyak warga Bali yang bisa membaca aksara kuno Bali. Ia menyebut, beberapa tahun silam saat ada program pengentasan buta aksara, Masyarakat yang bisa membaca aksara Bali dianggap tidak bisa membaca. Padahal mereka mampu memahami aksara daerah.

“Nah kemampuan untuk membaca aksara Bali dengan tata ejaan ini menjadi kendala pertama. Karena masyarakat Bali sudah sedemikian rupa menggunakan aksara Latin dalam aktifitas kehidupannya sehari-hari,” jelasnya.

Putu Eka mengungkapkan ada segudang pengetahuan tak ternilaidi setiap lembaran lontar itu. Kata Putu Eka, semua tergambar jelas mulai dari soal kesehatan hingga Astronomi.

“Sistem pengetahuan yang diwarisi oleh para leluhur kita ini memiliki kecanggihan tersendiri untuk menjawab tantangan zaman. Tentang pengobatan misalnya, tercatat dalam naskahlontar usade. Berkaitan dengan ilmu arsitekstur masyarakat Bali, terdokumentasi dalam naskah-naskah lontas Silpa Sastra,” kata Putu Eka. 

Sistem pengetahuan yang diwarisi oleh para leluhur kita ini memiliki kecanggihan tersendiri untuk menjawab tantangan zaman

- Putu Eka Guna Yasa - Pelestari Sastra Lontar

Salah satu keluarga pemilik puluhan sastra lontar adalah Ida Bagus Surya Dharma.

Keluarga ini memiliki 40 lembar daun lontar berisi naskah sastra.

“Kalau ada di sini kurang lebih 40-an. (Pembuatan tahun berapa?) Kalau dibuat kira-kira dari 1868. Isinya salah satunya tentang seorang Walaka akan menjadi Sulinggih atau Pendeta, terus tentang arsitektur, terus tentang kekawin-kekawin ada juga, terus tentang Puja Astrawo tentang mantra-mantra,” kata Ida Bagus.

Ida Bagus mengaku sebelumnya tak paham cara membaca naskah tersebut. Ia mengaku baru belajar membaca naskah yang diukir diatas lontar setelah bertemu dengan Putu Eka. Begitupun soal perawatan naskah yang sudah disimpan secara turun temurun baru terawat setelah Putu Eka yang rutin datang ke kediamannya.

“Kalau saya cuma dikit-dikit saja bisa. Tapi untuk yang begini-begini tuh belum, belum. (Apakah orangtua dulu mengajarkan?) Orang tua nggak pernah, kakek yang mengajarkan,” katanya.

Putu Eka mengaku terbantu dengan keluarga-keluarga seperti Ida Bagus Surya Dharma, yang membukakan pintu terhadap pengetahuan tak ternilai dari sastra lontar. 

Untuk Putu Eka, sastra lontar adalah sistem pengetahuan yang penting untuk dilestarikan. Ia berharap, semakin banyak orang tertarik untuk mempelajari sastra lontar sehingga cakrawala pemikiran leluhur yang tetap aktual untuk menghadapi dinamika zaman ini bisa kita dapatkan.