Share This

Ngobrol Bareng Ariel Heryanto, Mulai dari Sumber Kebencian hingga Kerinduan akan Yang Asli

"Saya belum berani mengatakan saya tahu jawabnya, soal dari mana datangan obsesi jadi yang asli. Tapi saya punya dugaan kuat berdasarkan penelitian sementara saya, sumbernya itu teknologi."

BERITA , NASIONAL , NASIONAL

Senin, 23 Jul 2018 14:23 WIB

Ariel Heryanto saat menjawab pertanyaan peserta diskusi

KBR, Jakarta - Ujaran kebencian dan berita tidak benar kerapkali disebut jadi faktor yang mempertajam konflik. Baik konflik sosial ataupun konflik politik. Kita masih ingat, bagaimana Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 membelah masyarakat. Hal ini menjadi bahasan Nezar Patria dan Ariel Heryanto dalam diskusi bertajuk “Media dalam Dinamika Politik Identitas” di Jakarta, Jumat (20/7/2018).

Nezar--Pemimpin Redaksi The Jakarta Post yang juga anggota Dewan Pers--sebagai pemandu diskusi memantik obrolan dengan pertanyaan pembuka: apa sebetulnya akar perbedaan di tengah masyarakat, sehingga dengan gampang meletup jadi sumber konflik?

Di depan 150an peserta diskusi, Ariel Heryanto menyampaikan, ujaran kebencian dan berita tak benar sebetulnya bukan merupakan barang baru. Keduanya, sudah ada sejak awal mula sejarah manusia.

“Kalau saya bisa sederhanakan: selama ada ketimpangan sosial, ketimpangan ekonomi maka ada rasa tidak suka. Kalau orang tidak suka dan orang benci, tentu saja maklum kalau ada ujaran kebencian. Dan sejarah manusia adalah sejarah ketidakadilan sebetulnya,” kata Herbert Feith Professor untuk Studi Indonesia di Monash University Australia tersebut.

Yang justru menjadi pertanyaannya, bila sudah ada sejak awal sejarah manusia, mengapa tidak di semua zaman kebencian itu berkobar hebat? “Mungkin sebaiknya juga dipertimbangkan yang sebaliknya: mengapa kebencian itu tidak tampil setiap hari, di setiap zaman, di setiap tahun, setiap abad? Karena sepanjang abad itu terjadi ketimpangan,” lanjut Ariel.

Berikut perbincangan lengkap antara Nezar Patria dengan Ariel Heryanto. 

Nezar Patria:

Apa akar perbedaan-perbedaan dalam bangsa kita saat ini sehingga dengan gampang dia meletup menjadi sumber-sumber konflik; konflik sosial dan konflik politik. Nah, apa yang bergerak di bawah permukaan ini, Bung Ariel Heryanto saya kira adalah seorang pakar yang sudah cukup banyak meneliti persoalan-persoalan identitas.

Anda menulis buku Identitas dan Kenikmatan, dan ada satu tesis yang cukup menarik bahwa sebetulnya perbedaan-perbedaan yang terjadi di antara kelompok-kelompok politik saat ini dan muncul di media, itu karena ada satu obsesi yang terpendam cukup lama. Yaitu obsesi tentang kemurnian, obsesi tentang yang otentik, obsesi menjadi yang asli. Sehingga ada wacana pribumi, nonpribumi, dan sebagainya.

Mungkin, dari bacaan-bacaan Bung bisa dijelaskan, apa sebetulnya yang menjadi motif munculnya obsesi-obsesi seperti ini?


Ariel Heryanto:

Saya kira ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan bersama-sama. Pertama ada baiknya kita pahami, ujaran kebencian dan berita-berita yang tidak benar itu bukan barang baru, dan juga bukan barang aneh. Bukan barang baru, karena bisa dikatakan kebencian dan ujaran yang tidak tepat itu sebetulnya ada sejak sejarah manusia.

