Dukacita untuk 'Mbah Moen'

Beliau adalah kiai kharismatik, kiai yang selalu menjadi rujukan-rujukan bagi umat Islam, terutama dalam hal fikih. Dan beliau juga sangat gigih dalam menyampaikan masalah NKRI harga mati.

BERITA , NASIONAL

Selasa, 06 Agus 2019 15:56 WIB

Author

Dian Kurniati, Anindya Putri

Dukacita untuk 'Mbah Moen'

Presiden Jokowi ketika menyalami Pimpinan Pondok Pesantren Al Anwar yang juga Ketua Majelis Syariah PPP KH Maimun Zubair. (Foto: Antara/Widodo S. Jusuf)

KBR, Jakarta - Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo menyampaikan belasungkawa atas wafatnya ulama KH Maimoen Zubair, saat beribadah haji di Mekkah, Arab Saudi.

Kiai kharismatik asal Jawa Tengah yang akrab disapa Mbah Moen itu wafat pada Selasa (6/8/2019), sekitar pukul 04.17 waktu Mekkah, atau 8.17 WIB.

Bagi Jokowi, Mbah Moen merupakan tokoh agama yang nasionalis, dan menjadi contoh baik untuk masyarakat.

Jokowi juga merasa kehilangan karena meninggalnya Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) itu.

"Beliau adalah kiai kharismatik, kiai yang selalu menjadi rujukan-rujukan bagi umat Islam, terutama dalam hal fikih. Dan beliau juga sangat gigih dalam menyampaikan masalah NKRI harga mati. Oleh sebab itu, kita sangat kehilangan," kata Jokowi di Istana Negara, Selasa (06/08/2019).

Jokowi mengatakan, Kiai Maimoen Zubair banyak memberinya nasihat dalam menjalankan pemerintahan.

Orang nomor satu di Indonesia itu juga mengenang pertemuannya dengan Mbah Moen di Pondok Pesantren Al Anwar, Rembang, Jawa Tengah, saat Maimun selalu mengajak salat berjamaah di kamar.

Hal senada juga diungkapkan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Ganjar juga menyampaikan berbelasungkawa dan merasa kehilangan atas kepergian KH Maimoen Zubair.

"Yang pertama kami atas nama pribadi, keluarga dan Gubernur menyampaikan duka yang mendalam. Innalillahiwainnailaihirojiun, kita berdoa semoga Mbah Moen khusnul khotimah. Saya agak bergetar hati saya karena sebelum beliau pergi ke Mekkah, saya ke rumahnya. Kebetulan saya sebelum itu bertemu Ibu Megawati, Ibu mau ketemu Mbah Moen dan Mbah Moen bilang luar biasa," kata Ganjar kepada KBR di Semarang.

Ganjar menceritakan, ia sempat bertemu dengan Mbah Moen di kediamannya di Sarang, Rembang, sebelum Mbah Moen berangkat ke Tanah Suci.

Saat itu, Ganjar datang tepat pukul 17.00 WIB dan belum melaksanakan Salat Ashar.

"Kemudian Mbah Moen mengajak untuk sholat bersama," katanya.

Di mata Ganjar Pranowo, sosok Mbah Moen merupakan sosok nasionalis dan ulama yang rendah hati serta penyayang. Meskipun kyai sepuh, lanjut Ganjar, namun Mbah Moen tidak pernah menganggap orang lain lebih rendah darinya.

"Mbah Moen itu sosok yang rendah hati, dan penuh welas asih," katanya.

Disinggung apakah Ganjar akan mengusulkan nama Mbah Moen menjadi pahlawan nasional, ia  mengatakan belum berfikir sejauh itu.

"Saat ini kami sedang berkoordinasi dengan tim yang ada di Mekkah, apakah almarhum akan dimakamkan di sana atau di Indonesia. Kami sekarang sedang fokus soal itu dulu," Katanya.

Kedekatan Ganjar dengan Mbah Moen terjadi setelah putra Mbah Moen, Taj Yasin Maimoen ditunjuk mendampinginya memimpin Jawa Tengah.

Editor: Kurniati Syahdan
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Melawan Sampah Plastik di Samarinda

Melawan Sampah Plastik di Samarinda

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18