Mengapa Memilih Investasi Syariah?

Hampir semua produk investasi kini sudah banyak yang menggunakan sistem syariah. Sistem ini berpedoman pada halal dan haramnya bisnis investasi, dilihat dari kacamata agama Islam. Maklum agama ini menjadi mayoritas di Indonesia, sehingga dirasa perlu untu

BERITA

Jumat, 09 Agus 2013 15:02 WIB

Author

Dimas Rizky

Mengapa Memilih Investasi Syariah?

Investasi Syariah

KBR68H - Hampir semua produk investasi kini sudah banyak yang menggunakan sistem syariah. Sistem ini berpedoman pada halal dan haramnya bisnis investasi, dilihat dari kacamata agama Islam. Maklum agama ini menjadi mayoritas di Indonesia, sehingga dirasa perlu untuk membuat produk investasi sesuai syariah.

Produk investasi, seperti perbankan, asuransi, reksadana, dan saham, juga sudah menyesuaikan sistemnya. Untuk reksadana misalnya, tercatat sekitar 30-an pemain yang sudah memiliki produk tersebut.

Lalu bagaimana Anda yang mulai tertarik bermain investasi syariah? Menurut pakar keuangan syariah Ahmad Ghozali, pilihan ini sama saja ketika Anda sedang memilih investasi konvensional. Pilihannya diantaranya, dana yang tersimpan aman atau yang bisa dikembangkan dan kemudian menghasilkan. Ahmad mengatakan hal itu harus ditentukan dahulu agar bisa menentukan produk yang bakal dipilih.

“Jika syarat itu sudah terpenuhi, lalu bisa pergi ke produk syariah tersebut. Tapi jangan lupa untuk tanya lebih jauh dan dalam mengenai produk tersebut, bagaimana cara mainnya, apa yang berbeda, untung-rugi, termasuk kelemahan dan keuntungannya,” ujarnya.

Pilihan dalam berinventasi secara syariah memang punya keuntungan dan kelemahannya masing-masing. Ahmad Ghozali menuturkan, biasanya investasi syariah minim resiko karena pergerakannya yang tidak agresif. Dia mencontohkan produk investasi saham ori yang bebas membeli perbankan. Di syariah, cara seperti itu tidak diperbolehkan. Sebab salah satu cirinya adalah tidak memperolah bunga, namun bagi hasil. Karena itu, kata dia, disaat saham perbankan turun karena inflasi tinggi atau karena faktor lainnya, bisa berakibat turunnya saham tersebut. Ini tentu berbeda dengan syariah yang bisa jadi lebih tinggi.

Dalam syariah, pilihan untuk menempatkan saham juga cenderung dibatasi. Misalnya aturan pembatasan utang yang resiko utangnya tinggi, tidak diperbolehkan di syariah. Ini karena syariah beranggapan perusahaan-perusahaan itu sedang melakukan perluasan usaha yang bisa mengakibatkan keuangan perusahaan tersebut tidak stabil atau bahkan bangkrut.

 “Ini sebenarnya yang dihindari oleh syariah,” tambahnya. Karena itu keuntungan dalam bank bersyariah, bisa cenderung tahan dari krisis. Itu karena bank bersyariah tak perlu memberikan subsidi kepada deposan.

Bisnis Investasi Syariah Berjalan Lambat?

Harus diakui, 207 juta lebih warga Indonesia yang memeluk Islam, tidak menjadi suatu jaminan bisnis investasi syariah laku keras. Bahkan, selama 10 tahun perjalanannya, asetnya belum beranjak dari lebih dari 5 persen. Dan menurut pakar keuangan syariah Ahmad Ghozali, jumlah itu belum memenuhi target nasional. Bahkan gembar-gembor publikasi melalui media juga sudah dilakukan. Namun hal itu belum berhasil mendongkrak pertumbuhan investasi syariah.

Ahmad menilai hal itu bukan berarti menunjukkan kelemahan investasi tersebut. Ahmad Ghozali lebih menyoroti mereka yang menggunakan investasi syariah, hanya berdasar pada prinsip halal dan haram investasi itu.

Dia mencontohkan rata-rata mereka yang memilih produk perbankan, hanya ingin menitipkan uang secara transaksional. Hal ini sama seperti bank konvensional lainnya. Bedanya adalah sistem syariah tidak mengenal pemberian bunga namun bagi hasil. 

Selain prinsip halal-haram, prinsip tanggung sosial juga menjadi ciri lainnya. Ahmad mencontohkan, jika memilih investasi saham, maka nasabah akan memikirkan produk-produk yang melenceng dari ajaran agama. “Ya jangan pilih yang rokok, alkohol dan makanan haram. Gitu aja,” tambah Ahmad. 

Editor: Anto Sidharta


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Upaya Kurangi Risiko Bencana Iklim

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Perkara Bukber Tahun ini

Kabar Baru Jam 10