Share This

Budaya Kerja 9 to 5 Tidak lagi Digemari

Apakah benar mitos bahwa pekerja 9 to 5 membuat para karyawannya menjadi lebih bahagia?

BERITA , INTERMEZZO

Kamis, 23 Agus 2018 16:48 WIB

Suasana perkantoran dan gedung bertingkat di kawasan Jakarta. (Foto: Antara)

Budaya kerja "9 to 5” dinilai sudah tak sesuai zaman. YouGov, sebuah perusahaan riset dan analisis data pasar berbasis internet internasional yang berkantor pusat di Inggris mengemukakan fakta bahwa budaya kerja tradisional itu sudah mulai ditinggalkan. Hal ini diketahui dari pengakuan sebanyak 4000 masyarakat Inggris yang menjadi responden dalam survey. Separuh responden tersebut merupakan karyawan, sisanya adalah pelajar serta pensiunan. 

Lalu budaya kerja apa yang lebih digemari karyawan saat ini?

Para responden yang berasal dari kategori full-time employment mengatakan, mereka lebih suka jika bisa memulai pekerjaan lebih awal dan mengakhirnya dengan lebih cepat, yakni “8 to 4” atau “7 to 3”.

Mayoritas responden beralasan budaya kerja 9 to 5 membuat mereka kesulitan untuk bisa mengembangkan diri mereka di bidang dan pekerjaan lain.

4 dari 5 orang tua dan para pelajar mengungkapkan budaya kerja yang lebih fleksibel mempermudah mereka untuk memiliki waktu lebih banyak dan berkualitas dengan keluarga. Secara khusus pelajar juga mengatakan waktu yang lebih fleksibel membuat mereka bisa berkomitmen dengan tanggung jawab pendidikan. Hanya di bawah 48 persen yang mengatakan bahwa mereka rela bekerja lebih dalam sehari untuk mendapatkan jam kerja yang lebih singkat dalam satu minggu.

Ketika ditanya perihal indikator apa yang membuat sebuah pekerjaan menjadi pekerjaan yang berkualitas, 2 dari 3 orang mengaku tempat kerja yang nyaman dan 60% diantaranya mengatakan karena faktor lokasi tempat kerja yang terjangkau.

Jajak pendapat ini juga dilakukan kepada perusahaan McDonalds, di mana mereka mempekerjakan 90% pekerjanya dengan kontrak kerja yang fleksibel. Dalam penelitian yang terpisah, 1.000 karyawan McDonalds mengatakan bahwa mereka menemukan keleluasaan dan kesempatan dalam mengembangkan diri mereka.

CEO of McDonalds Inggris dan Irlandia, Paul Pomroy mengatakan, “Para pengusaha perlu menciptakan kesempatan kerja kepada tiap orang apa pun umur, latar belakang kehidupan serta ambisi mereka. Hal itu, kata Pomroy sangat berkaitan dengan bagaimana menciptakan kebahagiaan dan kesehatan mental dalam dunia kerja. Banyak orang tidak ingin bekerja lagi mulai jam 9 pagi hingga 5 sore.

Vlogger Anna Whitehouse, atau yang biasa dikenal sebagai Mother Pukka mengatakan bahwa kerja yang fleksibel adalah sebuah hal dasar yang harus ada dalam struktur dunia kerja. Kita melihatnya sebagai hubungan dua arah, di mana pengusaha harus mempercayai para karyawannya, sebaliknya, para karyawan harus bertanggung jawab dalam menyelesaikan kewajiban mereka.(Hufftingtonpost/mlk)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.