"Sensor Diri", Senjata Bebas Masalah Gara-Gara Facebook

Sering menuliskan status di Facebook tapi kemudian diralat? Itu namanya "sensor diri". Ini senjata bebas masalah gara-gara status di Facebook

Kamis, 18 Jul 2013 18:29 WIB

Author

Sayulidewi

Facebook, Jejaring Sosial

Buat anak abg alias anak baru gede seperti kita ini, rasanya wajib deh buat memiliki akun di jejaring sosial. Salah satu jejaring sosial yang paling banyak diminati adalah Facebook. Di Facebook, kegiatan "wajibnya" adalah menuliskan status.
Namun ternyata sekarang makin banyak orang yang menyadari resiko yang akan mereka hadapai kalau mereka menuliskan sesuatu dalam status facebook mereka.

Makanya, tidak heran kalau kemudian banyak orang yang sudah mengetikkan ststus mereka namun kemudian menghapusnya setelah berpikir ulang. Atau mungkin sudah menjadikannya ststus namun kemudian status tersebut dihapus dan diganti oleh status lain. Itu semua dinamakan "sendor diri"

Dari sebuah penelitian pada sekitar 3,9 juta pengguna Facebook, ternyata didapatkan hasil bahwa tidak sedikit dari para koresponden ini yang mengurungkan mem-posting status mereka.

Carnegie Mellon, mahasiswa PhD Sauvik Das dan Adam Kramer dari Facebook sebagai salah satu peneliti bilang dalam penelitian ini mereka mengukur berapa banyak orang mengetik lebih dari lima karakter ke Facebook tapi kemudian tidak pernah mengirimnya.Mereka mengistilahkannya sebagai 'sensor diri di menit terakhir'.

Penelitian ini juga menemukan, sepertiga dari semua posting Facebook merupakan sensor diri. Sebanyak 71 persen dari semua pengguna yang disurvei pernah melakukan sensor diri dalam penulisan posting baru atau komentar.

Bagian yang paling menarik dari studi ini mungkin adalah korelasi demografi terkait dengan sensor diri. Pria lebih sering melakukan pembatalan penulisan status, terutama jika mereka memiliki sejumlah besar teman-teman pria. Menariknya, orang dengan lebih kelompok teman beragam umur, afiliasi politik, dan gender kurang mungkin untuk melakukannya.

Hasil penelitian ini mungkin tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya dimana Penelitian sebelumnya juga menemukan lima alasan orang memilih untuk tidak berbagi apa yang telah mereka tulis yakni keengganan untuk memicu sebuah perdebatan, kekhawatiran status mereka akan menyinggung atau menyakiti seseorang, merasa status mereka membosankan, atau hanya tidak dapat memposting karena kendala teknologi.

Penasaran dengan hasil penelitian Das dan Kramer ini? Sobat teen bisa melihat hasil penelitian ini di website Das dan akan dipresentasikan pada konferensi Association for the Advancement of Artificial Intelligence tentang weblog dan media sosial pada Juli mendatang.(Mashable)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Saga Akhir Pekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18