Rektor IAIN: Pengungsi Syiah adalah Warga Negara yang Harus Dilindungi

KBR68H, Jakarta - Warga Syiah Sampang, Madura, berharap mendapatkan perlindungan hukum, jika mereka jadi dipulangkan ke kampung halaman pascarekonsiliasi, yang saat ini masih dalam proses.

BERITA

Senin, 22 Jul 2013 11:44 WIB

Author

Doddy Rosadi

Rektor IAIN: Pengungsi Syiah adalah Warga Negara yang Harus Dilindungi

warga syiah, rekonsiliasi, IAIN, warga negara, pulang kampung

KBR68H, Jakarta - Warga Syiah Sampang, Madura, berharap mendapatkan perlindungan hukum, jika mereka jadi dipulangkan ke kampung halaman pascarekonsiliasi, yang saat ini masih dalam proses.  Pendamping warga Syiah Sampang, Hertasning Ichlas mengatakan, perlindungan hukum itu diperlukan untuk mencegah terjadinya kembali aksi penyerangan massa intoleran, dan menguatkan proses rekonsiliasi. Rekonsiliasi warga Syiah Sampang sudah dilangsungkan kemarin sore di IAIN Sunan Ampel, Surabaya. Bagaimana hasil rekonsiliasi itu? Simak perbincangan penyiar KBR68H Agus Luqman dan Novri Lifinus dengan Rektor IAIN Abdul A’la dalam program Sarapan Pagi.

Pertemuan kemarin hasilnya kira-kira kesimpulan anda apa?

Kita akan melakukan beberapa kali pertemuan. Sebelumnya kami ingin melakukan pertemuan di Sampang dengan para ulama, kemarin dengan IJABI dan para pengungsi, NU, Muhammadiyah, dan pemprov. Intinya keinginan mereka apa, dari sana ada tidak titik temu kemudian kita rumuskan, dari sana kita sampaikan ke bapak presiden melalui pak menteri.
 
Ada berapa pertemuan yang kira-kira akan digelar?

Lebih empat kali, masih pertemuan lagi bersama pak menteri dan ulama Madura.

Kalau kemarin itu ada pihak non-Syiah yang diajak di daerah Sampang itu?

Belum.

Tapi akan kesana?

Kita lihat yang paling memungkinkan bagaimana. Yang penting pengungsi ini warga negara, harus dilindungi, mendapat haknya. Ada istilah rekonsiliasi, mereka harus kembali, sebagai warga negara mereka punya hak tapi bagaimana caranya dan keamanan mereka.

Opsi yang menguat itu kepulangan mereka ke tempat asalnya?

Ada permintaan seperti itu mereka ingin pulang secepatnya dan sebagainya. Tapi kita tidak bisa berbicara waktu, kita harus bertindak cepat.

Banyak sekali yang menduga karena ini faktor politik menjelang pemilihan kepala daerah. Betul itu?

Saya kira tidak, faktor kemanusiaan kemudian ada Perpres tentang penyelesaian konflik itu merupakan satu bagian tidak terpisahkan. Saya sebagai akademisi berusaha untuk betul-betul di tengah dan tidak akan ke kiri atau kanan.

Ada fatwa sesat terkait Syiah, apa yang akan anda lakukan terkait fatwa tersebut?

Saya kaji dulu. Saya tidak ingin terlibat konflik dengan MUI, masyarakat Sampang, ulama, pengungsi. Bagaimana mereka duduk bersama untuk masa depan negeri ini.

Jadi fokus mediator ini adalah mencari penyelesaian ya?

Iya tuntas dan terpadu. Kita tidak akan masuk terlalu jauh ke persoalan agama, bisa tidak diminamlisir persoalan itu.
 
Terkait penyelesaian, kapan targetnya mereka bisa pulang ke daerah asal?

Secepatnya. Tapi butuh waktu, ini persoalan pandangan, kalau kita pergi ke Sampang kita lihat  bagaimana kondisi di pengungsian terisolasi daerahnya, ekonomi butuh penguatan. Ini langsung atau tidak berdampak pada konflik kemarin.
 
Ada juga yang menyebutkan targetnya sebelum lebaran sudah bisa pulang bagaimana?

Kalau bisa seperti itu syukur. Tapi saya sebagai orang yang terlibat didalamnya tidak menjamin, tidak menjanjikan sebelum lebaran selesai. Padahal keamanan, kesiapan mereka belum benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Dari sekitar empat kali pertemuan ini menurut catatan anda apa kira-kira yang selama ini menghalangi proses penyelesaian masalah?

Ada komunikasi bersinggungan antara pengungsi dengan masyarakat secara umum. Tidak semua sinis tentang pengungsi yang seluruhnya benar, kalau itu justru memperuncing persoalan.   

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Aplikasi LAPOR Dinilai Tidak Efektif Tanggapi Laporan Masyarakat