Bagikan:

Sekolah Kita: Sekolah Perjuangan Anak Rumpin

Melalui sekolah ini, dampak buruk akibat konflik itu sebisa mungkin dicegah.

Jumat, 19 Jul 2013 14:24 WIB

Author

Nurika Manan

Sekolah Kita: Sekolah Perjuangan Anak Rumpin

Sekolah Kita, Rumpin, anak-anak, korban konflik

Teman-teman kita yang berada di tengah sengketa atau konflik sudah hampir pasti dihantui rasa takut dan cemas yah Sobat Teen. Pasti enggak enak banget deh berada di posisi mereka.  Nah dari rasa simpati dan niat membantu anak-anak inilah, sekelompok kakak relawan membangun sekolah alternatif di wilayah sengketa tanah di Rumpin, Bogor bersama warga setempat. Materi yang diajarkan menonjolkan nilai-nilai empati dan keberanian menghadapi masalah. Kak Ika Manan menyambangi “Sekolah Kita". Simak yuk di Cerita Kita.


“Namaku Nia, aku Sekolah di Rumpin sejak bulan April, tanggal 14, 2012. Suka membaca, puisi, belajar Bahasa Indonesia, matematika juga. Semua kakak-kakaknya baik, banyak teman,” kata Nia menyambut Kak Ika Manan yang berkunjung ke Sekolah Kita.


Puluhan gambar tertempel di dinding mushola. Beberapa gambar terlihat berdebu. Nampak pula sejumlah pigura dari kertas menghiasi dinding. Sejak April tahun lalu, setiap Minggu mushola itu disulap menjadi tempat belajar teman-teman Sekolah Kita.


Sekolah Kita adalah sekolah alternatif yang berdiri di wilayah sengketa tanah di Rumpin,  Bogor. Penggagasnya adalah kakak-kakak relawan bersama warga setempat. Kak Ana Agustina, salah satu penggagas Sekolah Kita cerita soal penderian sekolah ini.

 
“Awalnya sih itu Bu Neneng yang meminta aku untuk mengajar. Kemudian, lama kelamaan, masa cuma ngajar aja mata pelajaran yang sudah ada di sekolah mereka. Nah dari situ aku mikir, aku nggak bisa jalan sendiri. Sampai akhirnya aku ngobrol dengan beberapa teman. Coba gimana nih, sistemnya kira-kira selain hanya mengajar. Aku coba bikin proposal-proposal dasar pemikirannya gitu,” kata Kak Ana.
Ibu Neneng yang disebut Kak Ana tadi adalah salah satu warga Rumpin yang gigih memperjuangkan tanahnya. Pertemuan mereka berawal saat Kak Ana ditugaskan mendampingi Ibu Neneng  menghadapi kasus sengketa tanah di sana.


Sobat Teen, Rumpin adalah daerah yang menyimpan bara konflik sengketa tanah antara warga setempat dengan TNI AURI sejak 2007 silam. Dua tahun lalu kasus ini sempat meruncing. Saat itu warga Rumpin meminta hak atas tanahnya kembali kepada TNI. Akibatnya bentrokan antara aparat dan warga pecah. Konflik menyebabkan derita bagi warga, termasuk teman-teman kita di sana. 


Melalui sekolah ini, dampak buruk akibat konflik itu sebisa mungkin dicegah. Dengan kurikulum yang dirancang khusus, kakak-kakak Sekolah Kita menonjolkan nilai-nilai empati dan keberanian menghadapi masalah dalam setiap penyampaian materi.


“Empati sebenarnya lebih ke role model. Misalnya dia ada konflik di kelas, nah cara penyelesaiannya itu. Terus kita lebih ke menunjukkan, kenapa sih kita tidak menyakiti orang lain? Emang, kenapa kita menyakiti orang lain juga? Sebenarnya itu lebih ke pertanyaan. Karena ada momen refleksi di situ. Kita akan benar sadar, ketika kita sendiri yang menyadarinya. Kalau guru bilang, kamu harus empati, yak, apa itu? Teu ngarti. Tapi kalau kita biasakan terus bertanya, akhirnya akan membentuk pola pikirnya untuk terus bertanya,” jelas Kak Rara Sekar, yang penyusun kurikulum Sekolah Kita. Berbeda dengan sekolah formal, sekolah ini tidak menargetkan siswanya mendapat nilai tinggi di semua mata pelajaran. Yang terpenting, teman-teman kita ini bisa tersenyum dan mengungkapkan apa yang dirasakannya dengan lepas.
Makanya Nia dengan semangat dan senyum bilang kalau ia senang banget sekolah di sini.  ”Senang, senang banget. Bisa ada banyak teman, terus kenal sama orang-orang Jakarta, kakak mahasiswa,” ucap Nia.  Lalu temannya Fitri menambahkan, ” “Ngajarin banyak, suka bercanda. Suka main juga, bermain gitu lah, lompat-lompatan. Suka berkebun juga, aku menanam cabai tapi sudah mati.”


Yupp, seperti Nia dan Fitri, kegembiraan teman-teman di Rumpin menjadi kado untuk para penggagasnya. Kehadiran Sekolah Kita, tentu saja bukan untuk menyelesaikan sengketa tanah di sana Sobat Teen. Lewat sekolah ini, setidaknya, teman-teman kita di Rumpin di masa datang bisa mandiri sekaligus menjadi motor penggerak perubahan. (Teen Voice)

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Haruskah Ikut Program Pengungkapan Sukarela?