Share This

Koalisi Indonesia Kerja Galang Seratusan Jubir, Zulkifli Hasan Heran

"Juru bicaranya gak semua boleh bicara nanti kan bingung. Kalau jubir ratusan orang bicara gimana?” 

BERITA , NASIONAL

Selasa, 14 Agus 2018 16:55 WIB

Calon presiden petahana Joko Widodo bersama Sekretaris Jendral PDIP Hasto Kristianto (kanan) dan politikus PDIP Ario Bimo (kiri) tiba di Posko Cemara, Menteng, Jakarta, Minggu (12/8) rapat konsolidasi membahas tim pemenangan. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Kubu Capres dan Cawapres Joko Widodo-Ma’ruf Amin,  merapatkan barisan para juru bicara. Jumlah mereka ada banyak: 108 orang. Jumlah jubir sebanyak ini, langsung saja jadi cibiran para lawan politik. Sedangkan mereka yang sepakat menyebut,  itubukti, Joko Widodo dan Ma’ruf Amin, merangkul banyak pihak.

Hari Senin kemarin di Jakarta, mereka digodok untuk menjadi jubir yang siap diterjunkan, sebagai bagian dari Tim Kampanye Nasional, untuk pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin. Menurut Sekjen Sekjen Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto, para jubir berlatar belakang  beragam. Ada yang artis, anggota DPR, pengacara, aktivis, jurnalis dan masih banyak lagi.

Kata Hasto Kristiyanto, pembekalan untuk menyatukan narasi, dan strategi komunikasi politik.

"Ada yang juga sangat memahami tentang nawacitanya pak Jokowi, sehingga saling melengkapi. Karena itulah hari ini lebih kepada pembekalan untuk menyatukan seluruh narasi yang dibangun bagi pemenangan pak Jokowi, strategi-strategi komunikasi politiknya." Ujar Hasto dalam konferensi pers di hotel Oria Jakarta, Senin (13/8/2018).

Jumlah jurubicara yang mencapai lebih dari seratus orang ini, kontan saja membuat kubu lawan politik Jokowi - Ma’ruf Amin nyinyir.

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan misalnya. Ia sungguh heran, mengapa bisa sampai sebanyak itu jumlah jubirnya? Kata dia, seharusnya, bukan juru bicara yang diperbanyak, tapi justru juru kampanye.  

“Yah juru bicaranya gak semua boleh bicara nanti kan bingung, kalo jurkam (juru kampanye) ya banyak, tapi kalau jubir ratusan orang bicara gimana?” Tutur Zulkifli.

Tapi kata pakar komunikasi dari Universitas Indonesia, Ade Armando, jumlah jubir Jokowi - Ma’ruf Amin yang sebegitu banyak, adalah hal biasa saja. Alasannya, pendukung   tersebar dimana-mana.  

Itulah mengapa jumlah jubirnya banyak, supaya para pendukung tetap bisa saling terorganisir. Karena setiap informasi, datangnya akan sama, berasal dari satu sumber, dan disebar juga ke banyak orang.  

“Ya karena barangkali memang yang harus ketemu sama rakyat itu ya musti sebanyak itu. Begini. Pak Jokowi itu kan banyak pendukungnya yang terpencar-pencar, ada di komunitas mana, di komunitas mana lagi. Jadi tidak dalam satu kesatuan. Tidak terkonsolidasilah.”

Pakar komunikasi UI, Ade Armando juga menilai, sedikitnya ada tiga hal krusial, yang harus disuarakan, oleh para jubir Jokowi - Ma’ruf Amin. Di antaranya kontestasi melawan kubu Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, seperti dalam kasus uang mahar politik.
 
“At least ada 3. Menyuarakan keberhasilan, menyuarakan pencapaian, misalnya Asian Games ini contoh paling gampang. Yang kedua adalah menjawab tuduhan fitnah hoax serangan terhadap Jokowi. Dan ketiga yang spesifik dalam kontestasi antara Jokowi melawan Prabowo.”   

Kalaupun ada sosok-sosok yang kontroversial, diantara 108 jurubicara kubu Jokowi - Ma’ruf Amin ini, Ade Armando menganggap tak perlu ada masalah.  

“Jadi memang, pendekatan tim Jokowi itu rupanya merangkul kalangan-kalangan yang dianggap berseberangan selama mereka mau. Tidak dengan paksaan, enggak tahu apakah dapat imbalan apa enggak. Tapi mereka itu dilibatkan agar menjadi jurubicara. Mungkin Pak Farhat, Pak Farhat bukan dari kubu sana, tapi berasal dari wilayah non politis yang suara-suaranya sering didengar walaupun kontroversial, banyak dikutip oleh media. Dia bisa menjadi wakil dari kubu Jokowi.”

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.