Perjalanan Panjang Sayur Mayur

Wortel, sawi, bayam, kol, kentang? Hmmmmm, siapa yang doyan melahap nama-nama ituuu?

Kamis, 22 Agus 2013 13:26 WIB

Author

Nurika Manan

Perjalanan Panjang Sayur Mayur

sayur, Sarongge, gizi, petani

Wortel, sawi, bayam, kol, kentang? Hmmmmm, siapa yang doyan melahap nama-nama ituuu? Yuhuuu, selain sehat, sayuran juga lezaat dan segar. Tapi sudah tahukah sobat teen, perjalanan sayuran sampai ke tangan kita itu tidak mudah lho. Sebelum masuk dapur, sayur mengalami perjalanan panjang di tangan petani. Para petani sayur harus terlebih dulu mengolah tanah, menyiapkan bibit, panen, saaaaampai mengatur pola tanam agar produk yang dihasilkan tidak berlebih. Karena jika berlebih, harganya akan turun atau nantinya sayuran akan busuk Sobat Teen. Butuh perjuangan deh dari mulai persiapan tanam hiiiiingga pasca panen. Seperti apa sih perjalanan si sayur mayur itu? Kak Ika Manan mengikuti kegiatan para petani sayur nih, langsung kita simak yuk di Cerita Kita.


Calisya dari SD 02 Pagi, Duren Sawit, Jakarta paling suka dengan wortel. ”Soalnya vitaminnya banyak,” begitu alasan Calisya. Ia juga rajin melahap sayuran setiap hari.


Calisya cerita, setiap hari, ibunya memasak beragam sayur mayur untuknya. Tapi Calisya belum tahu nih kalau ternyata di Desa, Sarongge, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, wortel yang disukai Calisya itu termasuk jenis sayuran yang masa tanamnya lama. Bisa mencapai 120 hari atau sekitar empat bulanan.


Bertani sayur itu bukan pekerjaan mudah Sobat Teen. Jangan dikira sayuran yang kita makan saban hari itu instan tumbuhnya dan mudah dipanen dibanding tanaman pangan seperti padi misalnya. Membutuhkan ketlatenan, perhitungan yang tepat dan tentu saja keringat dari para petani sayur kita. Karena bertani sayur ini lebih rumit.


Kita tanya prosesnya yuk ke bapak yang sudah mulai bertani sayur sejak 80-an ini, Pak Jaenudin, petani sayur di Desa Sarongge, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.


“Pertama dilihat dulu lokasi yang akan ditanam, lalu penentuan akan ditanami apa. Lalu pengukuran seberapa luas, lalu menentukan berapa banyak bibit yang dibutuhkan. Itu tahap awal. Terus mulai pengolahan, setelah bibit disiapkan di persemaian sesuai kapasitas atau kebutuhan yang ada. Nah setelah itu baru pengolahan lahan. Nah persiapan segala sesuatu itu mesti dicatat. Itu butuh berapa lama Pak sampai panen? Tergantung komoditas, ada yang 30 hari, ada yang 35 ada yang 45 ada yang 60 hari. Bahkan ada yang 120 hari, wortel itu yang paling lama,” kata Pak Jaenudin.


Wow! Banyak jugaaa yah tahapannya. Sebelum pengelolaan tanah saja, sudah harus menghitung dengan tepat banyaknya bibit yang dibutuhkan. Belum lagi menyiapkan bibit, yang artinya harus punya modal untuk membeli bibit-bbibit tersebut Sobat Teen. Menanam sayur, jelas berbeda dengan menanam tanaman pangan, seperti padi. Mulai dari daerahnya saja sudah beda, sebagian sayuran akan tumbuh baik pada ketinggian di atas 800 mdpl. Selain itu, masing-masing komoditasnya membutuhkan perlakuan khusus.


Pak Ajat Sudrajat, juga petani sayur dari Desa Sarongge, menjelaskan soal perlakukan khusus itu. “Kita ada perlakuan khusus sesuai dengan komoditas masing-masing. Misalnya kentang itu dalam pemeliharaan itu ada pembubunan atau penimbunan kembali selama dua kali penimbunan. Yang lain seperti tomat itu ada perlakuan khusus yaitu pengikatan atau pewiwilan. Ini memang tergantung komoditas masing-masing. Supaya dari segi kuantitas dan kualitas (panennya) nanti memuaskan,” kata Pak Ajat.


Itu tadi penuturan Pak Ajat Sudrajat, petani sayur dari Desa Sarongge yang mengaku sudah bertani sejak SD. Panjang juga yah perjuangannya. Sebagai petani sayur, Pak Zaenudin cuma berharap, kita-kita ini bisa mencintai sayuran dengan rajin mengkonsumsinya. Seperti teman kita ini nih, Zahra yang masih kelas 5 di salah satu SD di Jakarta. “Suka, sayur bayem. Tiap hari ibu masak sayur. Karena itu kan buat kesehatan, ” ujar Zahra.


Nah Sobat Teen, sudah tahu kan perjalanan sayur mayur yang peeennnuh perjuangan itu. Mulai sekarang yuk lebih menghargai sayur! Biasakan diri mencintai sayur mayur. Bukan hanya untuk kesehatan, memperbanyak nutrisi dan vitamin, tapi juga menghargai jerih payah petani kita. Mengingat pesan Pak Zaenudin: konsumsilah sayuran setiap hari walaupun hanya satu lembar.


Editor: Vivi Zabkie

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Travel Advisory Amerika Jadi Refleksi?

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11