Anak Syiah Sampang Ingin Pulang

Anak jemaah Syiah di Sampang, Madura selama sembilan bulan dipaksa mengungsi ke gedung olah raga yang jauh dari bersih. Sekolahpun tak bisa.

Kamis, 18 Jul 2013 12:42 WIB

Author

Nurika Manan

Anak Syiah Sampang Ingin Pulang

anak, syiah, sampang, madura, pengungsian

Home sweet home. Rumah itu memang tempat yang biasanya membuat kita nyaman. Nah bisa dibayangkan dong apa rasanya bila dipaksa meninggalkan rumah lalu tinggal di tempat lain yang jauh dari nyaman.  Ini dialami sama Sobat Teen anak jemaah Syiah di Sampang, Madura. Sembilan bulan lamanya mereka dipaksa mengungsi ke gedung olah raga yang jauh dari bersih. Sekolahpun tak bisa. Kak Ika Manan mendengarkan cerita orangtua mereka yang cemas dan kuatir akan anak-anak mereka. Kita simak yuk di Cerita Kita.


Sebanyak sepuluh orangtua anak-anak jamaah syiah di Sampang, Madura rela bersepeda dari Surabaya, Jawa Timur ke Jakarta.  15 belas hari berpeluh mereka sampai juga ke kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Ini demi anak-anak mereka.


Konflik berlatar agama yang tak kunjung selesai menyebabkan anak-anak mereka terpaksa meninggalkan kampung halaman, mengungsi. Mereka ingin pulang, kembali ke rumah.


Selama mengungsi mereka ditempatkan di gedung olahraga (GOR) Sampang. Tapi sepekan terakhir, gedung olah raga yang jadi rumah sementara itu pun tak boleh lagi ditempati. Mereka diminta pergi. Tapi tak bisa lagi kembali ke rumah. Lalu kemana? Kabarnya mereka akan dipaksa ke suatu tempat yang sudah dipilih pemerintah daerah.


Sejumlah lembaga pemerintah sudah berkunjung dan berdialog dengan pemerintah daerah, tapi nihil. Mereka tetap tidak diperbolehkan kembali ke kampung halamannya.


Padahal, dengan tetap berada di pengungsian, teman-teman kita ini tidak mendapatkan hak pendidikan dan kesehatannya. Salah seorang warga, Bapak Rosyid menceritakan bahwa udah sembilan bulan lebih anak-anak mereka tidak bersekolah."Selama sembilan bulan itu tidak dipedulikan. Ya anak-anak itu sudah mengatakan, bukan cuma dikasih uang. Yang paling utama, kata anak-anak itu, bagaimana kita bisa pulang kembali ke kampung halaman kita sendiri. Dan bagaimana mendapatkan pendidikan lagi. Karena kita ini di sini nganggur. Kita ini rugi. Kemauan kita bukan cuma dikasih uang, dikasih makan. kita ini masih usia muda," cerita Pak Rosyid.


Bapak satu anak itu jelas saja cemas akan kesehatan dan masa depan anaknya. Dari 158 pengungsi di GOR Sampang, 58 di antaranya anak-anak dan balita Sobat Teen. Mendengar cerita pilu itu, Ketua KPAI Ibu Badriah Fayumi langsung menjanjikan akan menyurati pemerintah Kabupaten Sampang, Madura agar hak pendidikan dan kesehatan itu segera terpenuhi. Segera setelah pleno anggota KPAI.
“Mendapat laporan bahwa hak-hak pendidikan, hak-hak kesehatan dasar ternyata sama sekali masih kurang memperhatikan kebutuhan anak. Tentu kita akan segera follow up kepada pemerintah Kabupaten Sampang. Karena memang aturannya sudah jelas, kalau warga dalam pengungsian, memang harus, mereka berhak mendapatkan fasilitas kehidupan yang layak. Jadi kayak tadi misalnya, mandi saja sudah tidak bisa, harus menunggu air hujan, ini kan sudah ada tindakan yang membuat warga kita diperlakukan tidak manusiawi,” kata Ibu Badriah.
Bu Badriyah juga akan bertemu dengan Komnas Perempuan dan Komnas HAM untuk membahas rekomendasi penyelesaian kasus di Sampang secara menyeluruh Sobat Teen.


Mendengar kabar teman kita itu, Jeremy dari SMA Advent Salemba 2 Jakarta mengungkapkan rasa simpatinya. Jeremy meminta pemerintah menuntaskan masalah itu. “Kalau menurut saya, kalau cuma dari mulut ke mulut saja pasti pemerintah cuma bilang dibantu (diselesaikan) tapi kenyataannya, kerjanya kita juga enggak tahu. Harusnya pemerintah langsung turun ke lapangan, dia lihat anak-anak di pengungsian itu, biar bisa mikir, oh iya kalau saya ada di posisi mereka gimana. Ya lebih baik pemerintah lihat ke sana, ke Madura. Kalau agama sih, masing-masing manusia kan memiliki kepercayaan masing-masing, ya itu enggak bisa dipaksa. Ya mau gimana lagi,” ujar Jeremy.


Betul Jeremy, kita enggak bisa maksa-maksa kepercayaan orang lain, kan itu juga diatur sama Undang Undang. Mahardika dari SMA Negeri 51 Jakarta juga sependapat nih. Terus dia bilang, sayang kalau teman-temannya itu tidak bersekolah, masa depan anak-anak sebayanya itu masih panjang. Kita masih muda, tambah Dika. “Ya menurut saya kalau buat yang di pengungsian, seenggaknya pemerintah memberi fasilitas kesehatan, juga dikasih (jaminan) untuk pendidikannya. Sayang juga kan kalau mereka akhirnya enggak sekolah,” kata Dika.
Tak elok rasanya kalau orang-orang yang sudah besar itu enggak paham soal pentingnya pendidikan buat generasi muda. Yah, mari kita mendoakan teman-teman kita di Sampang, agar persoalan ini segera tuntas. Dan teman kita mendapat hak pendidikannya, dijaga kesehatannya. (Nurika Manan)


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Mengenang Sosok Artidjo Alkostar

Kabar Baru Jam 8

Hari Musik Nasional dan Strategi Musisi Mencari Panggung

Kabar Baru Jam 7