Kalau saya bisa sederhanakan: selama ada ketimpangan sosial, ketimpangan ekonomi maka ada rasa tidak suka. Kalau orang tidak suka dan orang benci, tentu saja maklum kalau ada ujaran kebencian. Dan sejarah manusia adalah sejarah ketidakadilan sebetulnya, sejarah ketimpangan. Itu yang saya ingin awali dulu.

Yang aneh, tidak di semua zaman, kebencian itu berkobar dengan hebat. Jadi kalau orang sekarang banyak bertanya: mengapa media Indonesia, mengapa ruang publik kita penuh dengan ujaran kebencian? Mungkin sebaiknya juga dipertimbangkan yang sebaliknya: mengapa kebencian itu tidak tampil setiap hari, di setiap zaman, di setiap tahun, setiap abad? Karena sepanjang abad itu terjadi ketimpangan.

Sekarang tampaknya ujaran kebencian itu terjadi begitu hebatnya, sampai-sampai, seakan-akan seorang calon presiden yang bagus adalah presiden yang bisa membenci a, b, c. Dia didefinisikan sebagai orang yang mampu a, b, c tapi juga orang yang bisa membenci a,b,c lalu memusuhi a,b,c. Anda bisa duga, calon yang mana, benci yang mana, silakan tebak sendiri.

Tapi, kebencian seakan-akan menjadi salah satu kriteria menjadi tokoh. Itu mengerikan sekali. Dan ini bukan terjadi pada setiap zaman, tidak setiap hari, tidak setiap tahun.

Yang terjadi adalah, kalau kita lihat sejarah kita, sejak pertama Indonesia mulai merdeka, Bangsa Indonesia itu bangsa yang belajar membenci. Pertama kita benci orang barat, orang Belanda yang berkulit putih. Semua yang asing-asing itu kita musuhi, dan itu dampaknya sampai sekarang.

Kalau Anda sempat membaca buku sejarah, Anda akan perhatikan, sebelum 1945 itu tidak sekeras itu. Kebencian itu sedikit banyak patut disalahkan kepada Belanda yang melakukan agresi militer. Dan banyak orang menderita karena agresi militer di Indonesia. Sebuah kebodohan yang dibikin Belanda yang kemudian berdampak pada kebencian balik terhadap Belanda dan orang-orang yang dekat dengan Belanda, sampai sekarang.

Baca juga:

Sesudah Indonesia merdeka, Soekarno mengajar Bangsa Indonesia untuk membenci Neokolim, Liberalisme dan mereka yang tidak revolusioner. Itu gencar sekali. Sampai akhirnya terjadi 1965, kita belajar juga membenci orang yang kita anggap tidak pancasila. Berlanjut terus. Sesudah 1998, bangsa Indonesia belajar dan diajar juga untuk melihat siapa yang Islam dan siapa yang menjadi musuh Islam.

Jadi sejarah kita di Indonesia, seperti juga sejarah di banyak tempat, itu adalah sejarah kebencian dan permusuhan yang tidak ada habis-habisnya. Bentuknya bisa macam-macam, sebabnya bisa macam-macam, tapi pada dasarnya menurut saya adalah ketimpangan. Bentuknya tergantung dari situasi dan alat yang dipakai untuk mengungkapkan kebencian itu.

Di sini pertanyaan saudara Nezar penting sekali, apa ada kaitannya dengan sosial media itu tadi? Karena menurut saya, bedanya dulu sebelum digital dan sekarang sesudah digital. Kalau dulu proses ungkapan kebencian itu kan tidak merata. Mereka yang mempunyai alat corong yang besar--namanya industri media, punya kemampuan ujaran kebencian yang luar biasa. Mereka yang mempunyai jabatan politik penting, pejabat negara seperti Soekarno, mempunyai akses pada sumber daya negara untuk menyatakan permusuhan terhadap nekolim dan lain sebagainya. Tapi tak semua orang punya daya itu.

Digital media memberikan kesempatan semua orang mempunyai (daya) itu merata sekarang. Tiba-tiba kita semuanya bisa.

