Pembalak Jadi Pemandu Wisata Nyarai

Ratusan penebang liar meninggalkan gergaji mesin, beralih menjadi pemandu wisata.

Wisata Air Terjun Nyarai, Padang Pariaman, Sumatera Barat. (Foto: Alvan Noviar/KBR)

Selasa, 13 Agustus 2019

Desa wisata Nyarai di Padang Pariaman, Sumatra Barat sudah dikunjungi hampir 100 ribu wisatawan dalam dan luar negeri. Kawasan di hutan Gamaran ini semula jadi lokasi penebangan liar. Kini ratusan penebang liar meninggalkan gergaji mesin, beralih menjadi pemandu wisata.  

- Pembalak Jadi Pemandu Wisata Nyarai
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

Namanya Sep Malion Dolarman atau biasa dipanggil Asep, pemandu wisata di Nagari atau Desa Salibutan, Padang Pariaman, Sumatra Barat.  Sejak lulus Sekolah Dasar, Asep menjadi anak kayu. Tugasnya menghela kerbau yang membawa kayu curian dari hutan. Kini pekerjaan berisiko itu tak lagi dia lakukan dan beralih menjadi pemandu wisata.

Dulu saya waktu kecil pernah dibawa orang tua saya untuk diajari  cara merambah liar, menebang kayuSetelah ada air terjun nyarai ini kami sudah berubah drastis. Dulu saya pembalak liar, tukang tarik-tarik kayu pakai  kerbau sekarang sudah tidak lagi. Uangnya lebih menghasilkan daripada kayu. Kerja kita lebih ringan, cuma mengiringi tamu,” kata Sep Malion Dolarman.

Asep hanya tamatan SD. Tapi dari hasil memandu wisatawan, ia bisa menyekolahkan adiknya hingga perguruan tinggi.

Kerbau dan sapi juga bisa dibelinya, semua itu berkat kerja keras Ritno Kurniawan.Alumnus Universitas Gadjah Mada itu butuh dua tahun meyakinkan warga untuk meninggalkan gergaji mesin dan beralih mengelola wista. 

Jelas tidak mudah, lantaran sekitar 80 persen warga Nagari Salibutan menggantungkan hidup dari membalak kayu hutan. Ritno mengaku pernah diancam menggunakan parang oleh warga sekitar.

Karena mungkin belum kenal kita. Jadi ada tim kita yang diancam juga sama parang didatangi ke rumahnya untuk menghentikan atau melarang kita. Ini karena dia takut kegiatan ini  dapat membahayakan profesi mereka di  hutan. Ancaman itu tidak  langsung ke saya tapi dihembuskan fitnah mengenai saya.  

Selain ancaman dari para cukong kayu, penolakan juga datang dari para ninik mamak atau tokoh masyarakat. Yanto salah satu warga mengingat kembali peristiwa 6 tahun silam.

Karena ninik mamak dan pemuka masyarakat berat memberi izin wisata nyarai. Mereka  takut mengganggu usaha mereka. Karena penghasilan warga dari tani dan ke hutan. Seandainyo tidak menjalani usahanya untuk menebang kayu kan itu makanya ditakutkan,” kata Yanto  

Namun, berbagai ancaman dan penolakan itu tak membuat Ritno gentar. Ia terus berupaya meyakinkan ninik mamak dan warga bahwa apa yang ia tawarkan takkan merugikan masyarakat.

Kita temui ternyata masyarakat menolak karena mereka terganggu. Jadi mata pencarian terganggu. Akhirnya kita datangi tokoh masyarakat yang ada di situ, kita utarakan kemauan kita. Akhirnya masyarakatdi situ mau menerima, karena ada sokongan dari tokoh masyarakat. Lalu masyarakat  memberikan izin kepada kita untuk wisata dengan syarat melibatkan warga, tidak boleh buat maksiat dan hari Jumat tutup,” katanya. 



Jadi ada tim kita yang diancam juga sama parang didatangi ke rumahnya untuk menghentikan atau melarang kita

- Ritno Kurniawan

Kini hampir 100 persen warga mendukung dan terlibat dalam aktifitas wisata alam air terjun Nyarai. Ninik Mamak yang semula menolak berbalik menjadi pelindung untuk lebih mengembangkan wisata ini.

Seperti Pendekar Arsil, ninik mamak Nagari Salibutan. Ia awalnya menolak ide dari Ritno. Kala itu menurutnya tak ada yang cocok untuk dijadikan wisata. Namun saat ini, hampir 200 warga menjadi pemandu wisata.

Lebih banyak orang yang menolak, tidak boleh. Tidak ada yang cocok dengan tema wisata. Sekarang ninik mamak sudah mengakui ini bagus. Alhamdulilah setelah ada wisata nyarai  warga terjamin. Tak ada lagi penebangan di hutan.  Penebang tak ada lagi. Warga sudah sukses. Pemandu sampai 200 orang di sini.

Sejak mulai dirintis pada 2013, kini sudah hampir 100 ribu wisatawan yang berkunjung. Sekitar 20 ribu di antaranya datang dari mancanegara. Itu sebab dari lebih 150 pemandu, ada  tujuh yang telah memiliki lisensi pemandu internasional.


Ritno berharap Nyarai bisa menjadi destinasi wisata internasional. Ekonomi warga sekitar hutan tumbuh dan alam lestari.

Sekarang sudah dalam tahap pengembangan. Dan di Nyarai ini, kami targetnya menjadi destinasi geopark nasional, mudah-mudahan bisa.  Dan Pemerintah bisa melihat ekonomi wisata  minat khusus yang berkembang di Sumatra Barat bisa mendapat perhatian juga,” kata Ritno.