Share This

Kepala BRG Bicara Karhutla Jelang Asian Games hingga Jawab Kritik Masyarakat

BRG menurunkan tim ke lapangan untuk mengecek titik yang rawan terbakar di sekitar tempat penyelenggaraan Asian Games 2018.

BERITA , NASIONAL

Kamis, 26 Jul 2018 06:12 WIB

Kepala Badan Restorasi Gambut, Nazir Foead saat menjelaskan Peta Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG). (Foto: KBR)

KBR, Jakarta - Badan Restorasi Gambut (BRG) menurunkan tim ke lapangan untuk mengecek titik yang rawan terbakar di sekitar tempat penyelenggaraan Asian Games 2018.

Kepala BRG Nazir Foead mengatakan data terakhir menunjukkan ada dua titik di Sumatera Selatan yang kondisi kelembabannya dilaporkan mengkhawatirkan. Satu di Kabupaten Ogan Komerang Ilir, titik kedua di sebelah utara Palembang mendekati Jambi.

"Ada dua titik yang kami agak khawatir karena rendah sekali. Tapi kami khawatir alatnya salah hitung, jadi lagi ngirim orang ke lapangan untuk cek," kata Nazir di Kantor Staf Presiden, Rabu (25/7/2018).

Ia mengatakan, pemerintah sudah mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) jelang pelaksanaan Asian Games ke-18 pada Agustus mendatang. Menurut dia, ada tiga titik di Sumatera Selatan yang diawasi secara ketat. Antara lain Kecamatan Pangkalan Lapam, Muara Padang, dan Pedamaran.

"Menurut BMKG angin cenderung dari tenggara. Kalau begitu yang harus kami amankan daerah ini. Tiga titik yang kami pasang alat pemantauan. Alhamdulilah sampai hari ini kelembabannya masih 100 persen, ini 90, ini 100," terang Nazir usai menemui presiden di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis(12/7/2018) lalu.

Ogan Komerang Ilir menjadi salah satu titik rawan karena letaknya yang berada di bawah Palembang. Berdasarkan prediksi BMKG, arah angin akan bergerak ke arah Palembang sehingga ada potensi asap terbawa jika kebakaran terjadi.

Baca juga:

Alat pengukur tingkat kelembaban yang dipasang BRG melaporkan tingkat kelembaban di kedua titik tersebut sudah di bawah 65 persen. Meski begitu, di titik-titik lain yang juga diwaspadai, kata Nazir, kondisinya relatif aman.

Rata-rata kedalaman air masih di kisaran 20-60 sentimeter. Di Kabupaten Ogan Komerang Ilir, beberapa titik masih ada yang tergenang. Sehingga, kata Nazir, sekalipun kebakaran terjadi, api tidak akan ke dalam sehingga lebih mudah dipadamkan. Ini juga dibantu sekat-sekat kanal yang sudah ada di titik-titik tersebut.

"Terbakar pun dia hanya api permukaan. Enggak bisa masuk ke dalam. Kalau masuk, masih ada air di bawahnya. Kalau permukaannya terbakar, pemadamannya cepat."


Butuh Puluhan Tahun untuk Merestorasi Gambut

Kepala BRG itu pun menerangkan, butuh puluhan tahun untuk menyelesaikan restorasi lahan gambut hingga seluruh ekosistem pulih. Pernyataan ini menanggapi Simpul Jaringan Pantau Gambut yang mempertanyakan upaya pencegahan Karhutla oleh pemerintah.

Kata Nazir, selain karena luasnya lahan yang perlu dipulihkan, faktor cuaca juga sangat mempengaruhi. Ia mengklaim upaya yang sudah dilakukan sejauh ini berhasil memangkas masa rentan kebakaran. 

"Kalau di banyak negara itu butuh puluhan tahun. Bedanya, tadinya misalnya air itu turun dalam waktu hanya 10 hari, setelah disekat mungkin turunnya sampai 40 hari baru turun," kata Nazir di Jakarta, Rabu (25/7/2018).

"Jadi masa rentan kebakaran lebih pendek karena air akan terkumpul. Tapi tetap saja kalau 40 tahun enggak ada hujan, ya tetap akan turun," tambahnya.

Nazir mencontohkan Jepang dengan luas lahan gambut yang harus direstorasi sebanyak 300 hektare membutuhkan waktu 10 tahun hingga seluruh ekosistemnya pulih. Dia lantas membandingkan dengan Indonesia yang menargetkan restorasi 2,4 juta hektare lahan gambut.

Baca juga:

Sebelumnya, Pantau Gambut mendeteksi per 17 Juli 2018 ada 539 titik api di provinsi prioritas restorasi gambut. Provinsi Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah masih menempati posisi tiga teratas provinsi dengan jumlah titik panas terbanyak. Simpul Jaringan Pantau Gambut menilai pemerintah belum serius memperbaiki tata kelola lahan di Indonesia.

Nazir lantas mengatakan, KLHK selama ini juga sudah memperketat pengawasan terhadap lahan-lahan konsensi perusahaan. Kata dia, tingkat kepatuhan perusahaan pun meningkat. Sekarang ini menurutnya semakin banyak perusahaan kooperatif dengan upaya merestorasi lahan gambut.

"Setelah perusahaan kooperatif, mulai bekerja, memang tetap harus dipantau. Ada kekurangan, segera dikoreksi. Ada bimbingan teknis dari universitas. Semua dilibatkan."

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.