Share This

Ratusan Pendaki Rinjani Berhasil Dievakuasi, 6 Orang Bertahan Karena Trauma

Sebanyak enam pendaki masih terjebak di Gunung Rinjani usai gempa yang mengguncang Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Bali, Minggu (29/7/2018) pagi.

BERITA , NASIONAL

Senin, 30 Jul 2018 23:32 WIB

Pendaki Gunung Rinjani yang terjebak longsor akibat gempa bumi, Suharti (tengah), turun dari helikopter setelah berhasil dievakuasi dan tiba di Lapangan Sembalun, Lombok Timur, NTB, Selasa (31/7). (Foto: ANTARA/ Akbar N)

KBR, Jakarta - Sebanyak enam pendaki masih terjebak di Gunung Rinjani usai gempa yang mengguncang Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Bali, Minggu (29/7/2018) pagi. Sementara lebih dari 650 pendaki lainnya berhasil dievakuasi oleh tim SAR Gabungan.

Juru bicara Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) NTB, I Gusti Lanang Wiswanandamengatakan evakuasi terhadap sisa pendaki akan dilanjutkan, Selasa (31/7/2018) besok.

Lanang menjelaskan, tim SAR Gabungan mengarahkan ratusan pendaki untuk turun gunung dengan berjalan kaki. Sementara bagi pendaki yang tidak mampu berjalan, diangkut menggunakan motor trail dari pos 2 Sembalun.

"Tim SAR gabungan naik lewat jalur Sembalun. Jadi biar satu pintu semua naik lewat sana. Terus di tiap-tiap pos ada yang standby tim SAR. Jadi proses evakuasinya secara estafet," kata Lanang kepada KBR, Senin (30/7/2018).

Ia mengungkapkan, proses tim SAR gabungan saat melakukan evakuasi di Gunung Rinjani mesti berhati-hati lantaran rawan gempa susulan. Jalur pendakian juga menjadi gembur karena tertutup longsoran tanah. Meski begitu, evakuasi melalui jalur darat masih memungkinkan.

"Tadi pagi porter mengecek terlebih dahulu ke Pelawangan. Jalur yang awalnya dibilang tidak bisa dilalui ternyata bisa cuma jalurnnya agak gembur."

Lanang mengatakan, tim SAR gabungan menargetkan keenam orang yang masih terjebak di Gunung Rinjani itu bisa dievakuasi secepatnya, paling lambat Selasa (31/7/2018) besok.

Baca juga:


Penyisiran di Rinjani

Kepala Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Sudiyono menerangkan, pertimbangan lain penundaan evakuasi lantaran beberapa di antara 6 pendaki itu masih mengalami trauma. "Kemudian enam orang masih bertahan di sana. Karena masih ada rasa trauma untuk melewati daerah-daerah longsor. Sehingga mereka bertahan di sana, dan minta dievakuasi besok," tutur Sudiyono kepada KBR, Senin (30/7/2018).

Karenanya, tim memilih melanjutkan evakuasi, Selasa besok. Meski begitu, Sudiyono mengatakan tim SAR gabungan masih terus menyisir sejumlah lokasi yang dimungkinkan jadi persinggahan pendaki. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa tak satupun korban yang terjebak.

"Tim evakuasi kami masih berada di dalam. Ini dimaksudkan untuk menuntaskan para pendaki yang mungkin belum terdata atau terjebak untuk penyisiran lokasi-lokasi yang diduga ada pendaki yang terjebak," ungkap Sudiyono.

Ia pun menerangkan, proses evakuasi ratusan pendaki itu dibagi menjadi dua. Pertama penyelamatan 76 orang di Batu Ceper, di mana 70 orang di antaranya telah mengevakuasi diri menembus longsoran. Sedangkan enam orang sisanya merupakan pendaki yang masih bertahan di atas lantaran trauma.

Evakuasi kedua dilakukan terhadap 500 orang di Danau Segara Anakan. Hingga Senin (30/7/2018) sekitar pukul 17.30 WITA ada 268 yang berhasil keluar. Sebanyak 157 di antaranya WNA sementara 111 lainnya merupakan warga lokal. Kata Sudiyono, mayoritas WNA yang diselamatkan itu berasal dari Thailand.

Baca juga: Kunjungi Warga Korban Gempa NTB, Jokowi Janjikan Bantuan Rp50 Juta 

Sebagai langkah lanjutan, pengelola TNGR akan mendirikan posko pengaduan guna menjaring informasi bagi siapapun yang merasa kehilangan keluarga, saudara ataupun teman. Data ini akan menjadi acuan pencarian dan evakuasi, selain dari penyisiran tim.

"Karena masih dalam proses, kami akan selesaikan dulu penyisiran di lapangan dulu."

Sudiyono mengatakan, beberapa kali masih terasa gempa susulan di Sembalun. Kondisi ini kata dia menyebabkan trauma bagi petugas porter yang hendak naik ke kawasan. Sehingga, jadi kendala ketika membawa perbekalan bagi pendaki. Selain itu, gempa dan longsor susulan juga mempersulit mobilitas porter selama evakuasi dan pembagian logistik.

Meski begitu, ia memastikan di kawasan Rinjani bersiaga puluhan petugas yang melakukan pengawasan. "Kami 50 petugas sebelum ada gempa posisinya di kawasan melakukan pengawasan dan mengarahkan pendaki mengevakuasi diri. Karena kalau menunggu bantuan dari bawah sementara ada gempa susulan, mau tidak mau harus turun," pungkas Sudiyono.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.