Pencerah Nusantara, Mengirim Paramedis ke Wilayah Terpencil

Mereka adalah anak muda yang terpanggil.

BERITA

Kamis, 14 Agus 2014 22:28 WIB

Author

Agus Luqman

Pencerah Nusantara, Mengirim Paramedis ke Wilayah Terpencil

Pencerah Nusantara, MDGs, dokter, Puskesmas

KBR, Jakarta – Tiga puluh lima orang terpilih ini sekarang tengah mengikuti pelatihan intensif selama enam pekan. Mereka adalah para Pencerah Nusantara, anak muda dengan latar belakang kesehatan dan non-kesehatan yang siap dikirim ke Puskesmas di daerah terpencil selama satu tahun. Ada yang dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, juga pemerhati kesehatan. 


Gerakan Pencerah Nusantara muncul dari inisiatif Kantor Urusan Presiden RI untuk Millenium Development Goals atau MDGs. Alasan utamanya adalah karena ada kebutuhan pelayanan kesehatan primer yang lebih baik di tingkat akar rumput. Para Pencerah Nusantara ini bertugas mengoptimalkan pelayanan kesehatan primer atau Puskesmas demi mencapai target MDGs. Pada 17 September  mendatang, para Pencerah Nusantara angkatan ketiga ini akan ditempatkan di tujuh daerah yaitu Toli-Toli dan Sigi di Sulawesi Tengah, Berau di Kalimantan Timur, Ende di NTT, Karawang di Jawa Barat, Pasuruan di Jawa Timur, dan Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat. 


Diah Saminarsih, Ketua Program Pencerah Nusantara mengatakan, anak-anak muda ini bukan pengangguran,”Tapi mereka merasa terpanggil untuk berbagi.” 


Apa yang akan dilakukan oleh para Pencerah Nusantara ini di daerah terpencil nantinya? Simak wawancara selengkapnya berikut ini. 


Program ini diinisiasi oleh kantor urusan presiden untuk MDGs. Target pencapaian terkait MDGs apa? 


“Untuk mencapai target MDGs itu kita harus tahu jalannya menuju sana seperti apa. Pintu pertama untuk mencapai target MDGs adalah hidup sehat, kedua adalah pendidikan dan kesehatan.  Seperti Indonesia Mengajar itu juga salah satu pintu mencapai target-target MDGs.”


“Kami Pencerah Nusantara ingin membuka pintu dari ranah kesehatan agar keadilan sosial tercapai. Kalau keadilan sosial tercapai target-target MDGs berapapun angkanya pasti akan bisa dicapai. Tapi kita tidak tahu jalan menuju kesana, ini masyarakatnya kita buka dulu wawasannya tahu jalan menuju kesana, apakah kita sampainya 2015 atau 2025 kita akan tetap terus meniti jalan itu.”


 Ini mulai dari dokter, bidan, perawat, ahli gizi atau para aktivis kesehatan terutama dokter gigi bukan hanya dokter umum ya?


“Kalau di puskesmas itu Undang-undang Kesehatan bilang yang harus bekerja bersama di dalam tim di puskesmas adalah dokter umum, dokter gigi, bidan, perawat, dan wakil masyarakat. Wakil masyarakat ini yang kami artikan sebagai pemerhati kesehatan yaitu orang-orang berlatar belakang pendidikan yang berhubungan dengan kesehatan atau tidak. Karena kesehatan ini sebenarnya urusan kita semua walaupun kita bukan dokter, bidan, perawat harus peduli sama kesehatan.” 


Pelatihannya yang enam minggu yang menjadi kunci ya?


“Iya enam minggu ini adalah untuk mereka akan diberangkatkan ke dalam tim. Jadi mereka bekerjan ya berlima setiap tim, ada tujuh lokasi, setiap lokasi diberangkatkan satu tim yaitu lima orang. Lima orang ini pertama harus bisa hidup bersama selama setahun, harus bisa bekerjasama dalam tim pembagian tugasnya seperti apa, pembagian perannya bagaimana, bagaimana menyelesaikan konflik, dan lain-lain itu mereka digodok selama enam minggu.” 