Masalahnya, teknologi hanyalah alat untuk memperjelas, memperpanjang kemampuan lima alat indera kita. Mobil memperpanjang kemampuan kaki kita, kaca mata memperpanjang kemampuan daya lihat mata saya yang lemah.

Digital media, sama halnya, dia memperpanjang kemampuan orang untuk mendengar, bersuara dan sebagainya. Celakanya, teknologi ini seringkali memperbesar kemampuan indera kita tetapi tidak akan pernah berimbang memperbesar kemampuan emosi dan nalar kita. Jadi kita bisa mendengar dan melihat lebih banyak dari yang dulu, tapi kita tidak siap mendengar atau melihat yang kemudian kita bisa.

Kita diberi telinga yang mempunyai kemampuan untuk mendengar suara yang terbatas frekuensinya. Kita diberi kemampuan mengingat yang terbatas. Kita bersyukur diberi berkah lupa, kalau kita enggak bisa lupa, kita enggak bisa tidur. Ada banyak di dunia yang enggak enak untuk diingat. Dan kalau kita tidur, kita mampu melupakan. Tapi teknologi, itu seringkali tidak memberikan kesempatan kita untuk istirahat. Kita melihat lebih banyak, yang tadinya enggak bisa kita lihat.

Ini belum menjawab langsung pertanyaan Nezar, di mana sumber kebencian itu di luar yang namanya ketimpangan? Kalau kita bilang ketimpangan tentunya yang berhak marah atau benci itu adalah orang yang dikorbankan. Bagaimana kita bisa menjelaskan ketika yang paling rebut dan benci adalah orang yang berkelimpahan, sekarang. Dan itu tidak sedikit, di banyak tempat.

Baca juga:

Sudah hidupnya berkelimpahan, berkuasa, tapi masih tampil seakan-akan begitu menderita, cengeng, baperan. Ini gimana sih, yang menderita saja diam. Ada banyak analisa yang kita butuhkan. Tapi yang enggak kalah pentingnya, kalau dia sudah menyebar kebencian itu, kok masih bisa popular. Banyak orang suka. Dan ikut menyebarkan lagi.

Jadi ini dua Pekerjaan Rumah (PR) yang berbeda.

Ada satu penyakit, katakanlah racun, yang membuat kita itu jadi begitu. Racun itu adalah sebuah angan-angan, sebuah harapan terhadap apa yang disebut murni atau asli atau perawan atau katakanlah suci, atau apalah.

Jadi saya kembalikan ke sejarah Indonesia, ketika Indonesia mau merdeka, yang diangkankan adalah Indonesia yang asli. Sampai-sampai ada presiden Indonesia harus orang Indonesia asli. Walaupun proses terbentuknya Indonesia itu banyak berhutang budi pada orang yang berkulit putih, atau setengah putih, orang Indo. Kalau Anda pelajari baik sejarah Indonesia itu mereka yang memulai. Yang sekarang dikisahkan sebagai bapak-bapak awal Hos Cokroaminoto, Soekarno dan lain sebagainya itu belakangan, setelah mereka diajak oleh orang yang kulit putih. Tapi sejak awal kita diajak benci dengan yang kulitnya putih. Tentu saja ada kaitannya dengan ketimpangan. Yatapi enggak semua orang kulit putih itu kaya juga. Tapi semua kulit putih kita musuhi.

Setelah orang kulit putih pergi, 1945-1949, kita mulai musuh-musuhan sendiri: yang komunis, yang Islam, yang nasional, saling musuhan. Dan gongnya 1965 itu kembali pencerminan: mencari pancasila yang asli, yang paling murni. Komunis itu orang bilang enggak pancasila. Bahwa itu benar atau salah, ayo kita debat.

Sesudah masa orde baru selesai, yang kita saksikan kini kembali lagi. Enggak cukup jadi muslim, ada yang dianggap lebih asli muslim, ada yang kurang muslim, jadi perang lagi itu. Jadi kita enggak habis-habis marah. Dan kita punya alat yang lebih ampuh.

