Menjelajah Mainan Tradisional dalam Pagelaran Bocah

Pernah main egrang, lompat karet, congklak atau gobak sodor? Ah jangan-jangan Sobat Teen asing dengan nama-nama permainan ini.

Kamis, 18 Jul 2013 11:27 WIB

Author

Nurika Manan

Menjelajah Mainan Tradisional dalam Pagelaran Bocah

Pagelaran Bocah, UI, Permainan Tradisional, anak-anak

Pernah main egrang, lompat karet, congklak atau gobak sodor? Ah jangan-jangan Sobat Teen asing dengan nama-nama permainan ini. Permainan-permainan itu memang mulai tenggelam, tergantikan game dari komputer atau gadget-gadget di sekitar kita. Padahal, selain asyik, permaiann itu juga menyehatkan karena memacu tubuh kita bergerak. Bermula dari semakin jarangnya permainan itu muncul, kakak-kakak dari Rumah Belajar Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menghidupkan lagi ingatan tentang permaianan tradisional lewat Pagelaran Bocah 2013. Mau tahu gimana serunya Kak Ika Manan ikut bergabung dalam gelaran itu? Simak langsung di Cerita Kita.


“Mau berkebun, melukis, sulap juga dongeng,” seru Paula dengan bersemangat tentang kegiatan yang akan ia ikuti di Pagelaran Bocah.  “Udah main-main, main karet, balap karung, main congklak, main gangsing dan yoyo. Senang karena kalau di rumah enggak ada mainan kayak gitu. Kalau di rumah mainnya apa? Mainnya paling hape (handphone). Terus dapat pengalaman baru soalnya saya enggak punya balap karung,” kata Afisena yang sudah duluan mencoba beragam permainan.


Wah wah wah, senang betul kayaknya nih teman kita, Paula dan Afisena yang sedang berada di tengah-tengah acara Pagelaran Bocah 2013. Pagelaran Bocah adalah rangkaian acara yang digagas kakak-kakak Rumah Belajar Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) untuk kita-kita Sobat Teen! Acaranya digelar Maret lalu.


Mulai dari karnaval dengan kostum beragam profesi, seminar untuk orangtua kita saaaaampai pentas seni, juga sajian permainan tradisional.
Pagi itu, puluhan teman kita berlarian dari satu stand ke stand lainnya. Menjajal permainan-permainan yang ditawarkan, mulai dari main sulap, berkebun, bermain congklak, lompat karet, egrang, bermain layangan saaaampai dongeng kejujuran.


Yang senang bukan anak-anak saja loh. Para orangtua juga turut bernostalgia dan ikut seru-seruan. Seperti Pak Sahawi dari Depok. “Biasanya sekarang anak-anak kan mainnya ke mall, ada handphone. Kalau seperti ini kan senang, belum ada yang menampilkan permainan tradisional. Saya sebagai orangtua mengingat permainan ini, permainan yang sejak nenek moyang ini kan ya bagus. Sekarang juga bagus, tapi kalau tidak dikontrol seiring dengan kemajuan teknologi. Permainan sekrang kan pengaruh elektronik itu tidak semuanya positif. Seperti game itu kalau kelamaan kan juga tidak sehat. Kalau permainan (tradisional) seperti ini kan sehat,” tutut Pak Sahawi.


Acara yang baru pertama kali digelar di UI ini memang tidak hanya bertujuan untuk anak-anak Sobat Teen, tapi juga untuk orangtua. “Kita ingin menunjukkan kalau anak-anak itu harus digali apa saja yang mereka punya. Makanya kita juga ada lomba, pensi, selain kegiatan akademis. Terus kita juga lihat, anak-anak itu sebagian sudah lupa sama permainan yang kita punya dulu, yang cuma bisa kita rasain zaman dulu, yang sekarang sudah lenyap. Bahkan yang diketahui hanya permainan digital. Makanya kami ingin mengembalikan kalau permainan tradisional itu juga milik kita, budaya kita,” kata salah satu panitianya, Kak Zizi.


Sobat Teen, Kak Zizi juga berharap, lewat permainan-permainan tadi kita jadi berani mencoba hal baru, percaya diri dan menginspirasi teman-teman lainnya berkreasi.


Harapan Kak Zizi ternyata sesuai dengan yang dirasakan teman kita yang satu ini Teguh Egi yang masih kelas 5 di SDN Pondok Cina 05 Jakarta. Teen Voice ngajak ngobrol Egi di tengah keasyikannya main egrang Sobat Teen. “Pengen ikut bermain, main layangan, balap karung dan enggrang. Senang, bisa bikin lebih senang, bikin fresh, lebih percaya diri juga soalnya bisa menampilkan ke orang banyak kalau saya bisa main enggrang dan layangan,” kata Egi.


Kalau teman kita yang lain, Fahriani Azzahra dari SDN Pondok Cina 5 Jakarta ini ingin gelaran seperti ini lebih sering diadakan. “Habis main enggrang, yoyo, gangsing sama balap karung. Senang kak, pengennya sih bisa lebih sering ada kayak ginian, ada permainan-permainan tradisional,” ujar Fahriani. 


Nah. Iyaa, betul kata Riani. Semakin sering dihidupkan, semakin lestari lah permainan tradisional milik kita. Enggak kalah asyik kok dengan game dalam komputer atau gadget-gadget canggih. Malah senangnya dapat, sehat juga dapat!

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Perlindungan Hukum untuk Para Pembela HAM Masih Lemah