Kak Yenny Wahid: Orang Seperti Gus Dur Hanya Lahir Seabad Sekali

Rasanya hampir semua orang sepakat menyebut sosok Presiden RI ke-4 adalah sosok yang istimewa. Salah satunya adalah tindakannya yang seringkali dinilai kontroversial. Lalu, se-kontroversial apakah Gus Dur dimata anak-anaknya?

Kamis, 18 Jul 2013 13:36 WIB

Author

Teen Voice

Kak Yenny Wahid: Orang Seperti Gus Dur Hanya Lahir Seabad Sekali

Yenny Wahid, Gus Dur

Kita pasti memiliki ikatan dong ya dengan orangtua kita, baik ayah ataupun ibu. Begitu juga dengan putri Presiden ke-4 Indonesia ini Sobat Teen, Kak Yenny Wahid. Banyak hal yang tidak terlupakan dari nilai-nilai yang ditanamkan Gusdur kepada Yenny remaja. Salah satunya, menjadi diri sendiri, karena kita bukan ayah kita, bukan juga ibu kita, kita adalah kita. Wihhhhhhhh, kayaknya dalem banget yah Sobat Teen. Biar lebih kita simak yuk wawancaranya Kak Ika Manan sama Kak Yenny di Bincang Kita.


Apa yang paling teringat dari sosok Gusdur buat Kak Yenny?

Buat saya, Gusdur itu orang yang berani, berani untuk tidak populer demi menegakkan kebenaran, demi memperjuangkan keadilan, demi memperjuangkan apa yang diyakininya bisa mendatangkan manfaat bagi orang banyak. Beliau berani mengambil risiko, berani kemudian dikritik orang banyak asal bisa melindungi masyarakat yang dalam kondisi teraniaya. Terus Gusdur, yang paling berkesan dan teringat dari beliau adalah wawasannya sangat luas karena suka membaca. Jadi pesan saya untuk adik-adikku, banyak-banyaklah membaca, perbanyak ilmu. Dan harus berani berpikir, thinking outside the box. Artinya jangan pernah mengatakan ini nggak bisa, itu nggak bisa, belum apa-apa sudah nggak bisa dulu, meneyerah. Coba dulu sampai mentok atau berpikir yang kreatif. Karena generasi adik-adik ke depan itu berbeda dengan generasi kakek-nenek dan ayah-ibu kita, tantangannya berbeda. Dibutuhkan solusi yang berbeda untuk menghadapi permasalahan yang kita hadapi.


Yang juga ingin saya pesankan lagi, pelajarilah bahasa asing. Jadi kita tidak hanya berada dalam kotak kita sendiri. Nggak ngerti apa-apa. Walaupun anak kampung, harus berani bermimpi besar, bercita-cita besar, pergi ke luar negeri. Karena dunia kita sekarang sudah global. Kalau kita bisa kenal dengan orang dari negara lain, itu akan membuka wawasan kita.


Gusdur dulu begitu, dari muda sudah ke Mesir, Eropa, Iraq. Nggak punya duit, nggak punya. Tapi dulu beliau kerja. Dulu beliau pernah jadi tukang pel geladak kapal, kebayang kan geladak kapal luasnya kayak apa, dijalanin beliau. Terus jadi tukang laundry, cuci-setrika, itu dijalanin beliau. Supaya apa? Supaya bisa travel, supaya bisa berkelana ke mana-mana supaya pikirannya terbuka. Itu dibarengi dengan membaca buku, nambah lagi wawasannya.


Pesan yang Kak Yenny ingat dari ayah Kak Yenny untuk anak-anaknya ketika masih remaja tu apa?

Pesan dari ayah saya yang masih saya pegang adalah, Be Yourself, jadilah dirimu sendiri. Kita bukan orangtua kita, kita bukan kakek kita, kita bukan saudara kita, kita bukan teman kita. Nggak usah banding-bandingin sama teman kita. Oh si itu lebih cantik, si itu lebih kaya, ohh bapaknya lebih sukses, oh andaikan pacarku lebih ganteng. Tuhan sudah memberikan kelebihan, kekurangan, hidup kita ini adalah semua anugerah. Jadi kita syukuri, tapi juga kita maksimalkan potensi dan anugerah yang diberikan Tuhan sehingga menjadi berlipat-lipat. Nah kuncinya satu, kerja keras, ketekunan, semangat, dan be happy aja, jangan stress.


Terakhir Kak, apa yang menggambarkan Ayah Kak Yenny?

Beliau ituuu, Gusdur itu orang yang dilahirkan mungkin seabad hanya sekali orang seperti dia. Kalau orang-orang seperti kita-kita ini setiap berapa tahun itu adalah pasti. Tapi kalau Gusdur, seratus tahun baru ada lagi. Sedemikian istimewanya beliau.

 

Kak Yenny Wahid, putri kedua Abdurahman Wahid atau yang biasa disapa Gusdur ini memiliki nama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid. Kakak kelahiran Jombang, Jawa Timur 29 Oktober ini adalah seorang aktivis Islam dan politisi Indonesia. Selain itu Kak Yenny juga pernah terpilih sebagai ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Kak Yenny juga pernah mendampingi Ayahnya dengan posisi staf khusus presiden Bidang Komunikasi Politik. Sebelumnya, Kak Yenny bertugas sebagai reporter di Timor-Timur dan Aceh. Ia menjadi koresponden koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne) pada 1997 dan 1999. Saat itu, meski banyak reporter keluar dari Timor Timur, Kak Yenny tetap bertahan dan melakukan tugasnya. Ia sempat kembali ke Jakarta setelah mendapat perlakuan kasar dari milisi, namun seminggu kemudian ia kembali ke sana. Liputannya mengenai Timor Timur pasca referendum mendapatkan anugerah Walkley Award. Iiiiihhhhh, Kak Yenny perempuan pemberani dehhh!

 
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18