Persoalannya kenapa kita? Dan saya sebutkan dua hal tadi, selama ada kepincangan maka ada alasan yang sah orang untuk marah. Dan kedua, selama ada angan-angan untuk menjadi lebih asli, lebih murni, kita akan selalu perang melawan orang yang dianggap kurang asli atau kurang murni. Dan sayangnya, kita sekarang punya alat yang sangat ampuh untuk melawan itu.



Nezar Patria:

Saya mencatat satu kata kunci yang menarik kita telusuri lebih jauh: ketimpangan. Bahwa ketimpangan akan menjadi salah satu alasan, tapi ada background yang jauh lebih kuat yang bermain, yaitu obsesi tentang yang murni tadi. Kemarin, ada pengumuman angka kemiskinan di Indonesia turun. Saya enggak tahu apakah ini akan ada pengaruhnya pada kebisingan tentang politik di tahun depan? 

Kalau kita lihat Pilgub DKI kemudian Pilkada yang baru saja berlalu, ada kontras yang cukup menarik. Yang pertama saat Pilgub DKI itu sangat kencang, seperti uji coba Pemilu Presiden. Kita merasakan suasana 2014 di 2017 itu. Ada ketegangan antar-kelompok dan lain sebagainya. Tetapi di Pilkada 2018 di sejumlah daerah, itu kita tidak membaca ada ketegangan yang tinggi. Ini bagaimana kita bisa menjelaskan? Apakah obsesi menjadi sesuatu yang riil itu hanya mainan yang elite, atau sebetulnya memang bertumbuh di tingkat massa?


Ariel Heryanto:

Saya kira ini menjadi masalah kita semua. Bedanya, apabila kebencian terjadi pada tingkat elite, dampaknya jauh lebih gede ketimbang kalau terjadi di tingkat bawah. Ada ketimpangan pada bersuara benci-bencian tadi. Kalau Anda di tingkat elite dan Anda menyatakan kebencian, dampaknya itu jauh lebih besar dibanding kalau misalnya kita—saya atau Anda—yang bilang.

Pilgub Jakarta itu memang menarik, saya menduga itu merupakan muara atau timbunan sejumlah masalah yang berbeda-beda. Yang tidak bisa dengan mudah direproduksi, diulang di tempat-tempat yang berbeda konteksnya. Jadi memang agak khusus. Kita bersyukur ternyata Pilkada yang lain, cukup baik. Jadi mudah-mudahan ini menjadi langkah satu yang membantu.

Saya hanya perlu mengingatkan, kerinduan angan-angan pada yang murni itu enggak hanya pada ras, tapi juga ideologi. Siapa yang lebih revolusioner, siapa yang lebih Marxist—pada zaman Soekarno—kemudian sebaliknya, siapa yang paling antimarxist. Persoalannya itu bukan sekadar perbedaan aliran, tetapi pengaduan pada siapa yang lebih. Saya khawatir itu yang menjadi sumber racun dalam masyarakat.

Baca juga:


Nezar Patria:

Menarik. Saya jadi teringat antropolog Clifford Greets pernah bilang, apa yang ia sebut dengan struggle for the real, perjuangan untuk menjadi yang asli, pure. Dia menjelaskan di “Religion of Java” itu upaya-upaya untuk menjelaskan agar bisa berbeda, dan sekaligus mengklaim saya paling benar. Misalnya ada kelompok kiri yang menganggap dirinya paling kiri. Tapi di sisi lain juga ada kelompok Islam yang subversive, ingin mendirikan khilafah dalam ukuran kekuasaan sekarang. Ini sebetulnya sebuah gejala yang umum atau memang khas buat Indonesia, apa sebetulnya yang tidak selesai di bangsa kita ini, Bung?


Ariel Heryanto:

Kalau saya melihatnya, kerinduan kepada yang asli, pada yang murni itu memang punya sejarah panjang. Dan sejarah itu dari Eropa sebetulnya, kalau saya lihatnya.

