Rene Suhardono: Hal Terpenting Bukan Memilih Pekerjaan Tapi Membangun Pekerjaan

Bingung setelah selesai sekolah nanti mau jadi apa? Mau bekerja dimana? Daripada cuma ikut-ikutan aja, mending ikuti dulu tips dan trik dari career coah yang satu ini.

Kamis, 18 Jul 2013 14:06 WIB

Author

Teen Voice

Rene Suhardono: Hal Terpenting Bukan Memilih Pekerjaan Tapi Membangun Pekerjaan

Profesi, Karier, Rene Suhardono, Cita-Cita

KBR68H-Hari ini cita-citanya kepengen jadi dokter, tapi besok kepengen jadi pilot terus besoknya lagi kepengen jadi arsitek. Uuuuuu banyak betul yah cita-cita kita. Emang harus begitu Sobat Teen, menjajaki apa yang ingin dijajaki, cie elaaahh. Mumpung masih muda, harus berani mencoba apapun dan punya rasa ingin tahu yang tinggi. Tapi jangan lupa juga, dalam menentukan profesi apa yang kita inginkan, yang lebih penting adalah memahami profesi itu sendiri. Jadi nggak cuma asal pengen gituuuu. Hmmmmm, mau tahu gimana kelanjutannya?? Career Coach sekaligus Kakak Penulis ini, Kak Rene Suhardono punya pandangan nih soal menentukan profesi. Kita simak aja yuk wawancaranya sama Kak Ika Manan di Bincang Kita.

 

Sebenarnya sejak usia berapa sih kita harus menentukan profesi atau pekerjaan kita itu nantinya apa, atau mau ke mana?

 

Profesi itu cuma cara instan untuk bisa memberikan ide akan menghabiskan hidup itu seperti apa. Tapi kalau ditanya, apakah ada kemutlakan di usia tertentu? Saya menjawabnya tidak. Kenapa? Karena pada usia muda, bukan untuk menentukan yang lebih penting tapi menjajaki banyak hal, mengetahui banyak hal, menmbuat diri jadi terekspose akan banyak hal. Kalau saya tidak pernah tahu ada suatu kota yang namanya Paris, gimana saya bisa punya impian untuk pergi ke sana. Jadi harus ada obrolan yang membahas mengenai Paris. Hal yang sama bisa berlaku dengan profesi-profesi yang ada, ataupun dengan aktivitas. Saya lebih merekomendasikan teman-teman untuk bukan sekedar tahu beragam profesi tapi pahami aktivitas yang ada di dalamnya. Judul bisa sama, tapi aktivitasnya bisa berbeda.

 

Sales manager, beragam jenis ada, tapi ada sales manager yang ngomongnya sama orang yang membeli langsung, barangnya dipakai. Ada sales manager yang melayani perusahaannya langsung. Masing-masing punya karakteristik tersendiri. Kuncinya bukan untuk tahu mana yang pas untuk saya, tapi untuk tahu, dengan karakteristik saya seperti ini, kira-kira esensi hidup saya akan terlayani kalau saya membangun yang mana ya. Itu akan punya nilai jauh lebih besar, daripada sekedar menentyukan satu profesi semata.

 

Berarti kita bisa mencoba apapun, misalnya kita mau A kita coba saja A. Atau seperti apa?

 

Ya, kurang lebih seperti itu. Karena kalau bicara profesi, setiap minggu itu lebih dari lima sampai sepuluh profesi baru ditemukan. Bukan memilih pekerjaan atau mencari pekerjaan yang esensial, tapi membangun pekerjaan.

 

Maksudnya membangun pekerjaan itu bagaimana?

 

Jaman dulu, tidak ada itu yang namanya Social Media Manager, tidak ada Carbon Footprint Specialist, tidak ada yang namanya Co-working Manager. Tapi karena kita tahu ada kemunculan dan potensi-potensi baru. Dan pekerjaan itu justru sarana untuk lebih memberdaya diri, membuat diri lebih berdaya. Karena di situlah kita akan berinteraksi dengan orang lain.

 

Kan kadang kita dibenturkan dengan keinginan orangtua, menurut Rene, mana yang harus dipilih?

 

Perbenturan itu terjadi bukan karena perbedaan aspirasi. Orangtua itu mempunyai sudut pandang, up bringing, pembawaan, masa lalu yang dilalui yang sama sekali berbeda dengan kita. Kalau kita hanya menggunakan bahasa logika, maka perbenturan itu sudah pasti terjadi. Maka gunakan bahasa cinta dengan orangtuamu. Mengkomunikasikan dengan bahasa yang paling mudah, bahasa cinta, bahasa yang bukan didasarkan pada teori atau kepandaian yang kamu pikir kamu tahu, tapi didasarkan pada perasaan.

 

Terus soal milih kuliah, itu apakah nanti harus kuliah itu sesuai dengan pekerjaan yang ingin kita ambil?

 

Kalau jaman dulu, orang-orang itu belajar di Biara, atau di manapun. Mereka itu belajar bukan karena mengejar sertifikasi atau selembar kertas tapi karena mereka belajar karena mempunyai keasyikan untuk mengetahui sesuatu. Kalau anda belajar accounting maka bersyukurlah Anda mempunyai satu ilmu yang sudah anda punyai. Bukan sebagai, kok gue punya ilmu kayak begini justru nggak kepakai. No, dilihatnya justru kebalik, beruntunglah anda punya kesempatan untuk tahu accounting. Tidak tahu apakah itu terpakai atau enggak, tapi itu ilmu. Karena satu ilmu menjadi penopang untuk ilmu-ilmu lain.

Tidak ada ilmu yang terbuang percuma. Jadi jangan pernah melihat kuliah itu sebagai, yah. Kok kotak ini tidak sesuai dengan kotak pekerjaan saya. Pengkotak-kotakkan itu yang bikin kamu. Tapi kreasi itu bukan membutuhkan sertifikat, bukan membutuhkan pendidikan, pendidikan dalam arti sempit ya. Kreasi itu butuh kepedulian, butuh karya yang bisa dirasakan oleh banyak orang. Dan untuk itu butuh totalitas, bukan hanya dari kamu, tapi juga kolaborasi dengan banyak orang.

 

Kak Rene Suhardono ini dikenal sebagai Career Coach. Pria kelahiran Jakarta, 08 Juli 1979 yang tidak mau dipanggil dengan embel-embel mas, kak atau abang ini adalah penulis regular tips berkarier di Harian Kompas. Selain menulis di Surat Kabar, Kak Renen juga sudah pernah menulis buku berjudul “Your Job is Not Your Career” Sobat Teen. Kak Rene juga aktif mendukung gerakan-gerakan pendidikan seperti Kelas Inspirasi dan Gerakan Sabang Merauke.

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Cek Fakta: Top Five Hoax of The Week

Kabar Baru Jam 17