Jokowi ke Malaysia dan Singapura: Diplomasi Kabut Asap?

"Bersama Mahathir sejumlah isu strategis akan dibahas, antara lain tentang wilayah perbatasan, perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI), dan diskriminasi kelapa sawit oleh Uni Eropa."

BERITA , NASIONAL

Kamis, 08 Agus 2019 15:12 WIB

Author

Dian Kurniati, Khairunnisa

Jokowi ke Malaysia dan Singapura: Diplomasi Kabut Asap?

Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pekanbaru dibantu Pemadam Kebakaran berjibaku memadamkan bara api yang membakar lahan gambut ditengah pekatnya asap kebakaran lahan di Pekanbaru, Riau, Selasa (6/8/2019). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Hanya berselang dua hari setelah menyatakan rasa malunya karena kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali masuk ke negara tetangga, terutama Malaysia dan Singapura, Presiden Joko WIdodo terbang ke luar negeri untuk melawat ke dua negara tetangga, Kamis (8/8/2019) sore.

Sebelumnya, saat memberi pengarahan dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Tahun 2019, di Istana Negara, Jakarta, Selasa (6/8/2019), Jokowi mengaku dirinya kadang-kadang merasa malu dengan negara tetangga. 

"Saya kadang-kadang malu. Minggu ini saya mau ke Malaysia dan Singapura. Tapi, saya tahu minggu kemarin sudah jadi headline, jadi HL, 'Jerebu masuk lagi ke negara tetangga kita'," tutur Jokowi.

Karena masih kurang paham dengan makna kata 'jerebu', Jokowi mencari tahu dan kemudian menemukan artinya, yaitu asap.

Saat meresmikan Gedung Sekretariat ASEAN di Jakarta, Kamis pagi tadi, Jokowi menegaskan rencananya untuk melakukan lawatan kenegaraan ke Malaysia dan Singapura. Tapi, pernyataan itu tidak menegaskan bahwa kunjungan kenegaraan tersebut antara lain untuk membahas dampak kabut asap akibat Karhutla di Indonesia.

Jokowi hanya menjelaskan, hendak bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad dan mendiskusikan sejumlah hal. Lagi-lagi, tanpa menyebutkan topik bahasan mengenai dampak kabut asap Karhutla.

Kata Jokowi, ia akan membahas sejumlah isu strategis dengan Mahathir, diantaranya tentang wilayah perbatasan, perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI), dan diskriminasi kelapa sawit oleh Uni Eropa. Jokowi berharap pertemuannya dengan Mahathir menghasilkan kesepakatan yang saling menguntungkan bagi kedua negara.

"Banyak hal yang perlu dibicarakan dengan Tun Doktor Mahathir Mohamad, terutama yang tentang perbatasan, TKI kita. Termasuk mengenai diskriminasi minyak kelapa sawit kita. Itu yang utama," kata Jokowi di Gedung ASEAN, Jakarta, Kamis (8/8/2019).

Ditambahkan Jokowi, pertemuannya dengan Mahathir akan banyak membicarakan berbagai masalah yang dialami kedua negara, termasuk yang bersumber dari negara luar. Misalnya soal diskriminasi produk kelapa sawit dan turunannya oleh Uni Eropa. Kebijakan diskriminatif itu, kata Jokowi, sangat merugikan Indonesia dan Malaysia sebagai produsen minyak kelapa sawit. 

Jokowi dijadwalkan berangkat menuju Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis sore ini. Setelah dari Malaysia, Jokowi direncanakan melanjutkan lawatan kenegaraan ke Singapura dalam rangka memenuhi undangan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong dalam acara peringatan 50 Tahun Kemerdekaan Singapura.

Tidak secara khusus Jokowi menyebut rencana lawatannya ke Malaysia dan Singapura untuk membahas dampak kabut asap akibat Karhutla di sejumlah wilayah di Indonesia.

Kabut Asap, Berpotensi Picu Perselisihan Diplomatik

Sementara itu, Direktur Singapore Institute of International Affairs (SIIA) Simon Tay mengaku khawatir, bahwa 'kiriman' kabut asap dari Indonesia ke Malaysia dan Singapura, justru akan berpotensi memicu perselisihan diplomatik.

"Sudah tiga tahun berlalu, Karhutla di Indonesia tidak ditangani dengan serius. Sedangkan khusus untuk tahun ini, fenomena El-Nino semakin memperburuk kabut asap akibat Karhutla yang terjadi. Tak mengherankan bila kabut asap kembali mencapai wilayah Malaysia dan Singapura," ujar Simon seperti dikutip dari laman eco-business.com.

Editor: Fadli Gaper

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Aliansi Mahasiswa Papua Tolak Pertemuan Jokowi-Tokoh Papua

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14