Celah Rezeki dari Biogas

Sampah rumah tangga diolah menghasilkan uang.

BERITA

Kamis, 24 Jul 2014 14:22 WIB

Author

Eli Kamilah

Celah Rezeki dari Biogas

biogas

KBR, Jakarta – Sudahkah Anda memanfaatkan sampah organik dari rumah Anda? Kalau belum, wah sayang sekali karena sampah itu bisa memberikan manfaat ekonomis. Salah satunya adalah gas metan. 


Demi memanfaatkan gas metan itu, Anda bisa memakai instalasi biogas bertekanan tinggi karya Erick Sitepu dari PT Biomethagreen. Erick sendiri mulai melihat potensi bisnis biogas ini sejak melihat banyak yang berpindah dari kayu bakar ke tabung gas atau elpiji. Ditambah lagi harga elpiji terus naik dari waktu ke waktu. 


Manfaat biogas untuk memasak mungkin sudah banyak yang tahu. Tapi dengan teknologi yang dikembangkan Erick, maka gas yang dihasilkan sampah organik itu bisa ditabungkan. Erick mengklaim produknya berbeda dengan produk biogas lainnya. Biogas milik Erick lebih kuat dan tidak mudah bocor, bertekanan tinggi serta dapat ditabungkan. 


Erick memulai bisnisnya sejak setahun lebih. Mula-mula yang disasar adalah tetangga di sekitar rumahnya. Alhasil setelah empat bulan berlalu, banyak tetangganya yang tertarik menggunakan biogas. Biogas, kata Erick, selain menghasilkan gas metan juga menghasilkan pupuk organik cair. Pupuk itu sudah teruji untuk menyuburkan tanaman, dan kini dijual Erick seharga Rp 20 ribu per liter. 


“Awalnya saya kasih gratis kepada tetangga semua, dan saya pakai di taman-taman rumah. Terus ketika mereka meminta lagi, saya jual saja akhirnya.”


Untuk satu kilogram sampah, kata Erick bisa menghasilkan 0,6 kg gas metan, atau setara dengan 0,8 kilogram gas elpiji. Sampah yang diolah biasanya sekitar 20 kubik, tergantung banyaknya sampah di sekitar rumah dan limbah industri.


Erick mengaku bio energi memang terbilang masih mahal. Pemerintah seharusnya memberikan subsidi pada energi alternatif tersebut. Instalasi biogas yang ditawarkan Erick terbilang komplit. Semua fasilitas seperti gas holder dan kompor. Pengguna cukup mengumpulkan sampah, tunggu sampai 1 minggu dan setelah itu bisa digunakan langsung.


Tantangan yang kini dihadapi Erick adalah mahalnya biaya pemasangan instalasi biogas. Untuk sampah rumah tangga saja, masyarakat harus meronggoh kocek sebesar Rp14 juta - Rp27 juta. 


"Rp 14 juta hitungannya dua kubik, untuk 2-3 rumah cukup. Penggunaannya bisa terus menerus. Asalkan sampahnya terus menerus ada. Masyarakatlah harus memilih dan memilah sampah."


Meskipun belum mendapatkan subdisi, Erick menilai energi ini perlu ditingkatkan. Ini lantaran, tidak ada orang yang tahu kapan energi fosil habis. Biogas selain hemat energi, juga memaksimalkan kebersihan lingkungan dengan mengurangi sampah. Industri dan UKM juga bisa mengolah limbahnya dengan lebih bermanfaat dan menghasilkan energi dan produk andalan.


Kini, pihaknya tengah melebarkan sayap. Bandung dan Surabaya sudah menjadi proyek instalasi biogas milik Erick. Erick juga membuka peluang daerah-daerah lain yang ingin membuat intalasi biogas di rumahnya masing-masing.


"Kalau kita ingin menggunakan pengolahan limbah dari 10 rumah saja, punya satu digester cukup yang 6 kubik, punya 6 penampungan. 10 rumah biasanya sampai Rp50 juta. Dengan listriknya 75 watt untuk 15 menit waktu pompa. Tidak ada perawatan, dan kita garansi lima tahun, dan bisa dipakai 15 tahun."


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Jelang Pelantikan Presiden, Dari Pengamanan Hingga Larangan Demo

20 Tahun Lagi, Lapisan Tanah Subur di Dataran Dieng Diperkirakan Terkikis Habis