Aptipindo: Pengusaha SPBU di Jalan Tol Rugi Rp 10 juta per Hari

Kalau premium sedikit ya kita hanya jualan 50 persen.

BERITA

Senin, 11 Agus 2014 18:51 WIB

Author

Vitri Angreni

Aptipindo: Pengusaha SPBU di Jalan Tol Rugi Rp 10 juta per Hari

Aptipindo, BBM bersubsidi, SPBU, Tol

KBR, Jakarta - Mulai hari ini (6/8) PT Pertamina menghentikan penjualan premium ke seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang beroperasi di jalan tol di Pulau Jawa. Kebijakan itu muncul untuk menjaga kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tidak jebol.

Pasalnya menurut catatan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), jika tidak dikendalikan maka Premium akan habis pada 19 Desember 2014.

Whari Prihartono, Pengurus Asosiasi Pengusaha Tempat Istirahat Pelayanan Jalan Tol Indonesia (Aptipindo), mengatakan meski  baru tahu soal penghentian ini tanggal 3 Agustus, pihaknya akan tetap melaksanakan aturan tersebut. Dalam Program Sarapan Pagi KBR (6/8), Whari juga menyampaikan langkah persiapan yang dilakukan SPBU. 

Sebelumnya pernah ada pemberitahuan penghentian penjualan premium?

“Kalau pemberitahuan ke kita pemberitahuannya seperti yang lain yaitu tertanggal 26. Namun kami baru tahu setelah lebaran tanggal 3 baru semua terima informasi itu.”

Langsung ke asosiasi atau langsung ke para pengusaha?

“Masing-masing SPBU.”

Kalau memang baru tahu setelah lebaran, apakah artinya hari ini apa yang sudah ditetapkan pemerintah dan Pertamina mulai diberlakukan?

“Kita ikuti aturan. Jadi mulai tadi malam jam 00 kita sudah mulai operasi dan melakukan stock opname premium yang tidak boleh dijual berapa, masing-masing pompa bensin diopname dan rencananya mau diretur ke Pertamina.”

Diretur ke Pertamina dengan ganti rugi atau dibayar balik?

“Mungkin nanti diperhitungkan dengan yang lain karena solar kami masih jualan.”

Ada berapa pengusaha yang ikut menjual BBM di Aptipindo?

“Kalau rest area atau pompa bensin jalan tol ada 29 pengusaha itu terdiri 2 di Jawa Timur, 27 di Jawa Barat.”

Artinya kebijakan ini tidak akan signifikan terhadap penurunan penghasilan?

“Kalau terhadap penghasilan signifikan sekali kita. Karena hampir rata-rata semua rest area jualannya itu 50 persen premium, 50 persen solar. Kalau premium sedikit ya kita hanya jualan 50 persen.”

Kerugiannya sampai 50 persen?

“Iya omzet dan pendapatan.”  

Per hari berapa rata-rata premium yang bisa dijual?

“Kalau di jalan tol dibuat rata-rata ada yang 30 ton ada yang 80 ton, jadi sampai 80 ribu liter. Makanya rata-rata penjualan 29 SPBU kurang lebih 800 ton per hari.”

Kalau dihitung rupiah potensi kerugian dari pengusaha per hari berapa?

“Rp 10 juta per hari.”

Ada upaya apa untuk menekan kerugian?

“Seperti Anda ketahui hari Senin langsung melakukan protes. Bukan protes masalah pengurangan kuota, kalau itu harus kita dukung karena memang keuangan negara sudah tidak kuat. Artinya kalau kita yang dilarang untuk jualan premium asumsinya kalau konsumsi kita turun itu salah karena kita dengan mudah membeli kita mendapat premium di tempat yang lain. Di mulut-mulut jalan tol pompa bensin sekarang banyak sekali, jadi mereka bersiap isi bensin sebelum masuk tol. Makanya kita waktu protes kita menyampaikan surat termasuk usulan kami.”

Sudah ada jawaban atau tanggapan?

“Sayangnya protes kami waktu itu hanya ditemui satu komisioner BPH Migas, ketuanya tidak di tempat. Tapi memang kami sadari bahwa Surat Keputusan itu pemerintah memikirkan dengan masak, dibatalkan begitu saja tidak mungkin. Tapi tetap kami suarakan dengan berharap mereka akan evaluasi apa betul kalau pompa bensin tol dilarang terus konsumsi turun kita lihat.”

Pengawasan hari ini ada oleh BPH Migas di lokasi-lokasi?

“Saya dengar ada monitoring. Tapi kalau kita dari Aptipindo sepakat kita ikuti mulai tadi malam kita tutup, mesin-mesin yang manual disegel pakai kunci, kalau yang automatic dari sistem kita tutup jadi siapapun tidak bisa mengeluarkan minyak.” 

(Baca juga: 6 Agustus, Premium Tak Lagi Dijual di Tol)










Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Pemerintah akan Evaluasi Peningkatan Serapan Anggaran

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17