Perlu Sanksi Berat bagi Pemburu Gading Gajah

KBR68H, Jakarta - Pertengahan Juli lalu seekor Gajah Sumatera bernama Geng mati di Desa Ranto Sabon, Kecamatan Sampoinet Kabupaten Aceh Jaya, Aceh.

BERITA

Kamis, 25 Jul 2013 21:57 WIB

Author

Nur Azizah

Perlu Sanksi Berat bagi Pemburu Gading Gajah

pemburu gading, gajah sumatera, aceh

KBR68H, Jakarta - Pertengahan Juli lalu seekor Gajah Sumatera bernama Geng mati di Desa Ranto Sabon, Kecamatan Sampoinet Kabupaten Aceh Jaya, Aceh. Sepekan kemudian bayi Gajah bernama Raju juga tewas akibat kurang gizi. Peristiwa ini bukan kali ini saja terjadi. Tahun sebelumnya 30 ekor Gajah ditemukan mati dalam kondisi gading dan kepalanya hilang.

LSM lingkungan internasional WWF mengindikasikan matinya gajah terkait dengan perburuan binatang tambun ini. "Ini jelas ada perdagangan ilegal yang sudah terorganisir,"terang aktivis WWF Chairul Saleh. WWF meminta agar pemerintah menelusuri perdagangan ini mulai dari pemburu, penampung hingga negara tujuan.

Gajah Sumatera merupakan subspesies gajah Asia yang habitatnya hanya ada di pulau Sumatera. Mamalia terbesar di Indonesia ini berpostur lebih kecil dari Gajah India. Survei tahun 2000 menyatakan Gajah Sumatera yang tersisa di alam liar hanya sekitar 2000 – 2700 ekor. 65% populasi gajah Sumatera lenyap dibunuh manusia. 30% lainnya diracuni manusia.

"Lembaga kami melihat ini situasi memprihatinkan sekaligus ancaman serius yang berpotensi menimbulkan konflik antara Gajah dengan manusia," ujar Chairul. Ia menambahkan, konflik antara Gajah dan manusia juga dipicu menyempitnya habitat mereka yang kini hanya tersisa 15%. Termasuk adanya anggapan jika binatang gemuk ini adalah hama atau racun.

Sejak Desember 2011 lalu Red list book IUCN (the International Union for Conservation of Nature) mendaftarkan nama  Gajah Sumatera berstatus terancam punah (critically endangered), dan Appendix I CITES sejak tahun 1990.

"Padahal secara nasional dia (Gajah-red) adalah satwa dilindungi yang artinya berhak mendapat perlindungan dimanapun dia berada. Secara tegas pasal 21 UU nomor 5/90 jelas melarang perburuan satwa dilindungi," tegas Chairul.

Pasal 21 ayat (2) UU nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya berbunyi, "Setiap orang dilarang untuk : a. menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; b. menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati; c. mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; d. memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; e. mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan atau sarang satwa yang dillindungi."

Matinya gajah Sumatera bukanlah peristiwa sembarangan. Sayangnya masih banyak masyarakat kita yang lebih memilih prestis untuk mengoleksi gading Gajah ketimbang mematuhi aturan dengan menjaganya dari kepunahan. "Kita berharap ada penegakan hukum serius dengan menindak pelaku. Jangan sampai ini jadi preseden buruk karena tidak ada sanksi berat," tukas Chairul.

Tradisi Sinabung Penghalang

Kepala Balai Konservasi Sumberdaya Daya Alam Aceh Amon Zamora menyatakan, kepolisian telah mengantongi sejumlah nama, termasuk kepala desa Ranto Sabon yang kini sudah ditetapkan sebagai tersangka. Polisi, kata Amon, mengklaim kepala desa mengakui membunuh Gajah dengan jerat Sinabung Penghalang.

"Yang nemanya Sinabung Penghalang ini tinggi sekali yang dipasang kayu kelapa yang ujungnya dipasang linggis disambungkan dengan tali ke bawah. Kalau gajah lewat, dia akan jatuh dan menghantam gajah. Yang kami tahu disini, Aceh Tenggara dan Aceh Jaya yag biasanya melakukan itu. Di daerah lain tidak," terang Amon.

BKSDA Aceh mencatat dalam kurun tahun 2000 - 2008, sebelas Gajah Sumatera mati akibat perangkat tersebut. "Biasanya begitu kena senebong mereka langsung potong gadingnya. Kemarin, diambil dari tengkoraknya atau rahangnya. Ini indikasi adanya komersialisasi. Karena tidak dipotong saja, tapi dari pangkal gading. Ini Kejahatan melanggar pasal 78 UU Kehutanan," ungkap Amon. 

Mei 2012, konflik antara Gajah dan manusia juga menewaskan Gajah. Kejadian ini terjadi di Gampong, Rantau Kuyun, dan kini di Ranto Sabon.

Jalur Makanan Baru

"Gajah hidup untuk makan." Demikian kata Kepala BKSDA Aceh Anom Zamora. Jalur makanan makhluk yang memiliki daya ingat luar biasa atas logistiknya itu, kini berubah pesat. Jalur makanan Gajah Sumatera kini berubah menjadi perkampungan dan kawasan konsesi pertambangan. Konflik pun tak terelakkan.

Untuk itu, kata Amon, pihaknya tengah mengusulkan agar dibuka jalur makanan baru bagi binatang Herbivora yang sangat cerdas ini. "Jalur ini dianggarkan untuk makanan gajah seperti tebu dan bambu. Ada 250 jenis makanan Gajah yang dianggarkan BKSDA, Pemda, dan Bappeda. Nantinya yang menanam masyarakat sekaligus menjaga jalur gajah," ungkap Amon.

Amon optimistis jika jalur baru rampung, konflik antara gajah dan manusia pun akan berkurang.  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme