Importir: Impor Daging Sapi Seperti Menggarami Air Laut

KBR68H, Jakarta - Pada pertengahan Juli lalu, Pemerintah mengeluarkan kebijakan impor daging sapi tanpa kuota.

BERITA

Selasa, 06 Agus 2013 12:19 WIB

Author

Doddy Rosadi

Importir: Impor Daging Sapi Seperti Menggarami Air Laut

importir, daging sapi, stok kurang

KBR68H, Jakarta - Pada pertengahan Juli lalu, Pemerintah mengeluarkan kebijakan impor daging sapi tanpa kuota. Ini dilakukan untuk menurunkan harga daging menjadi sebesar Rp 75 ribu per kg karena harganya melonjak sampai di atas Rp 100 ribu per kg. Harga Rp 75 ribu itu ditargetkan bisa didapat jelang labaran. Tapi sampai sekarang, harga daging masih tinggi. Kenapa harga daging masih tetap tinggi? Simak perbincangan penyiar KBR68H Agus Luqman dan Sutami dengan Ketua Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia atau ASPIDI, Thomas Sembiring dalam program Sarapan Pagi.

Sebenarnya harga daging impor itu berapa di tingkat importir?


Itu lihat jenisnya.

Kalau di pasaran berapa?

Antara Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu per kilogram.

Kalau target pemerintah Rp 75 ribu per kilogram masuk akal?

Iya masuk akal.

Jadi sebenarnya masih bisa dijual Rp 75 ribu ya?

Sangat bisa. Di pasar ini supply yang kurang, ini masalah supply and demand, kalau supply berkurang ya cenderung orang menaikkan harga. Kalau lihat 2008-2011 tidak ada loncatan yang signifikan terhadap harga daging maupun waktu lebaran. Tahun 2012-2013 kuota impor dipotong sangat drastis tahun 2011 100 ribu ton, tahun 2012 tinggal 34 ribu ton, tahun 2013 tinggal 32 ribu ton. Sapi hidup juga sama dipotong lebih kurang 50 persen sampai 68 persen dibanding tahun 2011.

Tempo hari pemerintah memasok daging potong impor. Itu tidak bisa memenuhi kebutuhan juga?

Itu saja menggarami air laut.

Karena jumlah yang diimpor sangat kurang?

Normalnya saja kita hitung tujuh ribu ton per bulan, sekarang dengan lebaran permintaan dua kali.

Jadi tidak tepat kalau kemudian Kementerian Perdagangan menyebut para pedagang mengambl untung sangat tinggi ya?

Pedagang juga harus lihat dengan tingginya harga naik penjualan turun. Penjualan turun biaya operating cost-nya tetap, jadi terpaksa dinaikkan. Tanya saja pedagang-pedagang di pasar berapa omzetnya turun apa naik pasti turun. Kalau biasanya dia juga 200 kilogram sekarang cuma 50 kilogram.
 
Beberapa minggu sebelum lebaran ini ada kebijakan yang dikeluarkan pemerintah juga impor tanpa kuota sampai harga Rp 75 ribu tercapai. Itu sudah masuk semua?

Itu yang tanpa kuota itu prime cut. Kami importir tidak boleh dijual ke pasar umum, hanya untuk hotel, restoran, catering, dan industri pengolahan daging.

 Konsumen kurang begitu menyukai daging beku impor dan memilih daging lokal yang segar. Ada apa ya sebetulnya?

Buktinya di 2011 kita masukan 100 ribu ton habis, tahun 2010 kita masukan 120 ribu ton habis tidak ada isu itu. Sekarang muncul isu ini saya tidak tahu, sekarang ini banyak orang nimbrung mengeluarkan statement dan banyak ahli daging seolah-olah sok tahu.

Ternyata habis juga ya?

Itu fakta dari 2008 sampai 2011 daging beku itu habis saja.
  
Jangan-jangan itu untuk menaikkan harga daging lokal ya?

Saya tidak mau menuduh ya tetapi selalu ada saja, ini ulah siapa. Jadi macam-macam tiap ada masalah satu yang berkepentingan mengeluarkan isu-isu meresahkan masyarakat. 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Jurus Antipunah Episode Ekonomi Lestari Lewat Wirausaha Sosial

Pengenaan PPN Pada Sembako, Tepatkah?

Kabar Baru Jam 8

Pengetatan Pelaku Perjalanan Internasional Cukup Kuat?