50 Pekerja Migran Terancam Dideportasi dari Singapura

Setelah diberangkatkan oleh penyalur ke Singapura, mereka ditolak calon majikannya karena tidak punya dokumen resmi.

BERITA , NASIONAL

Kamis, 08 Agus 2019 16:58 WIB

Author

Hermawan Arifianto

50 Pekerja Migran Terancam Dideportasi dari Singapura

Pekerja migran ilegal Indonesia yang dideportasi dari Malaysia di pelabuhan PT. Pelindo I Dumai, Riau (19/7/2019). Kini sekitar 50 pekerja migran di Singapura terancam menghadapi nasib serupa. (Foto: ANTARA/Aswaddy Hamid)

KBR, Banyuwangi- Sekitar 50 pekerja migran Indonesia asal Banyuwangi, Jawa Timur, terancam dideportasi dari Singapura.

Menurut Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Banyuwangi Agung Sebastian, awalnya mereka direkrut sebuah perusahan penyalur tenaga kerja di Malang, Jawa Timur, dan dijanjikan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga.

Namun, setelah diberangkatkan oleh penyalur ke Singapura, mereka ditolak calon majikannya karena tidak punya dokumen resmi.

“Mereka (pekerja migran) tidak melalui mekanisme penempatan sesuai aturan undang-undang. Mereka tidak didaftarkan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Asuransi jaminan sosialnya itu tidak didaftarkan," jelas Ketua DPC SBMI Banyuwangi Agung Sebastian kepada KBR, Kamis (8/8/2019).

"Kemudian tidak melewati Dinas Tenaga Kerja di daerah sebagai pintu kedua selain desa. Tidak ada bimbingan-bimbingan situasi kerja di sana akan bagaimana,” lanjutnya.

Ketua DPC SBMI Banyuwangi melaporkan, kini sebagian pekerja migran yang terancam deportasi itu berada di KBRI Singapura, sedangkan sebagian lainnya tersebar di sejumlah tempat.

"Mereka menunggu kejelasan untuk dipulangkan ke Indonesia," ujarnya.

SBMI Banyuwangi mengaku sudah mengirim surat pemberitahuan soal kasus ini ke Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur dan Kementerian Tenaga Kerja. Namun, hingga sekarang pemerintah belum memberi respon.

Editor: Adi Ahdiat 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Masyarakat Sipil Tolak Rencana Amandemen UUD 1945