Saya mau tambahkan soal kemurnian tadi. Ekspresinya bukan saja ras, tetapi juga bermacam-macam, ideologi dan sebagainya, yang terakhir itu juga seksual. Jadi kalau saya lihat, kebencian terhadap LGBT itu juga kebencian terhadap yang kurang laki-laki atau kurang perempuan.

Saya berusaha meyakinkan Anda, persoalannya itu pada angan-angan yang paling suci, paling murni. Dalam bentuknya macam-macam. Makanya ketika ada penindasan terhadap perempuan dalam perumusan kodrat perempuan, itu karena ada laki-laki yang menganggap, ada angan-angan laki-laki yang perempuan beneran itu yang kayak begini lho… perempuan yang pijat-pijat suaminya, menjahitkan, memanjakan suaminya. Nah itu perempuan yang asli. Kalau yang nuntut-nuntut, nah itu barat itu, itu enggak asli. Jadi ini omong kosong besar yang harus dilawan.

Persoalannya yang ditanyakan Nezar tadi, ini datangnya dari mana ini? Saya belum berani mengatakan saya tahu jawabnya. Tapi saya punya dugaan kuat berdasarkan penelitian sementara saya, sumbernya itu dari modernitas. Lebih khususnya yang memungkinkan orang bermimpi yang asli dan tidak itu adalah teknologi dan sains. Karena teknologi dan sains itu melakukan dua hal. Yang pertama, teknologi dan sains itu memungkinkan reproduksi. Jadi misalnya, reproduksi lukisan—ada lukisan yang asli dan ada postcard lukisan itu.

Jadi misalnya ada potret Monalisa, lalu ada foto postcard Monalisa. Tapi waktu itu orang enggak bilang itu hoaks, tapi jelas ini kelasnya dua dong. Misalnya lagi, ada manuskrip tulisan tangan Pram, lalu ada buku cetakan tulisan karya Pram. Ini dimungkinkan oleh teknologi. Sehingga teknologi itulah yang memungkinkan hirarki kesenjangan, perbedaan asli dan yang bukan asli.

Yang kedua, teknologi dan sains itu juga memungkinkan kemampuan manusia untuk mengukur sekecil-kecilnya dan sedetail-detailnya sebuah objek dalam masyarakat atau budaya. Sampai bisa diteliti mana yang lebih tua, mana yang lebih awal. Yang tidak mampu dilakukan oleh orang yang belum mempunyai teknologi dan sains. Sehingga bisa dikejar.

Sekarang, orang bisa berdebat. Mana sih ada orang pribumi? (itu) sebab, maka ditelitilah DNA-nya.

Tapi kemampuan untuk melawan itupun dari modernitas, dari teknologi dan sains juga. Jadi mondernitas itu punya kontradiksi di dalam dirinya sendiri, di satu pihak dia membebaskan, di satu pihak dia menyejahterakan orang, tetapi di pihak lain modernitas juga menyadarkan orang bahwa ada yang hilang dari masa yang indah sebelum ada teknologi dan sains. Dan orang rindu pada itu.

Makanya kemudian ada banyak yang rindu pada itu, dari masa hippies, John Lenon cs itu kan mencari kemampuan di India untuk beryoga, ada new-age. Ada banyak cerita di Indonesia tentang orang dari negara-negara industri untuk mencari yang lebih asli, alamiah. Itu reaksi-reaksi dari modernitas.

Kalau orang yang tradisional bener, dia enggak mau hidup di yang tradisi begitu, dia ingin jadi yang modern. Tapi justru ada yang hilang.

Dan penyesalan kepada modernitas itu paling kuat, ketika terjadi perang dunia. Perang dunia itu menyadarkan orang ternyata sains dan teknologi itu menghantarkan orang kepada kehancuran. Perang habis-habisan oleh mereka yang sesame mampu mempunyai teknologi serta sains yang paling bagus.

Itu yang menurut saya menjadi awal lahirnya angan-angan, cita-cita untuk menjadi asli. Karena untuk bisa berangan-angan, Anda harus punya alatnya. Untuk berdebat dan untuk mengukur itu. Dan itu dimungkinkan oleh sains dan teknologi.

Baca juga:

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.