Nadiem: Sekolah di Zona Hijau Boleh Tatap Muka, Keputusan ada pada Orang Tua

"Ini merepresentasikan pada saat ini, 94 persen daripada peserta didik di pendidikan dini, dasar, dan menengah, tidak diperkenankan untuk melakukan pembelajaran tatap muka,"

BERITA | NASIONAL

Senin, 15 Jun 2020 19:48 WIB

Author

Wahyu Setiawan

Nadiem: Sekolah di Zona Hijau Boleh Tatap Muka, Keputusan ada pada Orang Tua

Siswa SD mengerjakan ulangan melalui media daring di rumahnya, Desa Laladon, Kabupaten Bogor, Jabar, Senin (11/5). (Antara/Arif)

KBR, Jakarta-  Pemerintah memperbolehkan sekolah yang berada di zona hijau dibuka untuk proses pembelajaran tatap muka. Berdasarkan data Gugus Tugas per 7 Juni, ada 92 kota/kabupaten yang masuk zona hijau atau tidak terdampak Covid-19.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan, untuk tahap pertama yang boleh dibuka yakni untuk tingkat SMP ke atas. Sementara untuk tingkat SD dan SLB dibuka pada bulan ketiga sejak tahun ajaran baru, kemudian TK dan Paud baru boleh dibuka di bulan kelima.

"Kita telah mengambil keputusan di Kemendikbud, untuk daerah dengan zona kuning, oranye, dan merah, yaitu zona-zona yang   oleh Gugus Tugas  punya risiko Covid-19 dan penyebaran Covid-19, dilarang saat ini melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan. Ini merepresentasikan pada saat ini, 94 persen daripada peserta didik di pendidikan dini, dasar, dan menengah, tidak diperkenankan untuk melakukan pembelajaran tatap muka," Ujar Nadiem saat telekonferensi  pembukaan sekolah, Senin (15/06) sore. 

Mendikbud Nadiem Makarim menambahkan, pembukaan sekolah harus tetap didasari rekomendasi dan izin dari pemerintah daerah dan gugus tugas setempat. Meski begitu,  sekolah yang kembali dibuka tidak diperbolehkan memaksa anak didiknya untuk mengikuti pembelajaran tatap muka. 

Kata Nadiem, orang tua murid memiliki kuasa untuk mengizinkan atau tidak mengizinkan anaknya mengikuti proses pembelajaran di sekolah secara tatap muka.

"Keputusan akhir bahwa peserta didik itu masuk sekolah apa tidak, itu adalah ada di tangannya orang tua. Jadi walaupun sekolah itu membuka untuk pembelajaran tatap muka, sekolah itu tidak bisa memaksa orang tua yang tidak nyaman untuk anaknya pergi ke sekolah," jelasnya.

Nadiem menjelaskan, bagi sekolah yang boleh dibuka harus memenuhi kriteria dan mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. Seperti harus menyediakan sarana dan prasarana sanitasi, menetapkan area wajib masker, terdapat pemeriksaan suhu tubuh, dan terhubung dengan fasilitas kesehatan terdekat.

Selain itu, anak didik yang orang tuanya sakit, tidak diperbolehkan untuk berangkat ke sekolah. Begitu juga dengan guru, jika memiliki penyakit penyerta atau komorbiditas, tidak diizinkan mengajar muridnya.

Ia menekankan, pembukaan sekolah ini mempertimbangkan aspek kesehatan dan keselamatan bagi peserta didik dan guru di sekolah. 

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - BERITA

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Eazy Passport, Solusi Ditjen Imigrasi di Masa Pandemi

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17