Kemendag: Industri Pengolahan Untuk Mengatasi Cabe Melimpah

Bila diawal Ramadan harganya per kilonya mencapai Rp 45 ribu, saat ini hanya Rp 2 ribu per kilogram.

BERITA

Rabu, 09 Jul 2014 11:05 WIB

Author

Vitri Angreni

Kemendag: Industri Pengolahan Untuk Mengatasi Cabe Melimpah

Cabai, panen, harga, HKTI

KBR, Jakarta – Beberapa hari ini harga cabai di sejumlah daerah di Indonesia turun drastis. Bila diawal Ramadan harganya per kilonya mencapai Rp 45 ribu, saat ini hanya Rp 2 ribu per kilogram.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Sri Agustina, mengatakan penyebab anjloknya harga karena melimpahnya hasil panen cabai padahal permintaannya tetap.

Dalam Program Sarapan Pagi KBR (8/7) Sri Agustina mengatakan salah satu solusi masalah ini adalah mendirikan industri pengolahan.

Apa benar harga cabai semakin murah di Sumenep, sampai Rp 1.000 per kilogram, dan apa benar kabar soal masuknya cabai impor?

“Kita ada beberapa jenis cabai. Kalau cabai segar kita sama sekali untuk tahun ini tidak ada impor, jadi mulai dari Januari sampai dengan saat ini kita tidak menerbitkan yang namanya Surat Persetujuan Impor. Yang ada itu adalah cabai pasta dan itu tidak signifikan menurut saya, karena dari pengajuan Surat Persetujuan Impor sampai dengan satu semester mulai Januari sampai Juni totalnya hanya 64 ton. Itu terealisasi hanya 2 ton, tidak signifikan. Jadi kalaupun ada itu memang industri, produsen yang dia memang impor untuk kebutuhan pabrik pengolahannya. Bandingkan kalau misalnya cabai yang masuk Pasar Induk Kramat Jati saja itu rata-rata 85 ton sampai dengan sekitar 120 ton per hari. Itu sangat tidak signifikan dengan yang kalau kita bandingkan dengan impor yang hanya realisasi 2 ton.”

Dari HKTI juga menyebutkan bahwa ada penurunan pembelian dari industri. Sebetulnya apa yang terjadi di industri kita?

“Kalau di industri itu sampai dengan sekarang permintaannya tetap. Kalau memang cabai di dalam negeri banyak maka dengan tumbuhnya industri pengolahan cabai dan sebagainya harusnya permintaan bertambah kalau lihat trennya tetapi memang permintaan selalu tetap. Ini fenomenanya di tahun lalu, tahun lalu harga cabai tinggi sehingga petani berlomba-lomba menanam cabai supaya mendapat harga yang baik. Ternyata tidak seperti itu jadi semua berlomba-lomba, perencanaan produksinya yang mungkin belum pas.”

“Kedua, perdagangan itu mengatur kalau orang mengimpor cabai segar itu harus ada rekomendasi dari Kementerian Pertanian. Kemudian cabai pasta begitu juga tapi kalau cabai kering itu bebas impornya. Barangkali permintaan terhadap impor cabai kering ini yang mungkin sehingga industri tidak menyerap cabai hasil produksi dalam negeri. Namun setelah kita cek impor cabai kering pun tidak terlalu signifikan. Saya lihat memang produksinya berlebih, jadi karena kalau supply banyak otomatis harga turun.”

Kenapa tidak disiasati dengan ekspor?

“Ada beberapa diekspor tapi tetap tidak signifikan juga. Karena kalau di sana perlu pengolahan lagi, cabai itu diolah karena mereka jarang minta cabai segar. Perlu dilakukan ke depan adalah bagaimana kita memiliki industri cabai kering yang kemudian kita bisa ekspor. Itu yang harusnya ke depan bisa kita lakukan.”

Jadi yang bisa dilakukan apa menghadapi fenomena ini?

“Makanya ada satu hal yang mungkin akan diangkat adalah kalau cabai itu diolah itu membuat industri kita tidak terlalu ingin melakukan pengolahan karena mereka kena pajak 10 persen. Mungkin itu yang perlu kita bahas dan itu sudah dikemukakan pak menteri perdagangan. Mungkin ke depan kita coba khusus untuk cabai dengan industri pengolahan yang dalam rangka membantu petani, stok, dan sebagainya mungkin tidak kena pajak. Kecuali pada saat dikemas, dijual di pasar baru dikenakan. Tapi kalau bahwa dia hanya melakukan pengeringan kemudian disimpan ya tidak perlu.”  
 



Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18