LIPI: Masyarakat Masih Sulit Ganti Nasi

"Kalau mengubah pola makan, mengubah culture itu memang sulit, harus ada pendekatan, kalau pendekatan kami lebih smart," ujar Yuyu Suryasari.

, BERITA , NASIONAL

Senin, 29 Jul 2019 14:52 WIB

Author

Valda Kustarini

LIPI: Masyarakat Masih Sulit Ganti Nasi

Ilustrasi beras. (Foto: pertanian.go.id)

KBR, Jakarta - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut masih kesulitan untuk mengubah pola pikir masyarakat untuk mengganti makanan pokok yaitu nasi. 

Menurut Peneliti LIPI Yuyu Suryasari, konsumsi beras telah menjadi budaya yang mengakar, sehingga harus ada dorongan terus-menerus untuk membiasakan masyarakat mengonsumsi pengganti beras. Kata Yuyu, kesulitan itu dapat diatasi jika konsumsi beras dapat diganti sesuai bahan pangan lokal yang ada di setiap wilayah masing-masing. 

"Kalau mengubah pola makan, mengubah culture itu memang sulit, harus ada pendekatan, kalau pendekatan kami lebih smart. Ini lho, orang smart makannya sehat. Kalau padi misalnya kandungan karbohidratnya sekian, glukosanya sekian. Kan sekarang tujuan kita, coba alihkan ke komoditas lain yang pemikiran logisnya diterima," kata Yuyu Suryasari di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Senin (29/7/2019).

Selaku peneliti, Yuyu menyarankan masyarakat mengonsumsi umbi-umbian karena kandungan gizinya dapat menyamai beras. Selain itu, kelebihan umbi-umbian adalah dapat tumbuh di berbagai dataran. Namun sayang, sejauh ini belum ada klasifikasi bahan pangan secara spesifik menurut tempat daerah tinggal masyarakat. Misalnya, perbedaan bahan pangan pengganti beras di wilayah dataran tinggi dan rendah.

Dalam talkshow mengenai keberagaman pangan oleh Yayasan SEHATI pada Senin (29/7/2019) di Gedung Perpustakaan Nasional, masyarakat didorong untuk tidak tergantung pada beras. Sebab penyeragaman pangan malah akan berdampak pada kerentanan pangan, dan dapat menimbulkan bencana kesehatan seperti gizi buruk. Masyarakat yang wilayahnya tidak dapat menghasilkan beras diminta untuk mengonsumsi kembali bahan pangan lokal dari wilayah masing-masing.

Editor: Fadli Gaper

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Melawan Sampah Plastik di Samarinda

Melawan Sampah Plastik di Samarinda

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18