Mengapa dipilih tujuh daerah itu bukan yang lain?


“Jadi kalau dilihat tujuh ini sebenarnya sedikit banyak merepresentasikan keberagaman Indonesia. Karena Indonesia heterogen sekali ada yang wilayahnya hutan, perbatasan, semi urban seperti Karawang, pulau yang sangat terisolasi seperti di Mentawai yang hanya bisa dicapai dengan kapal 12 jam seminggu sekali. Lalu ada pulau Ende yang juga terisolasi orangnya tidak terlalu banyak tapi minim fasilitas. Bukan hanya kesehatan juga fasilitas sanitasi dan fasilitas kehidupan dasar, mereka tidak punya pasar karena dianggap dekat dengan wilayah yang lebih ramai harus diseberangi kurang lebih 2-3 jam naik kapal. Jadi keberagaman ini yang kita cari untuk merepresentasikan Indonesia.” 


Bukan berarti tujuh daerah ini yang paling buruk kondisi kesehatannya? 


“Ketujuhnya sama buruk. Sayangnya masih banyak daerah lain yang lebih buruk dari tujuh lokasi ini. Ini yang akan jadi wilayah kerja kami berikutnya. Jadi daerah yang tantangannya lebih sulit tetapi kita sudah berbekal data dan pengalaman tiga tahun pertama di tujuh lokasi ini.” 


Papua tidak tersentuh sama sekali ya? 


“Dalam waktu tiga tahun ini belum. Nanti kami akan ke sana dan daerah-daerah lain masih banyak ada Maluku, Papua, Aceh, Kalimantan, NTB.” 


Menyoroti para peserta antusiasnya sampai seribu lebih pelamar, mereka bukan pengangguran sebetulnya atau bagaimana? 


“Bukan. Mereka ini profesional muda dan jelas dari awal bahwa permintaan kami bukan orang-orang yang mencari perkerjaan tetapi orang-orang yang merasa terpanggil untuk berbagi ke daerah yang terpencil. Jadi anak-anak muda ini kita ini lulusan S1 hanya sekitar 18 persen dari seluruh populasi. Mereka ini yang lulusan sarjana ini harus juga melihat teman-teman sebangsanya yang tidak seberuntung mereka. Memang agak spesifik latar belakangnya pendidikan kesehatan.” 


Apa yang ingin dicapai dari program ketiga ini? 


“Jadi komitmen kami di setiap daerah adalah tiga tahun. Waktu tahun pertama kita melawan resistensi, menjalin kerja sama, tahun kedua kita menjalankan program bersama masyarakat. Tahun ketiga ini kita mulai mengidentifikasi local hero yang bisa melanjutkan pekerjaan putra nusantara untuk mereka sendiri.”


“Jadi saat ini sudah terbentuk tujuh kelompok kader kesehatan yang terdiri dari perempuan secara umum, wakil masyarakat, dan pemuda itu sudah ada semua di tujuh lokasi. Juga sudah ada kemitraan antara petugas kesehatan yang ada di sana dengan bidan, dukun, dan lain-lain yang ada di situ. Jadi yang ingin dicapai sebenarnya adalah masyarakat ini mampu mengatasi kesulitan mereka dalam tantangan sehari-hari untuk hidup dan juga memahami bagaimana hidup sehat.” 


Selama ini mereka yang direkrut ini memang berbasis di Jawa?


“Awalnya untuk angkatan pertama masih banyak yang basisnya di Jawa walaupun kami ada juga peserta dari Makasar. Angkatan kedua makin beragam daerahnya, sekarang angkatan ketiga lebih beragam kita mempunyai beberapa putra daerah yang berasal dari lokasi-lokasi penempatan PN. Jadi ada yang dari Toli-Toli mendaftar, satu dokter angkatan ketiga dari Papua memang lulusan Universitas Cendrawasih dan kemudian mendaftarkan diri sebagai dokter PN (Pencerah Nusantara).” 


  


 


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Jokowi Perintah Menkes Segera Tetapkan Kriteria Pembatasan Sosial Berskala Besar