Habiskan 20 Jam di Tol Pejagan-Brebes, Pemudik Ini Ceritakan Sejumlah Penyebabnya

Mustakim, pemudik dari Jakarta yang menuju Pemalang, Jawa Tengah misalnya, dia terjebak hingga 20 jam di tol Pejagan-Brebes Timur.

NUSANTARA

Minggu, 03 Jul 2016 17:08 WIB

Author

Nurika Manan

Habiskan 20 Jam di Tol Pejagan-Brebes, Pemudik Ini Ceritakan Sejumlah Penyebabnya

Kendaraan pemudik antre menuju gerbang exit tol Pejagan-Brebes Timur, Jawa Tengah. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta - Brebes, Jawa Tengah menjadi titik baru kemacetan di jalur mudik pada lebaran tahun ini. Mustakim, pemudik dari Jakarta yang menuju Pemalang, Jawa Tengah misalnya, terpaksa menghabiskan waktu hingga 20 jam di tol Pejagan-Brebes Timur. Penumpukan kendaraan, kata dia, masih harus dihadapi saat keluar dari pintu keluar tol Brebes Timur.

"Saya sekarang di Tegal, masih macet ini. Padat, merayap ini. Bisa lebih panjang macetnya, biasanya Tegal-Pemalang sejam, kalau begini tidak bisa diprediksi," papar Mustakim kepada KBR, Minggu (3/7/2016).

Pilihan melalui Tol Pejagan-Brebes Timur ditempuh lantaran melihat antrean yang mengular di Tol Pejagan-Pemalang. Namun apa boleh bikin, ia dan rombongan keluarga terpaksa tetap harus bertemu kemacetan di jalur Pejagan-Brebes Timur.

"Asusmsi saya kalau Pejagan-Pemalang itu kan sudah langsung keluar Brebes Timur, itu kan untuk pemudik Tegal ke timur. Sementara kalau lewat Pejagan-Brebes Timur, jadi dari Tegal ke selatan bisa lewat Palikanci-Pejagan. Makanya kami memilih pintu tol yang mengarahkan pemudik dari Tegal ke timur," katanya.

Saat hari normal, perjalanan Jakarta - Pemalang menurut Mustakim bisa ditempuh dalam waktu enam jam. Sedangkan pada mudik tahun lalu saat melalui Tol Cipali menuju Pemalang, dia menghabiskan waktu sekira tujuh jam.

"Nggak seperti tahun ini, ini parah banget," ungkapnya.

Ia pun mengatakan, sejumlah petugas dari kepolisian setempat dan satuan korps lalu lintas (Korlantas) terlihat di beberapa titik untuk mengurai kemacetan. Namun upaya ini tak terlihat berhasil sebab volume kendaraan di jalur tol sepanjang 20 kilometer terlanjur padat.

"Saya masuk pukul 19.00 WIB (Sabtu 2/7/2016), keluar pintu tol Brebes Barat pukul 04.00 WIB pagi. Itupun tidak bisa masuk jalan raya, karena stagnan di Pantura juga macet. Kami mampir ke rest area 04.30 WIB, kami jalan lagi pukul 07.00 WIB. Itu merayap lagi, macet. Baru keluar Brebes itu sekitar pukul 13.00 WIB," cerita Mustakim.

Kemacetan diperparah lantaran beberapa pemudik memarkir mobil di bahu jalan. "Dan yang lebih parah lagi, tol ini kan masih baru. Rest area cuma ada satu-satunya dan itupun penuh semalam," imbuhnya.

Selain itu, lanjut Mustakim, pemudik tak menemukan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di sepanjang jalur tol.

"Tidak ada pom bensin. Akhirnya mobil-mobil yang nyaris kehabisan bensin mereka pada minggir, itu menambah kemacetan. Itu didorong," jelas Mustakim melalui sambuangan telepon.

Alhasil, kondisi ini dimanfaatkan oleh warga setempat untuk menjual bensin eceran yang per liternya dihargai Rp20.000.

Lebih lanjut Mustakim menyayangkan lambatnya rekayasa lalu lintas oleh petugas. Akibatnya penumpukan kendaraan tak terelakan.

"Polisi sih aktif, beberapa mengatur kontra-flow dan berjaga mengatur pemerintah. Tapi saya nggak tahu ya, kenapa penanganan bisa lambat begini. Selain penumpukan, mungkin skenario pengalihan arusnya kurang cepat. Karena Brebes ini kan memang bukan titik macet di Jawa Barat," katanya.

Sebelumnya, pemerintah telah memprediksi akan terjadi titik macet baru di Breres, Jawa Tengah. Ini menyusul beroperasinya tol baru yang menghubungkan Pejagan dan Brebes Timur. Kendaraan pemudik diperkirakan akan tumpah ruah memenuhi tol tersebut.

Ruas Pejagan-Brebes Timur yang diresmikan Presiden Jokowi pada pertengahan Juli lalu merupakan perpanjangan jalan tol Kanci-Pejagan. Saat itu pemerintah telah memperkirakan, pemudik bermobil tujuan Jawa Tengah dan seterusnya bakal menjadikan jalan tol ini sebagai pilihan utama untuk mencapai jalur pantura.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kisah Perempuan Listrik asal Semarang yang Mendunia

Kabar Baru Jam 8

Menilik Gerakan Digital Warganet Sepanjang 2020

Kabar Baru Jam 10